DetikNews
Senin 09 April 2018, 11:07 WIB

Buntut Mobil Diderek, Ratna Sarumpaet Somasi Dishub DKI

Haris Fadhil - detikNews
Buntut Mobil Diderek, Ratna Sarumpaet Somasi Dishub DKI Ratna Sarumpaet mensomasi Dishub DKI Jakarta karena mobilnya diderek. (Haris Fadhil/detikcom)
Jakarta - Ratna Sarumpaet resmi melakukan somasi kepada Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Somasi ini terkait penderekan mobilnya beberapa waktu lalu.

"Rakyat punya hak menolak apabila mereka diperlakukan melanggar undang-undang. Kalau saya biarkan, jadi ngotot-ngototan saja. Dishub bilang benar, saya bilang benar. Maka saya mengajukan klarifikasi, somasi, supaya kita semua belajar," kata Ratna di Restoran Dapur Indonesia, Jalan Sabang, Jakarta Pusat, Senin (9/4/2018).

Dalam somasi yang ditujukan kepada Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, ia meminta penjelasan tentang permasalahan penegakan peraturan daerah yang dialaminya. Menurutnya, masalah penderekan mobil saat ini sering membuat masyarakat menjadi korban.




"Meminta penjelasan tentang permasalahan penegakan peraturan daerah yang saya alami dan penjelasan tersebut wajib dimuat di koran dan berita nasional, karena selama ini masalah penderekan mobil telah membuat banyak masyarakat menjadi korban," tulis Ratna dalam surat somasinya.

Ratna Sarumpaet menggelar jumpa pers terkait somasi kepada Dishub DKI JakartaRatna Sarumpaet menggelar jumpa pers terkait somasi kepada Dishub DKI Jakarta. (Haris Fadhil/detikcom)

Ia meminta pihak Dishub DKI menyampaikan permohonan maaf jika petugas yang melakukan penderekan bukan dari seksi penegakan hukum. Ratna juga meminta Dishub DKI melakukan kajian ulang tentang penderekan mobil.

"Tindakan ini berpeluang hanya untuk mencari pendapatan dana dari masyarakat melalui membayar biaya administrasi derek mobil," ucap Ratna.


Selanjutnya, Ratna meminta Dishub DKI menginventarisasi masalah lalu lintas agar ada marka jalan yang jelas supaya memberi kepastian hukum. Menurutnya, Dishub DKI yang menderek mobil termasuk kategori perbuatan melawan hukum.

Selain itu, Ratna melakukan klarifikasi bahwa saat penderekan terjadi pada 3 April 2018 itu, ia berada dalam mobil Avanza B-1237-BR. Menurutnya, saat itu posisi mobilnya sesuai dengan Pasal 1 ayat 6 UU 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas.

Di lokasi kejadian, Ratna menyebut tak ada marka jalan seperti yang disyaratkan dalam Pasal 1 ayat 1 serta Pasal 3 ayat 1 dan 2 Permenhub 34 Tahun 2014 tentang Marka Jalan dan dikaitkan dengan Pasal 38 ayat 1 Perda DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi.

Pengacara Ratna, Samuel Lengkey, menyatakan hal senada. Menurutnya, saat melakukan penderekan, petugas Dishub DKI tidak menunjukkan identitas dari seksi penegakan hukum. Petugas Dishub DKI juga disebutnya tidak memberi kesempatan kepada kliennya memindahkan mobil.


"Harusnya itu diberi kesempatan. Petugas harus mencari pemilik mobil terlebih dulu dan meminta mobil dipindahkan karena dianggap menghalangi jalan," ucap Samuel.

Samuel juga menyatakan somasi itu sudah dikirimkan ke Balai Kota DKI, yaitu kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Selanjutnya, somasi juga dikirim ke Dishub DKI dan Sudin Perhubungan Jaksel.
(haf/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed