DetikNews
Selasa 31 Juli 2018, 14:47 WIB

Jejak Hitam JAD di Indonesia hingga Dibekukan

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Jejak Hitam JAD di Indonesia hingga Dibekukan Pimpinan JAD Zainal Anshori dalam sidang putusan di PN Jaksel. Foto: Zunita Amalia Putri/detikcom
FOKUS BERITA: JAD Dibubarkan
Jakarta - Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditetapkan sebagai korporasi yang mewadahi aksi terorisme. Majelis hakim pun membekukan JAD dan mewajibkan kelompok tersebut membayar denda Rp 5 juta.

"Menyatakan terdakwa Jamaah Ansharut Daulah atau JAD terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, menetapkan dan membekukan organisasi JAD berafiliasi dengan ISIS (Islamic State in lraq and Syria) atau DAESH (Al-Dawla Ill-Sham) atau ISIL (Islamic State of Iraq and levant) atau IS (Islamic State) dan menyatakan sebagai korporasi yang terlarang," ujar hakim ketua Aris Bawono membacakan amar putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera, Jaksel, Selasa (31/7/2018).



JAD dibentuk oleh Aman Abdurrahman alias Oman pada Oktober 2014. Hal ini terungkap dalam sidang kasus terorisme yang dibacakan oleh jaksa Anita Dewayani dari surat tuntutan yang dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera, Jumat (18/5).

"Adalah fakta, bahwa sekitar Oktober 2014, Aman Abdurrahman memanggil Marwan alias Abu Musa, Zainal Anshori alias Abu Fahry untuk datang menjenguknya di Lembaga Pemasyarakatan Kembang Kuning Nusakambangan, dan pada saat itu terdakwa menyampaikan tentang Daulah Islamiyah ISIS pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi, dan umat Islam wajib mendukungnya," kata jaksa Anita.



Aman kemudian menyarankan Abu Musa dan lainnya membentuk organisasi atau wadah sebagai pendukung ISIS. Aman kemudian menunjuk Abu Musa jadi pimpinan pusat JAD.

"Bahwa kemudian wadah tersebut oleh Marwan alias Abu Musa dinamakan Jamaah Ansharut Daulah atau JAD yang maknanya adalah jamaah pendukung daulah," kata jaksa Anita.

Sepak terjang JAD selama ini banyak melakukan penyerangan terhadap polisi. Aksi yang mereka lakukan bukan hanya dalam skala besar, tapi juga aksi perseorangan.

Berikut sejumlah aksi JAD berdasarkan catatan detikcom:

Bom Thamrin, 14 Januari 2016

Terjadi ledakan di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, dekat dengan pusat perbelanjaan Sarinah. 18 Orang kemudian ditangkap terkait peristiwa tersebut.

Peristiwa ini menewaskan 7 orang, termasuk para pelaku. Presiden Jokowi yang semula ada di Cirebon dalam rangka kunjungan kerja, langsung kembali ke Jakarta dengan helikopter dan menuju lokasi.

Presiden Jokowi langsung meninjau ke lokasi kejadian bom. Presiden Jokowi langsung meninjau ke lokasi kejadian bom. Foto: Setpres/Cahyo


Kapolda Metro Jaya saat itu, Irjen Tito Karnavian mengungkap soal sosok Bahrunnaim yang terkait ISIS. Tito menyebut peristiwa di Jl MH Thamrin waktu itu berkaitan dengan Bahrunnaim.

Saat menjadi Kepala BNPT, Tito kemudian menyebut peristiwa di Thamrin adalah ulah JAD. Bahrunnaim, kata Tito saat itu, berafiliasi dengan JADKN atau Jamaah Ansharut Daulah Khilafah Nusantara.

Pada sidang Aman Abdurrahman, terungkap bahwa aksi Bom Thamrin didorong oleh perintah pimpinan ISIS Al Baghdadi. Awalnya anggota JAD sebagai wadah pengikut khilafah islamiyah pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi mengadakan rapat pada November 2015 dengan menggunakan cover pengolahan pengobatan herbal. Setelah itu, pimpinan JAD Ambon Saiful Munthohir alias Ahmad Hariyadi bersama Khaidar Ali menemui Oman di Lapas Nuskambangan.

Dalam pertemuan itu, Oman mengajak Saiful ke pojok ruang sebab saat itu sedang ada kajian. Oman kemudian memprovokasi Saiful dengan menyampaikan perintah pimpinan khilafah.

"Ada perintah dari umaroh atau pimpiman khilafah dari Suriah untuk melaksanakan amaliah jihad seperti yang terjadi di Paris-Perancis dan teknis pelaksanaannya nanti akan disampaikan oleh Rois (Iwan Darmawan alias Rois)," kata Oman seperti saat disampaikan dalam dakwaan oleh jaksa Anita Dewayani di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Kamis (15/2).

Molotov di Gereja Oikumene Samarinda

Bom molotov meledak di depan gereja Oikumene di Jl Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Lo Janan Ilir, Samarinda, Kaltim, pagi tadi. Divisi Humas Mabes Polri menyebut korban berjumlah 4 orang luka-luka.

"Korban akibat ledakan tersebut berjumlah 4 orang dan dilarikan ke Rumah Sakit Muis, Samarinda," tulis Divisi Humas Polri dalam akun Facebooknya yang dilihat detikcom, Minggu (13/11/2016).

