DetikNews
Sabtu 07 April 2018, 21:07 WIB

Sambut Revolusi Industri 4.0, Ini Saran Ketum PPP untuk Pemerintah

Mustiana Lestari - detikNews
Sambut Revolusi Industri 4.0, Ini Saran Ketum PPP untuk Pemerintah Foto: Ketua Umum PPP Rommahurmuziy (Dok. PPP)
Jakarta - Indonesia siap menyambut revolusi industri 4.0 yang diartikan sebagai lompatan di bidang industri dan semua hal didominasi oleh robot. Menurut Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy), Indonesia perlu menyiapkan berbagai hal agar tidak banyak orang jadi pengangguran.

"Tantangan ke depan adalah meningkatkan skill tenaga kerja di Indonesia, mengingat 70% angkatan kerja adalah lulusan SMP. Pendidikan sekolah vokasi menjadi suatu keharusan agar tenaga kerja bisa langsung terserap ke industri," jelas Rommy dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (7/4/2018).


Rommy juga menilai pemerintah perlu meningkatkan porsi belanja riset baik melalui skema APBN atau memberikan insentif bagi perguruan tinggi dan perusahaan swasta. Belanja riset itu termasuk pendirian techno park di berbagai daerah sebagai pusat inkubasi sekaligus pembelajaran bagi calon-calon wirausahawan di era revolusi industri 4.0. Apalagi menurut Rommy, porsi belanja riset Indonesia hanya 0,3% dari PDB di tahun 2016, sementara Malaysia 1,1% dan China sudah 2%.

"Harapannya tingkat inovasi Indonesia yang saat ini berada diperingkat 87 dunia bisa terus meningkat sehingga lebih kompetitif di era transisi teknologi saat ini," sambung Rommy.

Rommy berpendapat hal tersebut perlu diperhatikan. Sebab merujuk dari Laporan McKinsey Global Institute tahun 2017 disebutkan bahwa revolusi industri 4.0 membuat 800 juta lapangan pekerjaan akan hilang hingga tahun 2030 karena tenaga manusia digantikan oleh otomatisasi robot.

Kendati demikian, berdasarkan studi McKinsey di Prancis selama 15 tahun terakhir dibuktikan sebanyak 500 ribu pekerjaan hilang akibat perkembangan teknologi internet. Namun di sisi yang lain internet justru menciptakan 1,2 juta lapangan kerja baru di Prancis.

Menurut Rommy, ini artinya ada surplus 700 ribu lapangan kerja baru. Begitu juga dengan kekhawatiran musnahnya pekerjaan akibat teknologi khususnya robotisasi juga tidak terbukti di Amerika Serikat. Tingkat pengangguran di AS pada tahun 2017 turun menjadi 4,1% atau terendah dalam kurun waktu 17 tahun terakhir. Jika 800 juta lapangan kerja hilang di 2030, maka kemungkinan besar akan ada miliaran lapangan kerja yang baru.

"Kesimpulannya revolusi industri 4.0 bukanlah suatu ramalan yang menakutkan, justru peluang makin luas terbuka bagi anak bangsa untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional," tutup Rommy.


Sebelumnya, di acara Industrial Summit 2018, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 akan menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru dan menjadi lompatan besar bagi ekonomi Indonesia.

Itu terlihat dari adanya revolusi industri 4.0 yang akan menciptakan aneka bisnis baru di Indonesia dari mulai start-up booming, virtual reality, artificial intelligence (kecerdasan buatan), big data, dan quantum computing. Bahkan lembaga bereputasi internasional PWC menyebut di tahun 2030, Indonesia akan menempati urutan ke 5 dunia dan tahun 2050 menjadi peringkat ke-4 menggeser Jepang sebagai ekonomi yang paling besar di dunia.
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed