JK soal Konflik Afghanistan: Semua Orang Niat Damai, Solusi Didapatkan

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Selasa, 06 Mar 2018 13:36 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla (Noval/detikcom)
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) kembali menegaskan komitmen Indonesia membantu penyelesaian konflik di Afghanistan. Menurut JK, jika semua pihak di Afghanistan berniat damai, solusi akan didapatkan.

"Solusinya nanti, perdamaian semua orang berniat damai, solusi bisa didapatkan. Dan semuanya harus, namanya dignity of all, kehormatan, martabat harus menjaga martabat semuanya," ujar JK di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/3/2018).

JK juga mengungkapkan hasil kunjungannya ke Afghanistan pada Februari lalu terkait perdamaian di negara tersebut. Ada 7 pasal yang disepakati JK bersama pemerintah Afghanistan.

"Pertemuan di Afghanistan minggu lalu, pemerintah Afghanistan setuju dengan 7 pasal yang diberikan, siap berdialog, menjaga perdamaian, siap menerima Taliban masuk dalam suatu perjuangan politik, tapi bukan senjata lagi. Sama seperti yang kita lakukan di Aceh," ungkap JK.


JK mengatakan akan ada pertemuan antara ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan untuk membahas penyelesaian konflik di negara tersebut. Setiap negara akan mengirimkan 15 perwakilan ulama. Namun JK mengatakan Taliban tidak terlibat dalam pertemuan yang akan berlangsung di Jakarta akhir bulan ini.

"Ulama, ini ulama jadi ulama itu tidak terikut faksi-faksi (Taliban). Tapi pandangannya hampir sama semua, tidak ada ulama yang menginginkan perang berkelanjutan antara umat," kata JK.

"Kalau perang lawan Amerika, semua setuju. Kalau perang lawan Rusia, semua setuju. Tapi perang antara umat Islam sendiri inilah yang harus kita selesaikan," imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Indonesia memiliki peran penting untuk perdamaian di Afghanistan. Indonesia dipandang Afghanistan sebagai negara yang netral untuk menyelesaikan konflik di negara tersebut.


"Indonesia diminta karena saya berpikir dengan cara pikir Afghanistan, karena Indonesia dinilai sebagai negara yang netral, negara yang tidak memiliki kepentingan langsung baik politik maupun ekonomi. Indonesia juga negara muslim paling besar," jelas Retno dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, Indonesia dipandang sebagai negara yang memiliki rekam jejak baik untuk menyelesaikan konflik.

"Semua elemen itu yang akhirnya menjadikan Afghanistan meminta Indonesia untuk berkontribusi. Baik di bidang peace building maupun peace process. Dari pertemuan Pak Wapres dengan semua pihak di Afghanistan sensing yang kita peroleh adalah semua pihak dapat menerima kontribusi atau peran serta Indonesia," ucap Retno. (nvl/hri)