detikNews
Selasa 21 Agustus 2018, 09:23 WIB

Kampanye soal Polusi Udara, Greenpeace Ingatkan Bahaya Bagi Atlet

Nur Azizah Rizki - detikNews
Kampanye soal Polusi Udara, Greenpeace Ingatkan Bahaya Bagi Atlet Lokasi baliho kampanye soal kualitas udara oleh Greenpeace (Foto: Nur Azizah/detikcom)
Jakarta - Greenpeace Indonesia mengampanyekan soal kualitas udara di Jakarta yang dinilai tidak sehat. Salah satunya lewat tagar #WeBreatheTheSameAir yang dipasang pada baliho di sekitar kawasan Senayan.

"Kita campaign-nya kita mem-booking satu tempat untuk memasang pesan, hashtag-nya adalah #WeBreatheTheSameAir. Jadi kita menghirup udara yang sama. Kenapa? Karena kita bisa melihat dari angka kualitas udara dari satu bulan ini bahwa dari 1 bulan ini, 22 harinya itu kebanyakan tidak sehat. Jadi kita cari data dari US Embassy, kalau bicara data PM 2.5 itu ada data dari stasiun US Embasssy yang bisa di-download, itu bisa download bahkan dari tahun 2015. Kita bisa rekap ternyata di Jakarta dari 2 stasiun itu, kita bisa bilang sebulan terakhir, 22 harinya tidak sehat," kata Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (21/8/2018).


PM 2.5 yang dimaksud adalah Partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Menurutnya, angkat PM2.5 ini belum masuk dalam pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diterapkan di Indonesia. Akibatnya, sering terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dengan pihak lain yang melakukan pengukuran kualitas udara.

"Kenapa kita angkat ini, kita menghirup udara yang sama, karena PM 2.5 ini belum jadi masuk hitungan dalam penghitungan untuk menggambarkan kondisi kualitas udara di Jakarta. Bahkan kalau dari KLHK sendiri untuk menghitung kualitas udara itu masih mengacu pada ISPU, Indeks Standar Pencemar Pencemaran Udara, yang itu belum ada PM 2.5nya. Tapi uniknya ternyata untuk standar PM 2.5 ada nih, karena dalam PP 41 tahun 1999 itu mengatakan standar PM 2.5 adalah 65 mikrogram/m3 dalam 24 jamnya. Artinya sudah ada hitungan, tapi untuk mem-publish udara itu sehat atau tidak sehat, PM 2.5 belum masuk hitungannya," tuturnya.


Dia pun mengingatkan soal dampak tidak sehatnya kualitas udara terhadap para atlet Asian Games. Bondan menilai para atlet rentan terpapar polusi udara karena aktivitas fisik yang dilakukan.

"Siapapun akan terpapar polusi udara itu ada dalam udara yang kita hirup terutama PM 2.5-nya. Nah bicara soal atlet, karena atlet ini dia punya kerja jantung yang lebih dibandingkan orang yang tidak olahraga, pastinya akan cenderung lebih terpapar polutan lebih tinggi ketimbang kita yang tidak olahraga, karena jantungnya kerja lebih banyak. Sehingga ketika polusi udara itu ada di sekitar si atlet, otomatis si atlet itu akan terpapar lebih banyak. Makanya concern-nya akan sangat tinggi," ucapnya.



Tonton juga video: 'Potret Keseruan Agustusan di Situbondo dan Kampanye Kali Bersih'

[Gambas:Video 20detik]


(haf/haf)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com