DetikNews
Kamis 16 Agustus 2018, 16:28 WIB

Misteri Hilangnya Supriyadi PETA, Ini Data Pengadilan Jepang

Erliana Riady - detikNews
Misteri Hilangnya Supriyadi PETA, Ini Data Pengadilan Jepang Yono yang mengaku Supriyadi (yakub/detikcom)
Blitar - Fenomena orang mengaku komandan PETA Supriyadi ternyata jamak ditemui di Kota Blitar. Namun tak satu pun dari mereka yang mampu membuktikannya dengan data dan fakta. Lalu bagaimana dengan data yang dimiliki Jepang?

Penulis sejarah yang dipercaya Pemkot Blitar, Bambang In Mardiono mengakui banyaknya fenomena orang mengaku Supriyadi.

"Seperti Andaryoko orang Semarang yanh ditulis oleh Romo Teguh Wardoyo dalam bukunya 'Kembalinya Supriyadi'. Ketika bedah buku di perpustakaan Bung Karno Blitar, telah dipatahkan oleh berbagai argumen dari para sesepuh eks anggota PETA. Seperti Pak Sukiyarno, Pak Moesadi, Pak Suroto adik pak Soepriyadi termasuk saya yang ditunjuk oleh Pak Djarot Saiful Hidayat (mantan Wali Kota Blitar) untuk mengklarifikasi hal ini," ucap Bambang yang akrab disapa Mbah Gudel ditemui di Perpus Bung Karno, Kamis (16/8/2018).

Akhirnya Andaryoko mengakui dia adalah putra wedono di Salatiga yang juga ikut menjadi anggota PETA Blitar. Dan juga bernama Supriyadi, tetapi bukan anak R.Darmadi seperti yang sebenarnya tercatat dan dikenal orang.


Dalam diskusi itu terungkap pula tidak ada 2 nama Supriyadi di Daidan Blitar. Dan ketika Andaryoko ditanya berbagai hal tentang keadaan Daidan Blitar, hanya mengatakan lupa. Atau bila menjawab tak pernah ada yang benar sesuai dengan kenyataan saat periode 1943-1945 waktu itu.

"Buku itu seharusnya sudah tidak layak edar," ungkap Gudel.

Buku tentang Pemberontakan Peta Blitar yang menjelaskan Supriyadi sudah banyak. Tentu dengan berbagai versi. Satu di antaranya Supriyadi lahir di Trenggalek tahun 1923. Dia putra pertama R Darmadi dengan istrinya Rahayu.
Misteri Hilangnya Supriyadi PETA, Ini Data Pengadilan Jepang

Darmadi pegawai pamong praja. Tahun 1925, Rahayu melahirkan lagi putra kedua bernama Wiyono. Namun mengalami keguguran. Ibu dan bayinya meninggal.

Tahun 1926, Darmadi menikah lagi dengan Susilih. Punya putra 11, Suroto adalah anak ke 9 dari 11 bersaudara itu.

Pendidikan Supriyadi sangat modern. Dia sebagai pelajar di HIS, MULO, di Kediri. Lalu melanjutkan ke MOSVIA di Magelang (tidak tamat), SMTA Surabaya.
Selesai Sekolah Pendidikan PETA di Bekasi diangkat sebagai Shodanco (setaraf letnan) dengan penempatan di Batalyon (Daidan) Blitar.

"Tentang hilangnya Supriyadi tidak ada fakta yang menjelaskan. Tetapi dalam keputusan pengadilan militer Jepang bersama anggota Peta yang lain putusan menyebutkan tiga point penting," ungkapnya.

Tiga putusan itu yakni:

1. Supriyadi dinyatakan hilang.
2. Enam orang dinyatakan hukuman mati.
3. yang lain ada yang dihukum seumur hidup, 15 tahun, 7 tahun dan lain-lain menyesuaikan tingkat kesalahannya.

Lalu bila memang Supriyadi sudah meninggal, mengapa Bung Karno menunjuk Supriyadi sebagai menteri dalam Kabinet pertama RI tanggal 19 Agustus 1945 sebagai menteri Keamanan Rakyat ?

"Itulah hebatnya Soekarno. Bahwa pengangkatan Soepriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat digunakan sebagai simbolik. Bahwa Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah Jepang. Dengan pemberontak kepada Jepang justru diangkat sebagai menterinya," tandas Gudel.

Cerita- cerita Supriyadi hilang setelah sampai di Gunung Gedang banyak versi dan kesaksian yang tidak memiliki bukti. Diketahui terakhir yang dapat dibuktikan, Supriyadi sempat tinggal di rumah Kepala Desa Sumber Agung Kecamatan Gandusari.

Dengan kesaksian beberapa orang termasuk kepala desanya (Harjo Miyarso) saat tim sejarah ABRI melakukan penelusuran di tahun 60-an.

Lalu, apakah benar yang diceritakan Darsono kemarin? Yang jelas Supriyadi tetap menyisakan misteri.



Tonton juga video: 'Heroisme Sukiyarno, Tentara PETA dan Misteri Hilangnya Supriyadi'

[Gambas:Video 20detik]


(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed