detikNews
Senin 25 Juni 2018, 21:17 WIB

Rehabilitasi Hutan Jadi Cara KLHK Cegah Longsor dan Banjir Bandang

Akfa Nasrulhak - detikNews
Rehabilitasi Hutan Jadi Cara KLHK Cegah Longsor dan Banjir Bandang Foto: Antara Foto
Jakarta - Tingginya curah hujan di beberapa wilayah di Pulau Jawa menyebabkan rentan terjadinya banjir dan longsor. Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL), Ida Bagus Putera Parthama, mengungkapkan adanya longsor di kawasan hulu yang menyumbat aliran sungai kemudian membentuk bendungan alami menjadi penyebab lain banjir bandang.

"Ketika curah hujan tinggi, bendungan tersebut tidak dapat menahan air dan mengakibatkan banjir bandang," ujar Putera, dalam keterangan tertulis, Senin (25/6/2018).



Putera juga menyebut curah hujan yang tinggi seperti itu menjadi penyebab terjadinya banjir bandang di Kabupaten Banyuwangi beberapa waktu lalu. Dia mengatakan peristiwa banjir bandang tersebut telah mengakibatkan sejumlah kecamatan yang termasuk DAS Bomo dan DAS Glondong, terendam lumpur dan material vulkanik.

Beberapa kecamatan tersebut antara lain, Sragi, Songgon, Singojuruh, Glagah, Licin, dan Rogojampi. Luas Daerah Tangkapan Air (DTA) Banjir di kedua DAS tersebut seluas 13.876,71 Ha dengan total lahan kritis 2.078,10 Ha.

"Curah hujan tinggi juga mengakibatkan terjadinya peningkatan limpasan permukaan yang melebihi kapasitas di beberapa DTA. Di antaranya di DTA Badeng 26,16 m3/det (kapasitas pengaliran: 3,8 m3/detik), DTA Kumbo 41,86 m3/det (kapasitas pengaliran: 5,2 m3/detik), dan DTA Binaung 37,36 m3/det (kapasitas pengaliran: 5,3 m3/detik)," jelas Putera.

Oleh karena itu, untuk mencegah hal tersebut, Putera mengatakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berupaya lakukan rehabilitasi hutan lahan dan menerapkan skema agroforesty seluas 30 Ha.

"Sebagai upaya pencegahan banjir dan tanah longsor, KLHK telah melakukan rehabilitasi hutan lahan (RHL) melalui kegiatan RHL dari tahun 2010 sampai dengan 2016 seluas 383 Ha di kawasan DAS Bomo dan DAS Glondong. Ke depan, KLHK akan menerapkan skema agroforestry seluas 30 Ha, dan RHL dalam kawasan hutan seluas 1.500 Ha dalam rangka mitigasi bencana banjir," terang Putera.

Hal ini penting dilakukan mengingat, berdasarkan hasil analisis perubahan tutupan lahan tahun 2017, luas tutupan hutan di bagian hulu masih tergolong baik yaitu sekitar 60% (9.785,18 Ha) dari total luas penutupan lahan. Namun luas kategori lahan kritis dan sangat kritis sebesar 2.078,10 Ha dari 13.826, 71 Ha.



Sementara itu, Plt. Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS, Yuliarto, menuturkan akan dilakukan juga sosialisasi kepada masyarakat dan ajakan untuk menanam jenis tanaman yang sesuai yaitu mempunyai perakaran dalam, kerapatan tajuk tinggi, dan evapotranspirasi tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian BPPTPDAS Surakarta, terdapat 47 jenis tanaman yang berpotensi untuk mencegah tanah longsor, di antaranya, Pilang, Cempedak, Sukun, Mimba, Kemiri, Nangka, Jambu Mete, Aren, Damar, Bambu, Tayuman, Kupu-kupu, Kayu Manis, Trengguh, Kaliandra Merah, Kaliandra Putih, Kenanga, Johar, dan Sonokeling.

"Kami juga akan bekerja sama dengan pemda dan instansi terkait untuk mengidentifikasi daerah-daerah rawan bencana melalui review peta Sistem Standar Operasi Prosedur (SSOP) dan menyosialisasikan hal itu ke para pihak terkait", ujarnya.
(mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed