detikNews
Jumat 31 Agustus 2018, 12:19 WIB

Banyak Konten Negatif, Penggunaan Gadget di Sekolah akan Dibatasi

Yulida Medistiara - detikNews
Banyak Konten Negatif, Penggunaan Gadget di Sekolah akan Dibatasi Kesepakatan pembatasan aturan penggunaan gadget di sekolah. (Yulida/detik)
Jakarta - Penggunaan gadget atau gawai di lingkungan sekolah tidak selalu membawa dampak positif karena internet juga mengandung konten negatif. Untuk itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise bersama 3 menteri lainnya berencana mengatur penggunaan gadget di sekolah.

Yohana bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kemendikbud yang diwakili Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud Chatarina Muliana G, serta Kementerian Agama yang diwakili Kepala Bidang Litbang dan Diklat Kemenag Abdul Rahman Mas'ud mencanangkan pernyataan menteri tentang pembatasan penggunaan gadget di satuan pendidikan.



Yohana mengatakan penggunaan gawai harus dibatasi di sekolah dan madrasah atau sekitar 8 jam sehari karena terdapat konten negatif, seperti pornografi, diskriminasi SARA, serta dampak terhadap psikologis anak dan kesehatan. Ia menyebut maraknya kasus kejahatan seksual terhadap anak juga diakibatkan konten pornografi.

"Berkaca dengan hal itu, maka sudah saatnya kita harus bertindak untuk mengurangi jumlah jam anak dalam memakai gawainya. Untuk itu, para orang tua, masyarakat, lembaga pendidikan, dan kementerian lembaga harus melakukan hal yang sama jika kita masih sayang anak anak kita," kata Yohana di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (31/8/2018).

Ia mengimbau penggunaan gadget di sekolah hanya untuk mengakses hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Ia menyebut nantinya akan ada surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri ini untuk mengusulkan pembatasan penggunaan gadget di sekolah.



"Kami beberapa menteri, Bapak Kominfo dan saya, termasuk perwakilan Kemendikbud dan Kemenag, telah menyatakan ministrial statement untuk membatasi penggunaan gawai di sekolah dan madrasah. Kami mengharapkan dengan adanya statement yang sudah kami buat berempat, maka ke depan bisa diimplementasikan di setiap sekolah dan juga madrasah," ucap Yohana.

Sementara itu, Menkominfo Rudiantara mengatakan anak harus didampingi dan diawasi saat menggunakan gadget. Ia menyebut orang tua harus memberikan pengertian kepada anak dalam mengawasi konten yang diakses.



"Saya Menteri Komunikasi dan Informatika mengimbau agar masyarakat, khususnya orang tua, guru, dan pendidik pada institusi formal dan informal, untuk proaktif memantau dan tetap memegang kendali atas penggunaan gawai anak dan peserta didik, baik dengan cara pembatasan waktu dan materi yg di akses, menanamkan pengertian dan mengajak diskusi tentang yang dampak negatif yang timbul dari penggunaan gawai dn konten di dalamnya," ujar Rudiantara.

Sedangkan Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud Chatarina Muliana menambahkan Kemendikbud menyatakan sekolah diharapkan menyusun tata tertib pembatasan penggunaan gadget di sekolah. Hal itu untuk mencegah anak terpapar konten negatif, seperti pornografi, baik yang diakses melalui internet maupun saling tukar antarteman.

"Satuan pendidikan bersama orang tua dan komite sekolah diharapkan menyusun tata tertib sekolah untuk melakukan pembatasan penggunaan gawai di satuan pendidikan dan menentukan kebijakan penggunaan gawai yang tepat sebagai media masing-masing sekolah dengan memberikan kesempatan belajar dan keamanan sebagai tujuan utama," ujar Chatarina.


Kemendikbud Pamerkan Hasil Karya Seni Pasien RSJ, tonton videonya di sini:

[Gambas:Video 20detik]



Sementara itu, Abdul Rahman Mas'ud menyambut baik rencana pembuatan SKB tentang pembatasan penggunaan gawai di sekolah dan madrasah ini. Nantinya kelanjutan SKB tersebut akan dibahas lebih detail di satuan eselon I.

"Saya membacakan pernyataan Menag, saya Menag RI mengimbau agar seluruh masyarakat, khususnya orang tua dan satuan pendidikan agama, seperti madrasah, pondok pesantren, untuk meningkatkan peran pengawasan penggunaan gawai demi melindungi mereka dari paparan konten negatif hoax, diskriminasi SARA, pornografi. Hal demikian dilarang karena merendahkan nilai kemanusiaan yang harusnya dijunjung tinggi umat beragama serta membahayakan persatuan bangsa," ucap Abdul.
(yld/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com