detikNews
Rabu 30 Mei 2018, 22:04 WIB

Setuju Standardisasi Mubalig, JK: Supaya Fokus dan Perdalam Ilmu

Aditya Mardiastuti - detikNews
Setuju Standardisasi Mubalig, JK: Supaya Fokus dan Perdalam Ilmu Wapres JK di acara Mata Najwa (Foto: Screenshot Trans7)
Jakarta - Wapres Jusuf Kalla menyambut baik rencana MUI soal standardisasi mubalig. JK menyebut standardisasi mubalig perlu agar tak ada khotbah yang menghasut.

"Saya kira tidak, teratur dan massal dengan jumlah penduduk yang besar, begitu banyaknya ustaz, kiai, yang dibutuhkan untuk melayani umat, saya kira ini baik," kata JK di acara Mata Najwa yang tayang di Trans7, Rabu (30/5/2018).


JK kemudian menyinggung Indonesia berbeda dengan Malaysia soal pembangunan masjid. Di Indonesia, banyak warga yang secara swadaya membangun masjid, sementara di Malaysia pembangunan masjid ditangani pemerintah. Untuk itu, JK memandang penting bagi pemerintah untuk mengatur kode etik dakwah bagi para mubalig.

"Indonesia beda dengan Malaysia, jadi memang harus diberikan ke masyarakat untuk mengatur sendiri, tetapi perlu ada kode etik, citra fungsi dari Kemenag dan MUI. Karena ini kan, kalau ada pelanggaran pidananya, kan bisa menghasut di tempat dakwah atau masjid, tentu bisa. Kalau kode etiknya, dai khotbahnya harus menyejukkan, tentang cara mengatur dakwahnya, Pak KH Ma'ruf MUI akan mengatur," papar JK.


JK menyebut sebenarnya sudah banyak organisasi mubalig yang ada di Indonesia. JK berharap organisasi itu bisa memberi sanksi kepada mubalig yang dinilai melanggar.

"Perlu diatur dewan organisasi masing-masing, kita pemerintah mengatur kode etiknya. Kalau di sini kan ada ikatan mubalig, macam-macamlah. Jadi itu semua tidak perlu pakai sertifikat, keanggotaan yang dipertanggungjawabkan organisasi," urai JK, yang juga Ketua Dewan Masjid.

"Sertifikat atau keanggotaan sama saja. Katakanlah kalau dia bicara macam-macam, siapa yang harus menegurnya," imbuh JK.

Apalagi, kata JK, saat ini dai atau mubalig sudah menjadi profesi. Dia menyebut sertifikat mubalig diperlukan agar mereka terus memperdalam ilmu agama.

"Jadi kurang-lebih berbeda zaman dahulu, sekarang dai itu fokus. Kalau dulu dai itu pekerjaan sambilan, sekarang banyak dai yang khusus karena banyaknya permintaan pengajian, acara-acara keagamaan. Itu sudah jadi profesi dan itu bagus supaya lebih fokus dan memperdalam ilmunya," terang JK.
(ams/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com