Istana Batu Tulis, Tempat Mega Menjamu Prabowo dan Jokowi

Erwin Dariyanto - detikNews
Senin, 09 Jul 2018 20:34 WIB
Ketua Umum PDIP Megawati bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Batu Tulis. (Foto: Dok. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto)
Jakarta - Belum genap satu bulan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sudah dua kali menjamu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat. Pertama, pada Selasa, 13 Juni 2018, dan berikutnya, Minggu (8/7/2018) malam kemarin.

Empat bulan sebelumnya, Megawati juga mengundang Jokowi ke Istana Batu Tulis. Tepatnya tiga hari sebelum PDI Perjuangan pimpinan Megawati mendeklarasikan Jokowi sebagai calon presiden 2019-2024.



Istana Batu Tulis memang memiliki arti penting bagi Mega. Tak jarang, keputusan penting yang akan diumumkan Megawati dirundingkan dulu di istana kelangenan mendiang Presiden Sukarno tersebut.

Bagaimana sejarah Istana Batu Tulis?

Pada suatu ketika, di tahun 1960-an, Presiden Sukarno mengatakan kepada Cindy Adams, penulis buku otobiografinya, 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat', bahwa dia tak mau dimakamkan dalam kemewahan. Bung Karno hanya ingin dimakamkan di sebuah tempat dengan pohon rindang, dikelilingi pemandangan yang indah, di sebuah sungai dengan air yang bening.

"Saya ingin berbaring di antara perbukitan dan ketenangan. Hanya keindahan dari negara yang saya cintai dan kesederhanaan sebagaimana saya hadir. Saya berharap rumah terakhir saya dingin, pegunungan, daerah Priangan yang subur di mana saya bertemu pertama kali dengan petani Marhaen," kata Bung Karno, seperti dituturkan Cindy Adams dalam buku 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat'.



Di akhir masa jabatannya, Bung Karno menemukan tempat yang dia impikan itu, yakni sebuah lokasi tak jauh dari vilanya di Batu Tulis, Bogor. Bung Karno pun membangun tempat tersebut.

Sejumlah literatur tentang sejarah Bogor menyebutkan Istana Batu Tulis sekarang dulunya adalah sebuah tempat yang dibangun seorang vulkanolog asal Belanda bernama Van Riebeeck. Dia membangunnya pada awal 1700-an setelah Gunung Salak meletus pada 4 dan 5 Januari 1699.

Beberapa peneliti menduga Van Riebeeck membangun tempat penelitian tersebut untuk membuktikan bahwa setelah meletus, Gunung Salak tak perlu dikhawatirkan lagi. Selebihnya, tak ada catatan dari Van Riebeeck soal tempat penelitian yang dia bangun tersebut.

Barulah ratusan tahun kemudian, Bung Karno membangun tempat tersebut menjadi Istana Batu Tulis. Dan kini Megawati, ahli waris Sukarno, menggunakan Istana Batu Tulis untuk bertemu dengan sejumlah tokoh sebelum memutuskan sesuatu hal yang sifatnya sangat penting.

Sebelum dengan Jokowi, pada 2009, Megawati melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Setelah pertemuan itu, Mega dan Prabowo sepakat maju Pilpres 2009 sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Soal alasan Mega lebih memilih Istana Batu Tulis untuk membahas rencana politiknya ke depan disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto. "Istana Batu Tulis sangat cocok. Teduh, menghadap Gunung Salak, dengan gemuruh air sungai yang menciptakan suasana kontemplatif, serta membangun suasana kebatinan yang baik untuk membahas berbagai agenda strategis bangsa dan negara, jauh di atas kepentingan pribadi atau golongan. Semua yang dibahas untuk kemajuan Indonesia Raya," kata Hasto seperti dilansir keterangan tertulis, Senin, 9 Juli 2018.

Istana Batu Tulis, Tempat Mega Menjamu Prabowo dan JokowiInfografis: Kiagoos Auliansyah/detikcom


(erd/erd)