DetikNews
Jumat 23 Februari 2018, 12:58 WIB

Omzet Minyak Pret Rp 300 Juta/Bulan, Daudy Rekrut 11 Karyawan

Agus Setyadi - detikNews
Omzet Minyak Pret Rp 300 Juta/Bulan, Daudy Rekrut 11 Karyawan
Aceh - Usaha minyak wangi milik Daudy Sukma semakin berkembang. Untuk mencukupi permintaan konsumen, Daudy menggandeng pihak ketiga untuk menghasilkan esensial. Proses peracikan tetap dilakukan di Banda Aceh.

"Aromanya kita kerja sama dengan pihak ketiga. Sekarang skalanya industri tidak mungkin lagi home industry. Kebutuhannya sangat besar sekarang kita lakukan kerja sama dengan pihak ketiga," kata Daudy, Jumat (23/2/2018).

Menurutnya, dalam meracik parfum yang diberi nama 'Minyeuk Pret' ini, digunakan beberapa bahan baku utama. Di antaranya minyak nilam. Minyak wangi buatannya kini memiliki tiga varian aroma yang paling diminati, yaitu coffee, meulu, dan seulanga.

Nah, untuk esensial aroma inilah Daudy bekerja sama dengan pihak ketiga. Setelah pihak ketiga mengirim bahan baku, barulah kemudian parfum diracik oleh tim.

"Pihak ketiga mengirimkan satu bahan baku kemudian bahan baku itu dicampurkan menjadi parfum di sini. Biasanya pihak ketiga itu bisa menghasilkan esensial, esensial ini belum jadi parfum jadi masih esensial. Baru dijadikan parfum saat dia diracik di sini," kata alumni Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh tersebut.

Untuk menjalankan bisnisnya, Daudy menyulap sebuah tempat di Jalan Wedana No 104, Lam Ara, Keutapang Dua, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, sebagai lokasi peracikan. Ia melabeli parfum buatannya dengan nama 'Minyeuk Pret'. Nama ini dipilih karena masyarakat Tanah Rencong pada masa lalu menyebut parfum dengan sebutan Minyeuk Pret (minyak yang disemprot).

Usaha yang dijalani Daudy juga melibatkan masyarakat desa. Para warga ini bekerja di beberapa bidang, seperti melibat kotak, membuat kotak, dan lainnya. Sedangkan proses peracikannya menggunakan tenaga terlatih.

Saat ini, usaha Minyeuk Pret milik Daudy sudah memiliki 11 karyawan. Ketika proses produksi berlangsung, anak-anak muda berbagi tugas. Semua bahan baku dibersihkan sesuai dengan standar yang layak. Proses peracikan parfum ini membutuhkan beberapa tahapan sehingga minyak wangi siap dipasarkan.

Untuk saat ini, Minyeuk Pret sudah dijual diseluruh Indonesia dengan harga Rp 110-330 ribu. Selain itu, dijual di 11 negara, di antaranya Inggris, Arab Saudi, Malaysia, Taiwan, Banglades, Dubai (Uni Emirat Arab).

Di Filipina, Australia, India, dan Thailand juga sudah ada yang menjual Minyeuk Pret.

Daudy berkisah permintaan aroma parfumnya setiap daerah berbeda-beda. Ia mencontohkan, untuk wilayah Aceh, yang paling diminati adalah aroma seulanga dan kopi. Sedangkan masyarakat Pulau Jawa menyukai aroma meulu.

"Analisis kami untuk aroma parfum ini tergantung cuaca dan kondisi tempat tinggal masyarakat. Omzetnya sampai Rp 300 jutaan lebih per bulan. Kualitas parfum kita sangat bagus, prosesnya ada standarnya," ungkap Daudy.

Dalam situs resmi Minyeuk Pret, Daudy menulis sejarah minyak nilam Aceh yang diekspor ke luar negeri sejak ratusan tahun silam. Selain itu, dia ingin menjadikan Minyeuk Pret sebagai parfum lokal dengan kualitas branded.

"Minyeuk Pret merupakan sebuah brand lokal yang berasal dari bumi Aceh. Berdiri pada tahun 2015, produk ini memposisikan diri sebagai pelopor dan inovator di industri parfum branded yang bertujuan untuk mengangkat budaya, sejarah, dan nilai-nilai bangsa Aceh kepada dunia melalui wewangian," tulis Daudy.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed