DetikNews
Sabtu 28 April 2018, 08:37 WIB

Kim Jong Un Sudah ke Korsel, Lalu Apa Selanjutnya?

Danu Damarjati - detikNews
Kim Jong Un Sudah ke Korsel, Lalu Apa Selanjutnya? Kim Jong-Un dan Moon Jae-in jabat tangan (AFP Photo/KOREAN BROADCASTING SYSTEM)
Jakarta - Sambil berpegangan tangan dengan Presiden Moon Jae-in, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melangkahkan kaki ke Korea Selatan. Ini sungguh spektakuler. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Pengamat politik internasional, Himahanto Juwana, menilai perkembangan situasi di semenanjung Korea itu adalah perkembanggan yang riil, seriil langkah Jong Un melintas batas Panmunjom, Jumat (27/4) kemarin.



Namun misterius, tak ada yang tahu apa yang mampu mendorong Jong Un bergerak ke selatan. Padahal sebelumnya, Jong Un dikenal sebagai pemimpin yang sangat keras dan mengerikan.

"Saya tidak tahu apa yang melatarbelakangi Kim Jong Un untuk tidak keras ketika berhadapan dengan Korsel. Ini sangat melunak. Apa karena masalah ekonomi di negaranya, ataukah dia merasa Korut tak bisa terus-menerus terisolasi dari dunia luar?" kata Hikmahanto.



"Atau barangkali Jong Un merasa sudah tak ada pentingnya lagi untuk berkonflik dengan Korsel?" ujar Guru Besar Hukum Internasional UI ini.

Hikmahanto menilai peristiwa ini sebagai satu bukti lagi surutnya ideologi komunisme di dunia. Dia menilai komunisme tak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Negara-negara yang secara idealis mengusung paham itu bakal terbentur realitas internasional. Dan ini adalah bukti yang mengejutkan.

"Itu menunjukkan Kim Jong Un sudah berubah. Makanya dunia sebenarnya terkejut sambil melihat gestur Kim Jong Un untuk mau mereunifikasi Korea," tuturnya.



Terlepas dari soal ideologi dan dugaan yang melatarbelakangi berubahnya sikap Jong Un, Hikmahanto punya pandangan optimis bahwa dinamika di semenanjung sedang bergerak ke arah yang lebih baik.

"Apa yang terjadi itu merupakan langkah menuju perdamaian yang lebih baik di kawasan," kata dia.

Berbicara soal Korut dan Jong Un, kurang lengkap rasanya bila tak mengaitkannya ke Amerika Serikat (AS) dan Donald Trump. AS bakal memetik hasil positif dari peristiwa bertemunay pemimpin dua negara Korea itu. Terlebih lagi ada komitmen denuklirisasi dari pertemuan Jong Un dengan Presiden Moon. Seolah pertemuan kemarin menjanjikan perdamaian.

"Cuma biasanya tak ada makan siang gratis. Barangkali setelah ini ada bantuan internasional masuk ke Korut. Kalau benar demikian, ini berarti menandai terbukanya Korut terhadap dunia," kata Hikmahanto.

Jadi yang selanjutnya terjadi, menurut prediksi Hikmahanto, adalah terbukanya tabir yang menyelubungi Korut dari dunia internasional. Juga, kemungkinan Korea Utara dan Korea Selatan bakal bersatu.

"Tentu bisa. Masyarakat berharap cemas, apakah ini sesaat atau akan ditindaklanjuti dengan penyatuan Korea Utara dan Korea Selatan," ujar Hikmahanto.

Apakah ada pengaruh pertemuan Korut dan Korsel kemarin terhadap Indonesia? "Pengaruh secara langsung, tidak ada. Namun secara kawasan semenanjung Korea, Jepang, dan Amerika serikat, secara tidak langsung ini menuju perdamaian yang lebih baik," ujar Hikmahanto.

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed