DetikNews
Kamis 17 Mei 2018, 10:56 WIB

Sandi: Perlu Kebijakan Tepat Atasi Masalah Kejiwaan Warga DKI

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Sandi: Perlu Kebijakan Tepat Atasi Masalah Kejiwaan Warga DKI Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (Foto: Muhammad Fida Ul Haq/detikcom)
Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno beberapa kali menyoroti tentang tingkat stres warga Jakarta. Sandiaga pun ingin agar masalah kejiwaan ini menjadi salah satu fokus Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Yang teranyar, Sandiaga mengaku baru mendapatkan data dari kajian yang dilakukan di Kepulauan Seribu. Menurut Sandiaga, tingkat stres warga Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Panggang, cukup tinggi, tetapi Sandiaga tidak menyebutkan indikator kajian tersebut.


"Kita baru mendapatkan data-data dari pilot case di Kepulauan Seribu di mana tingkat stres masyarakat di Kepulauan Seribu, khususnya di Pulau Panggang, itu cukup tinggi. Itu rata-rata nasional," kata Sandiaga di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kamis (17/5/2018).

Sandiaga mengaku ingin mendirikan institusi yang menangani urusan kejiwaan tersebut. Menurut Sandiaga, apabila warga Ibu Kota yang mengalami gangguan jiwa mencapai angka 20 persen maka kebijakan perlu ditetapkan.

"Ancer-ancer kita 20 persen dari masyarakat Jakarta mengalami permasalahan kejiwaan dan ini perlu dipetakan dengan policy atau kebijakan yang tepat dan itu akan dirumuskan dengan nanti mendirikan Jakarta Institute of Mental Health," ucap Sandiaga.

Dalam beberapa kesempatan, Sandiaga memang kerap memberikan perhatian khusus tentang kesehatan mental. Kekhawatiran Sandiaga itu berawal dari lingkungan keluarganya yang banyak mengalami depresi.

Baca juga: Sandi: 10% dari 10 Ribu Orang Gangguan Jiwa di Jakarta Harus Dirawat

"Karena saya sudah berulang kali katakan bahwa di anggota keluarga saya banyak yang mengalami depresi, gangguan daripada stres dan lain sebagainya," kata Sandiaga pada Rabu, 28 Februari lalu.

Dia mengaku tidak ingin warga Jakarta nantinya seperti di Jepang yang memilih bunuh diri ketika menghadapi depresi akut. Sandiaga mengatakan banyak hal menjadi pemicu seseorang mengalami stres hingga depresi.

"(Penyebabnya) satu, impitan ekonomi, sosial, keputusasaan. Ada stres, ada yang karena percintaan, ada yang depresi, ada yang skizofrenia. Kalau yang skizofrenia, harus dirawat. Paling banyak (karena masalah) sosial, ekonomi, dan keputusasaan," ucap Sandiaga.


(fdu/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed