DetikNews
Rabu 14 Maret 2018, 13:14 WIB

Peluh Nelayan Sungai Musi Pencari Ikan Rp 12 Ribu/Kg

Raja Adil Siregar - detikNews
Peluh Nelayan Sungai Musi Pencari Ikan Rp 12 Ribu/Kg Nelayan Sungai Musi (raja/detikcom)
Palembang - Dua orang pria paruh baya di Palembang, Sumatera Selatan rela berangkat pagi dan pulang larut malam untuk menyusuri sungai Musi. Semua ini mereka lakukan demi membuat anaknya sukses di kemudian hari.

Kulit yang hitam akibat sering disengat matahari menjadi bukti, Elkat (53) dan Salaso (56) sudah meyusuri sungai sejak puluhan tahun lalu. Keduanya mengaku mampu bertahan hidup dengan mengais rejeki di sepanjang aliran sungai itu.

Sekitar Pukul 05.30 WIB, mereka mulai mempersiapkan alat tempur berupa jala, perahu, pancing dan karung. Bahkan kegiatan ini sudah mereka lakoni dan menjadi rutinitas sehari-hari sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Saat cuaca sedang tidak bersahabat dan akan berdampak pada hasil tangkapan ikan untuk dibawa pulang. Mereka yang sudah belasan tahun hidup bertetangga ini terpaksa harus putar haluan mencari lubuk tempat ikan bersarang.

"Kami hidup di sepanjang aliran Sungai Musi, jadi sejak kecil sudah mengenal dan biasa bermain di sungai. Mulai dari mencari ikan, bantu orang tua bahkan sampai saat ini aktifitas itu masih kami terus lakukan," kata Salaso saat ditemui detikcom di tepian dermaga jembatan Ampera, Rabu (14/3/2018).

Dulu mereka hanya melihat orang tua mencari ikan saat bermain. Kini pekerjaan itu menjadi salah satu kewajiban dan tanggungjawab harus mereka kerjakan sebagai kepala rumah tangga.

Bagi mereka, ada banyak cara untuk mendapatkan ikan agar dapat dijual dan dapur dirumah tetap berasap. Di mana saat kondisi air surut dan ikan mulai sulut didapat, mereka harus mengayuh perahu lebih jauh untuk pergi memancing dan memasang jaring.

Tidak jarang keduanya harus menyusuri sungai dan menempuh jarak hingga 20 Km dan pulang hingga larut malam hanya dengan menggunakan perahu ketek tanpa mesin.

Belum lagi saat pulang harus melawan arus sungai yang begitu deras ketika air sedang pasang. Semua mereka jalani hanya untuk mendapatkan 20 kg ikan setiap hari dan dijual dengan harga Rp 12 ribu/kg.

"Ikan yang kami dapat campur-campur. Kadang ada baung jitu, nila sungai Musi, patin, gabus dan jenis ikan lain. Minimal itu sehari harus dapat 30 Kg untuk bagi dua biar cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah dan kadang itu juga sering tidak dapat," katanya.

Hari ini merupakan hari kebertuntungan bagi dirinya dan Alkat. Pasalnya hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 3 jam bagi mereka untuk mendapatkan ikan sebanyak 33 Kg di tepian dermaga Ampera.

Biasanya sangat sulit jika harus mendapat ikan dengan jumlah besar. Apalagi jika penangkapan itu hanya menggunakan alat tangkap tradisional di tengah kemajuan jaman.

"Ini kebetulan saja tadi ada sekali dapat 3 Kg, biasanya tidak pernah. Kalaupun ada pasti hanya beberapa ekor saja dan itu juga ikan kecil-kecil. Padahal nelayan lain sekarang sudah banyak pakai alat canggih untuk menangkap ikan" kata Salaso.

Di tengah padatnya aktifitas di dermaga Ampera, Elkat tetap santai mengayunkan jala yang dibawanya di antara speedboat yang terparkir. Dirinya optimis dibalik keruhnya perairan sungai Musi masih ada harapan baru.

Menjadi seorang nelayan baginya adalah tradisi turun-temurun dari keluarga. Namun begitu, Elkat dan Selaso tetap ingin anak-anaknya nanti dapat menjadi pengusaha dan orang sukses, serta tidak melupakan bahwa mereka hidup dari seorang nelayan tangguh.

"Orang tua dulu memang nelayan dan sekarang saya juga jadi nelayan. Tetapi saya tidak mau anak saya juga nanti nelayan, mereka harus sekolah dan jadi orang sukses. Kalau nanti sudah sukses juga tidak boleh lupa, kalau sungai Musi ini juga kasih hidup sama mereka," kata Selaso sembari mendoakan anaknya yang sedang duduk dibangku SMA dapat lulus dan melanjutkan pendidikan.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed