DetikNews
Kamis 20 September 2018, 14:38 WIB

Eks Anggota DPR Amin Santono Didakwa Terima Suap Rp 3,3 M

Faiq Hidayat - detikNews
Eks Anggota DPR Amin Santono Didakwa Terima Suap Rp 3,3 M Amin Santono (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Mantan anggota DPR Amin Santono didakwa menerima suap Rp 3,3 miliar untuk mengupayakan alokasi tambahan Kabupaten Lampung Tengah dan Sumedang dalam APBN Tahun 2018. Suap itu diberikan Kadis Bina Marga Lampung Tengah Taufik Rahman dan Direktur CV Iwan Binangkit Ahmad Ghiast.

"Menerima hadiah atau janji yaitu menerima uang tunai Rp 3,3 miliar," ujar jaksa KPK Abdul Basir saat membacakan dakwaan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (20/9/2018).

Awalnya Amin dikenalkan pada Eka Kamaludin yang berperan sebagai perantara dalam kasus ini. Dalam beberapa pertemuan, Amin sepakat dengan usulan Eka untuk mengupayakan beberapa kabupaten atau kota mendapatkan tambahan anggaran dari APBN.

Dari situlah, Amin meminta Eka mengajukan proposal penambahan anggaran. Tak lupa, Amin meminta fee 7 persen dari total anggaran yang nantinya diterima. Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Amin dan Eka bertemu Kasi Pengembangan Pendanaan Kawasan Perumahan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Yaya Purnomo. Dalam pertemuan itu, Yaya pun bergabung dalam 'permainan' tersebut.




"Eka mengajak mantan anggota DPRD Kabupaten Kuningan Iwan Sonjaya mencari daerah-daerah yang ingin mengajukan usulan tambahan anggaran dengan kompensasi fee untuk terdakwa Amin 7 persen," kata jaksa.

Salah satu daerah yang kemudian bersedia yaitu Kabupaten Lampung Tengah. Proposal pun diajukan dengan nilai anggaran Rp 79 miliar. Amin pun meminta fee yang dijanjikan segera direalisasikan.

Kadis PU Kabupaten Lampung Tengah Idawati Rudiyanto kemudian memberikan Rp 2,8 miliar untuk Amin melalui Eka. Selain itu, Eka juga mengantongi Rp 465 juta untuknya sendiri. Kemudian dari kontraktor bernama Ahmad Ghiast, Eka menerima Rp 500 juta untuk Amin dan Rp 10 juta untuknya sendiri. Uang itu untuk mengupayakan Kabupaten Sumedang mendapatkan alokasi tambahan anggaran dari APBN.

Amin diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.




Peran Eka sebagai Perantara Suap

Selain Amin, jaksa KPK membacakan dakwaan untuk Eka. Dia didakwa menerima uang untuk Amin. Awal perkenalan Eka dengan Amin terjadi saat anak Amin, Yosa Octora Santono, akan maju dalam Pilkada Kabupaten Kuningan.

"Terdakwa dikenalkan Amin Santono oleh Yosa. Anggota Komisi IX merupakan mitra kerja Kementrian Keuangan dan berwenang mengusulkan anggaran," ujar jaksa.

Eka pun bersepakat dengan Amin 'bermain' anggaran melalui proposal pengajuan tambahan anggaran untuk daerah. Jaksa menyebut mantan anggota DPRD Kabupaten Kuningan Iwan Sonjaya turut bergabung dalam 'tim' Eka-Amin tersebut.

"Selain dari Kabupaten Lampung Tengah, Eka dan Iwan juga mencari dan mengumpulkan beberapa proposal daerah di antaranya, Kabupaten Ciamis, Kota Tual, Provinsi Maluku, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Garut, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kampar untuk diserahkan kepada Amin," kata jaksa.

Dari hasil bergerilya itu, ada 3 proposal yang diterima yaitu Kabupaten Lampung Tengah Rp 37 miliar, Kota Tual Rp 69 miliar, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Rp 40 miliar. Ketiga daerah itu menyerahkan proposal karena setuju dengan syarat pemberian fee 7 persen.




"Uang yang telah diterima oleh Eka dari Taufik (Kadis Bina Marga Kabupaten Lampung Tengah Taufik Rahman) untuk diserahkan Amin Santono Rp 2,8 miliar. Eka memberikan uang Rp 300 juta untuk Yaya (Kasi Pengembangan Pendanaan Kawasan Perumahan Kemenkeu Yaya Purnomo)," ujar jaksa.

Adapun uang sisa komitmen fee Rp 75 juta diambil Eka untuk kepentingan pribadi dan tim.

Untuk Kabupaten Sumedang, Eka menemui Ahmad Ghiast yang biasa mengerjakan barang dan jasa di Sumedang. Ahmad dan Eka kemudian menemui Amin untuk menyerahkan proposal anggaran. Ahmad pun menyanggupi untuk memberikan uang muka komitmen fee 7% untuk Amin.

"Ahmad Ghiast mengirimkan uang Rp 510 juta untuk Amin Santono melalui rekening Eka," ujar jaksa.


Tonton juga 'Amin Santono Terima Suap dari Proyek di Sumedang':

[Gambas:Video 20detik]


(fai/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed