DetikNews
Selasa 12 Juni 2018, 20:39 WIB

Tanya Jawab Islam

Makna Sesungguhnya 'Kembali pada Alquran dan Hadis'

Tim detikRamadan - detikNews
Makna Sesungguhnya Kembali pada Alquran dan Hadis Foto: 20detik
FOKUS BERITA: Tanya Jawab Islam
Jakarta - Kembali pada Alquran dan hadis. Semangat ini belakangan ramai digaungkan. Dengan bantuan media sosial, 'kembali pada Alquran dan hadis' pun kian dikenal dan terus disuarakan.

Seorang muslim memang harus merujuk pada kitab pedomannya, yaitu Alquran dan apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui riwayat-riwayat hadis.

Di sisi lain, ada yang perlu diluruskan dari ajakan ini, agar tidak terjadi kesalahpahaman dan ketimpangan jika 'mentah-mentah' langsung kembali pada Alquran dan sunah Nabi.

Melihat fenomena ini, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan pada dasarnya ini adalah anjuran yang baik.



Namun perlu diingat, tidak semua orang memiliki kemampuan kembali pada Alquran dan hadis, terutama bagi awam yang sedang semangat-semangatnya belajar agama.

Maka, bagi orang awam, penting untuk mendengarkan firman Allah berikut ini. 'Fas aluu ahladzdzikri inkuntum la ta'lamuun'. Bertanyalah kalian kepada orang-orang yang ahli, yaitu para ulama jika kalian tidak cukup mengerti.

"Makna-makna Alquranul karim, pengertian-pengertian di dalam hadis, tidak mudah untuk ditembus oleh kalangan awam, karena redaksi Alquran dan redaksi hadis membutuhkan kelengkapan akademik untuk bisa memahaminya. Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik adalah deretan ulama yang dengan sendirinya memiliki kemampuan untuk kembali pada Alquran dan sunah," urai Moqsith.

Bagi orang awam yang tidak memiliki cukup waktu untuk belajar dan tidak memiliki kemampuan akademik intelektual, tidak secara langsung untuk kembali kepada Alquran dan sunah, pilihannya adalah dengan mengikuti para ulama yang memiliki kemampuan dan memiliki kapasitas untuk kembali pada Alquran dan sunah.

"Itulah yang dimaksud dengan tradisi bermazhab di dalam hukum Islam. Tradisi akademik untuk mengikuti pendapat dan metodologi yang telah ditetapkan oleh para ulama sejak zaman dahulu sampai dengan akhir zaman," terang alumnus Ma'had Aly, Situbondo, Jawa Timur, ini.

Dengan demikian, imbuh Moqsith, bermazhab mengikuti pandangan para ulama bukanlah sesuatu yang keliru, karena itu adalah anjuran Alquran dan sunah itu sendiri.

Masih dikatakan Moqsith, bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda 'Ashabi kannujum', sahabat-sahabatku itu adalah seperti bintang gemintang di langit.


'Biayyihim iqtadaytum ihtadaytum', dari mana saja para sahabat itu kamu ikuti, maka dengan sendirinya akan mendapatkan petunjuk, akan mendapatkan hidayah, serta mendapatkan arahan.

Para sahabat sudah lama meninggal dunia. Selanjutnya masuk ke dalam generasi tabi'in. Lalu tabi'in sudah tidak ada, masuk ke generasi tabiut tabi'in. Setelah tabiut tabi'in tidak ada, saat ini adalah generasi para ulama.

"Hari ini yang tersisa adalah para ulama, para kiai, yang memiliki kemampuan untuk kembali kepada Alquran dan sunah. Sebuah pepatah menyatakan 'Man qallada 'aliman, laqiyallahu saliman', barang siapa mengikuti orang alim, dia akan menjadi orang yang selamat," tutup Moqsith.

Penjelasan selengkapnya, simak sketsa berikut ini:



Saksikan program Tanya Jawab Islam, setiap hari pukul 17:35 WIB selama Ramadan di detikcom.



Tonton juga video spesial Ramadan lainnya tentang mengaji berikut ini:


(rns/rns)
FOKUS BERITA: Tanya Jawab Islam
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed