detikNews
Jumat 03 Agustus 2018, 13:32 WIB

KKP Bakal Jadikan Kapal Pencuri Ikan di Sabang sebagai Monumen

Parastiti Kharisma Putri - detikNews
KKP Bakal Jadikan Kapal Pencuri Ikan di Sabang sebagai Monumen Plt Dirjen Pengawasan dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo (Ardan Adhi Chandra/detikcom)
Jakarta - PN Sabang memvonis Matveev Aleksandr, nakhoda kapal ikan asing FV STS-50, bersalah dalam kasus pelanggaran perikanan (illegal fishing). Kapal yang digunakan untuk mencuri ikan itu pun dirampas untuk negara dan bakal dijadikan monumen edukasi.

"Kapal FV STS-50 sudah diputus pengadilan terbukti melakukan pelanggaran illegal fishing. (Dijadikan) monumen nanti. Dalam waktu dekat akan kita umumkan. Jadi sekarang kita persiapkan. (Tujuannya) untuk edukasi, juga untuk training," kata Plt Dirjen Pengawasan dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo di Gedung Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (3/8/2018).


Ia mengatakan pihak KKP masih mempertimbangkan apakah kapal tersebut akan dijadikan monumen bergerak atau diparkir di satu pelabuhan. Ia menuturkan FV STS-50 akan jadi kapal kampanye pemberantasan illegal fishing.

"Bisa (dijadikan monumen) dalam keadaan diam atau bergerak. Dijadikan campaign vessle, dikasih tulisan 'kapal yang ditangkap karena illegal fishing'," sebutnya.

Namun rencana itu masih menunggu proses pengadilan. Saat ini kapal berada di Sabang dan bakal dibawa ke Jakarta.

"Melihat perkembangan (dulu, apakah) mereka mengajukan banding atau tidak," ujar Nilanto.

"Kapal sekarang posisi di Sabang, nanti ditarik ke Jakarta," sambungnya.


Sebelumnya, PN Sabang memvonis Matveev Aleksandr (WN Rusia), nakhoda kapal ikan asing FV STS-50 berbendera Togo (Afrika), dengan pidana denda Rp 200 juta. Putusan ini lebih ringan daripada tuntutan jaksa penuntut umum, yang menuntut Matveev dengan denda Rp 300 juta.

Vonis terhadap terdakwa dibacakan majelis hakim di PN Sabang, Kota Sabang, Aceh, Kamis (2/8), dipimpin oleh ketua majelis Zulfikar dengan anggota Junita dan Nurul Hikmah. Jaksa penuntut umum ditugaskan kepada oleh Muhammad Rizza selaku Kasi Pidum Kejari Sabang dan Mawardi, sedangkan terdakwa hadir di persidangan tanpa didampingi penasihat hukum. Terdakwa hanya didampingi seorang penerjemah bahasa Rusia.



Tonton juga video: 'Inilah Alasan Kenapa Kapal Maling Ikan Harus Ditenggelamkan!'

[Gambas:Video 20detik]



KKP Bakal Jadikan Kapal Pencuri Ikan di Sabang Sebagai Monumen

(yas/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed