DetikNews
Senin 05 Maret 2018, 13:02 WIB

Sidang Setya Novanto

Saksi Akui Berikan USD 3,5 Juta dari Biomorf ke Ponakan Novanto

Faiq Hidayat - detikNews
Saksi Akui Berikan USD 3,5 Juta dari Biomorf ke Ponakan Novanto Suasana persidangan Setya Novanto (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Pengusaha money changer atau penukaran uang, Riswan alias Iwan, mengaku memberikan USD 3,5 juta kepada keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Uang itu merupakan hasil transaksi penukaran uang dari PT Biomorf Mauritius, perusahan yang terlibat dalam proyek e-KTP.

Awalnya, Iwan mengaku didatangi Irvanto yang mengatakan memiliki uang di luar negeri. Namun, Irvanto disebut tidak ingin melakukan transfer uang itu secara langsung dari luar negeri ke Indonesia.

Kemudian, sistem yang diinginkan yaitu berupa barter sesama perusahaan penukaran uang. Irvanto nantinya akan melakukan transfer antar rekening bank di luar negeri, kemudian dia mengambil uang tunai senilai uang yang ditransfer pada Iwan.

[Gambas:Video 20detik]



Lantaran tidak memiliki koneksi perusahaan penukaran uang di luar negeri, Iwan pun meminta bantuan rekannya, Juli Hira, yang merupakan Komisaris PT Berkah Langgeng, yang juga adalah perusahaan penukaran uang.

Prosesnya kemudian uang Irvanto ditransfer ke sejumlah perusahaan yang menjadi klien perusahaan penukaran uang di Singapura. Setelah itu, pegawai Juli yang bernama Nunuy memberikan uang dolar AS senilai transaksi itu ke Iwan. Belakangan, Iwan baru tahu uang dari Irvanto berasal dari PT Biomorf Mauritius.

"Jadi saya tahunya gini, Irvanto kasih saya rekening, saya forward ke orang Bu Juli, terus mereka ingatkan saya total masuk 3,550 juta dolar," ujar Iwan saat bersaksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (5/3/2018).


Iwan--yang pernah hadir sebagai saksi dalam persidangan tersebut sebelumnya--mengaku tahu adanya transaksi dari PT Biomorf dari saksi lainnya bernama Neni. Namun, Iwan tidak mengenal Neni sehingga dirinya mengecek ke Juli.

"Bu Neni saya kan nggak kenal. Sama Bu Neni ini katanya kan ada masuk dari Biomorf 800 ribu (USD) via Bu Juli," sebut Iwan.

Dari pengecekan ke Juli, Iwan menyebut total transaksi yaitu USD 3.530.000 yang seharusnya USD 3.550.000. Selisih USD 20 ribu disebut Iwan sebagai keuntungan bagi pengusaha penukaran uang.


"Saya rasa selisih kan cerita begini. Saya dibayar sama Pak Irvanto feenya 100 rupiah per dolar. Antara saya dengan Bu Juli 40 rupiah per dolar. Kalau saya pikir USD 3,550 juta dikurangi 40 rupiah itu sekitar 140 juta lebihlah. Ya mungkin saya rasa waktu itu, mungkin saya jual ke Bu Yuli 20 ribu dolar untuk bayar fee. Jadi sisanya ada, jadi saya sudah nggak bayar fee 20 ribu dolar, Bu Juli serahkan ke saya 3,530 juta dolar," ucap Iwan.

Setelah transaksi tersebut dilakukan, Iwan pun mengaku menyerahkan uang tersebut ke Irvanto. Uang diserahkan dalam bentuk tunai pecahan dolar AS.


"Seingat saya 3 kali Pak. Seingat saya, 3 apa saya lupa. cuma saya serahkan cash," ucap Iwan.

Dalam perkara ini Novanto didakwa melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa proyek e-KTP. Novanto juga didakwa menerima USD 7,3 juta melalui keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan orang kepercayaannya, Made Oka Masagung. Biomorf merupakan perusahaan milik almarhum Johannes Marliem yang menyediakan chips e-KTP.


(fai/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed