DetikNews
Jumat 08 Juni 2018, 18:53 WIB

Ketika Jenderal Yoga Sugomo Dituduh Menculik Istri Bung Karno

Sudrajat, Erwin Dariyanto - detikNews
Ketika Jenderal Yoga Sugomo Dituduh Menculik Istri Bung Karno Soeharto dan Dewi Sukarno (Kolase Foto: Luthfy Syahban)
Jakarta -

Beberapa hari setelah Gerakan 30 September 1965 yang diikuti dengan pembunuhan sejumlah jenderal, sejumlah perwira intelijen berjibaku menggali informasi seputar peristiwa tersebut. Salah satu yang menjadi tanya besar adalah aktivitas dan kebijakan Presiden Sukarno pada saat-saat menjelang 30 September.

Akhirnya muncul gagasan dari Martono, teman Yoga Sugomo sewaktu di Jepang, untuk mempertemukan Panglima Kostrad Mayjen Soeharto dengan Ratna Sari Dewi, istri Bung Karno. Martono di kemudian hari menjadi Menteri Transmigrasi di kabinet Soeharto, 1983-1988.

Tentu tidak mudah mengatur pertemuan dengan istri presiden. Karena itu diupayakan agar pertemuan dilakukan secara tidak resmi. Rencananya Pangkostrad akan bertemu Dewi di lapangan golf. Tidak jelas mengapa, rencana yang sudah diatur dengan sangat rahasia itu bocor. Tentu saja info tersebut sampai kepada Presiden Sukarno dengan penafsiran yang sudah keliru, bahwa seolah-olah Yoga Sugomo dan Ali Moertopo mau menculik Dewi.

"Akibatnya, suatu malam beberapa orang yang mengaku sebagai utusan Bung Karno datang ke Kostrad untuk "mengambil" Yoga dan Ali Moertopo," tulis B. Wiwoho dan Banjar Chaeruddin dalam buku Jenderal Yoga Loyalis di Balik Layar.Kedatangan orang-orang tak dikenal itu disampaikan kepada Pangkostrad, Mayjen Soeharto. "Ora usah mangkat," jawab Soeharto singkat.

Tapi orang-orang yang mengaku urusan Presiden itu tidak puas dan terus mendesak. Yoga menolak. "Tidak. Kalau mau perang, ya perang. Pokoknya saya tidak mau berangkat," tulis buku setebal 438 halaman yang diterbitkan Gramedia, Mei 2018 itu.

Sementara itu, adik tiri Soeharto, pengusaha Probosutedjo punya cerita sedikit berbeda. Menurut dia, Soeharto dan Dewi sempat bertemu sambil bermain golf di Lapangan Golf Rawa Mangun. Fasilitatornya adalah pengusaha Bob Hasan yang nota bene merupakan anak angkat Jenderal Gatot Subroto.

"Bob Hasan, sahabat Mas Harto yang saat itu sudah jadi pengusaha sukses prihatin melihat hubungan Mas Harto dengan Bung Karno yang kurang harmonis," kata Probo seperti dikutip dari buku, "Memoar Romantika Probosutedjo, Saya dan Mas Harto" karya Alberthine Endah.

Caranya Bob mengundang Dewi untuk main golf di Rawa Mangun. Pada saat bersamaan, dia juga mengundang Soeharto. Menurut Probo, niat Bob Hasan tersebut baik. Melalui Ratna Sari Dewi dia berharap 'perang dingin' antara Bung Karno dengan Soeharto bisa mencair. "Maka bertemulah Mas Harto dengan Ratna Sari Dewi," tutur Probo.

Sayang, harapan tak sesuai kenyataan. Upaya mendamaikan dua kubu yang terlibat perang dingin justru membuat prahara di rumah tangga Soeharto. Siti Hartinah (Ibu Tien) cemburu mengetahui suaminya bermain golf dengan Ratna Sari Dewi. Ibu Tien mendiamkan Soeharto sampai berhari-hari. "Melihat ini saya prihatin," kata Probo.

Probo pun kemudian menemui Bob Hasan. Kepada Probo, Bob Hasan akhirnya meminta maaf. Dia tak menduga upayanya mendamaikan Bung Karno dan Pak Harto justru membuat Ibu Tien cemburu.

Kepada Ibu Tien, Probo menjelaskan cerita di balik main golf Soeharto dengan Ratna Sari Dewi. Pertemuan di lapangan golf Rawamangun itu adalah upaya mendamaikan Bung Karno dan Pak Harto.

"Mbakyu Harto pun akhirnya bisa mengerti dan mau bicara lagi dengan suaminya," cerita Probo.

Di pihak lain, hubungan Pak Harto dengan Bung Karno pada akhirnya tetap memanas. Bung Karno akhirnya mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret pada 11 Maret 1966. Supersemar ini menjadi dasar bagi Soeharto untuk membubarkan PKI.




(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed