DetikNews
Senin 12 Maret 2018, 11:34 WIB

Kantongi Rp 80 Ribu/Hari, Iwan Tak Ingin Anaknya Juga Jadi Pemulung

Jefris Santama - detikNews
Kantongi Rp 80 Ribu/Hari, Iwan Tak Ingin Anaknya Juga Jadi Pemulung
Medan - Hari-hari Iwan (36) lebih banyak dihabiskan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan. Panas terik ia hadapi demi mencari barang bekas untuk dijual ke agen botot.

"Hasil barang bekas ini dijual ke botot, sehari bisa dapat Rp 80 ribu atau Rp 90 ribu," katanya saat ditemui detikcom di TPA Medan, Senin (12/3/2018).

Rumah Iwan dengan TPA berjarak sekitar 200 meter. Sejak pagi, dia sudah berangkat ke TPA sampah untuk mencari barang bekas. Berjalan kaki jadi pilihannya karena dia tak memiliki kendaraan. Terkadang, dia menumpangi truk sampah untuk sampai ke lokasi.

Goni dan gancu (alat memungut sampah) selalu dia bawa. Barang bekas hingga botol minuman yang dipungut dimasukkan ke dalam goni. Barang-barang itu lalu dikumpuli dan diletakkan di dalam rumahnya.

Menjadi pemulung adalah pilihan Iwan sejak 3 tahun yang lalu. Hal ini menyusul setelah dirinya diberhentikan di tempat pekerjaannya di pabrik sawit.

"Sebelumnya saya di pabrik sawit kerja, bagian blower. Lalu ada pengurangan anggota, termasuk saya yang kena," ujarnya.

Isteri Iwan yang sehari-harinya ibu rumah tangga itu hanya bisa pasrah mendegar kabar tersebut. Dia tetap bersabar dan membantu mengurusi barang bekas yang dicari suaminya. Iwan tak ingin anaknya, Sanjaya Permana (8) yang kini duduk di bangku sekolah dasar kelas II mengikuti jejak ayahnyamenjadi seorang pemulung.

"Mau nggak mau ya jadi pemulung, laki-laki kan tulang punggung keluarga. Anak tetap harus sekolah, kalau bisa jangan seperti bapaknya pemulung. Pokoknya harus sekolah, sukses," katanya.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed