Melihat Jembatan Lapuk di Riau yang Jadi Akses Utama Warga

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Senin, 06 Agu 2018 11:43 WIB
Foto: Jembatan rusak di Inhil (chaidir/detikcom)
Pekanbaru - Jembatan usang yang dijadikan akses utama anak-anak sekolah tidak hanya di Kampar. Kondisi yang lebih parah lagi juga terdapat di Indragiri Hilir (Inhil) Riau.

Dari sejumlah foto yang diterima detikcom, Senin (6/8/2018), terlihat jembatan lapuk dengan tiang penyanggah dari kayu. Lokasi jembatan ini berada di Desa Teluk Kiambang, Tempuling, Inhil.

Diperkirakan sudah 10 tahun kondisi jembatan mengalami kerusakan. Jembatan dari kayu ini menghubungkan antara RT di desa tersebut. Jembatan kayu ini terlihat hanya disusun kayu-kayu sekedar bisa dilintasi untuk berjalan kaki.
Melihat Jembatan Lapuk di Riau yang Jadi Akses Utama WargaFoto: Jembatan rusak di Inhil (chaidir/detikcom)

"Yang kasihan, anak-anak sekolah kita. Karena jembatan ini miring-miring dan tidak rata. Tak ada penyanggah untuk pegangan ketika dilintasi," kata Ketua RT 6, Masrisal (35) dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (6/8/2018).

Masrisal menyebutkan, setiap pagi dan siang, ada 30 anak-anak SD yang bertaruh nyawa melintasi jembatan itu. Mereka harus berjalan berhati-hati untuk menuju ke SD 026 yang posisinya di seberang jembatan itu.

"Kami selalu khawatir kalau anak-anak melintas di atas jembatan itu. Kadang ada yang di antarkan orang tuanya, tapi lebih banyak anak-anak melintas sendirian," kata Masrisal.


Jembatan ini melintang di parit 8 desa setempat. Parit ini kondisinya pasang surut. Di bawah jembatan banyak tunggul-tunggul kayu. Bisa jadi bila ada yang terjatuh saat air surut terkena tunggul kayu. Bila kondisi air tengah pasang, anak-anak bila terjatuh bisa tenggelam.

"Jadi ya begitulah kondisinya. Yang paling kami khawatirkan itu anak-anak kami yang melintas di jembatan itu," kata Masrisal.

Masrisal menyebut, jembatan itu hanya bisa dilalui pejalan kaki saja. Untuk kendaraan roda dua tidak bia melintas di sana. Jembatan ini akses utama untuk menghubungkan antar RT di desa itu.

"Tak hanya anak sekolah saja, para orang tua juga menggunakan jembatan itu karena ini akses antar RT. Kami kalau mau salat jumatan juga harus nyeberang jembatan itu," kata Masrisal.

Masrisal menyebutkan, sebenarnya ada jembatan yang layak dilalui dengan kendaraan. Hanya saja, posisi jembatan yang dibangun pemerintah daerah itu berjarak 2 km dari desa mereka.

"Karena jauh, makanya jembatan inilah yang menjadi pengubung paling dekat antara RT. Anak-anak sekolah pun lebih memilih melintasi jembatan ini, dari pada harus mutar jauh ke jembatan yang lebih bagus," kata Masrisal. (cha/asp)