Foto korban bom di Gereja Oikumene Samarinda. Foto korban bom di Gereja Oikumene Samarinda. Foto: Ahmad Masaul Khoiri-detikcom


Ledakan bom molotov tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WITA. Ledakan terjadi di halaman gereja, ketika jemaat baru saja selesai melaksanakan ibadah. Anak-anak jadi korban dalam peristiwa ini.

"J pelaku pelemparan bom, yang bersangkutan mantan napi bom Puspitek Serpong, kelompok Pepy Vernando. Setelah bebas (J) bergabung dengan kelompok JAD Kaltim dan mempunyai link dengan kelompok Anshori di Jatim yang sekarang ini masih di supervisi karena indikasi akan beli/mendatangkan senjata api dari Filipina," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar kepada detikcom.

Penyerangan Polisi di Polda Sumut

Teror pada 25 Juni 2017 menyasar polisi di Polda Sumatera Utara. Dalam teror ini, satu orang polisi gugur karena diserang menggunakan senjata tajam

"Syawaluddin Pakpahan dan teman-temannya melakukan amaliyah dengan menyerang Mapolda Sumatera Utara dan membunuh anggota polisi. Syawaluddin Pakpahan meskipun tidak pernah bertemu muka dengan terdakwa namun sudah lama mengenal nama terdakwa dari buku Seri Materi Tauhid yang dikarang terdakwa dan dibaca dan dipahami Syawaluddin Pakpahan," kata jaksa dalam sidang Aman Abdurrahman, Jumat (18/5).

Penembakan Terhadap Polisi di NTB

Senin, 11 September 2017, teror penembakan anggota polisi di Bima NTB dengan pelaku Muhammad Iqbal Tanjung alias Iqbal alias Usamah bersama temannya.

"Muhammad Iqbal Tanjung juga mendapatkan pemahaman tauhid sebagaimana yang disampaikan terdakwa, antara lain tentang syirik demokrasi," ujar jaksa dalam sidang Aman Abdurrahman, Jumat (18/5).

Teror bom dan penyerangan ke anggota polisi menurut jaksa terjadi setelah dibentuknya Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pada pertemuan di Malang pada November 2014.

"Bahwa terdakwa juga menganjurkan para pengikut untuk hijrah ke Suriah untuk bergabung dengan Daulah Khilafah Islamiyah," papar jaksa.

Ledakan Bom Panci di Cicendo, Bandung

Pada Senin, 27 Februari 2017, terjadi ledakan bom panci di Cicendo, Bandung. Yayat Cahdiyat, pelaku ledakan tersebut tewas dalam penyergapan di Kelurahan Arjuna.

Tidak ada korban akibat ledakan itu. Tapi Yayat sempat dikejar warga serta pelajar, yang kebetulan berada di Taman Pendawa. Namun warga 'balik badan' setelah Yayat mengeluarkan senjata tajam. Yayat juga berteriak meminta rekannya yang ditahan Densus 88 dibebaskan.

Penyergapan pelaku bom Cicendo di Kelurahan Arjuna. Penyergapan pelaku bom Cicendo di Kelurahan Arjuna. Foto: Baban Gandapurnama-detikcom


Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut Yayat pernah masuk penjara karena divonis 3 tahun penjara terkait dengan kasus terorisme. Saat ini masih diselidiki dugaan adanya satu pelaku lain yang mengantarkan Yayat ke Taman Pendawa sebelum meledakkan bom panci.

"Yang bersangkutan ini (Yayat) sudah diketahui identitasnya. Dia sudah di-profile pernah ikut latihan di Jantho, Aceh Besar, dan dulu saat itu saya pimpin operasinya tahun 2011. Saat itu tertangkap sekitar 70 orang di dalamnya, termasuk dia. Dulu masuk dalam jaringan JAD," kata Tito di Surabaya, Senin (27/2).

Bom di Kampung Melayu

Aksi bom bunuh diri terjadi pada Rabu malam (24/5) lalu di Terminal Bus TransJakarta Kampung Melayu, Jakarta Timur. Polri menganalisis dua terduga pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur, yaitu AS dan INS, termasuk kategori lone wolf terrorist dalam kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Indikasi itu didasari material dan pola serangan pelaku.

Lokasi ledakan bom di Kampung Melayu. Lokasi ledakan bom di Kampung Melayu. Foto: Aditya Fajar/detikcom


"Dari awal sudah kita patut duga bahwa ini dilakukan oleh kelompok teror ISIS. Kelompok teror ini memiliki jaringan-jaringan, kemudian memiliki sel-sel. Sel-sel itu sendiri juga memiliki apa yang kami katakan sebagai lone wolf. Mereka yang bergerak sendiri-sendiri," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul di gedung Divisi Humas, Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (26/5).

Dalam sidang Aman Abdurrahman, terungkap bahwa aksi tersebut juga terkait JAD. Aman alias Oman pun divonis hukuman mati atas rentetan aksi JAD yang terjadi.



Tonton juga video: 'JAD Cuma Bisa Pasrah Dibekukan Pengadilan'

[Gambas:Video 20detik]


(bag/tor)
FOKUS BERITA: JAD Dibubarkan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed