DetikNews
Kamis 15 Februari 2018, 09:35 WIB

Kisah Cinta Beda Agama Founding Fathers (2)

Jalinan Kasih Sutan Sjahrir - Maria JD Diintimidasi Belanda

Aryo Bhawono - detikNews
Jalinan Kasih Sutan Sjahrir - Maria JD Diintimidasi Belanda Foto: Dok. geheugenvannederland.nl/Wikipedia
Jakarta -

Cinta Beda Agama Sutan Sjahrir terpaksa pupus di tengah jalan. Perkawinanya dengan Maria Johanna Duchateau diintimidasi pemerintah Hindia Belanda.

Kehadiran Sjahrir di Belanda penuh dengan derita dan cerita kekurangan duit. Ayahnya, seorang jaksa, meninggal tak lama setelah Sjahrir di Belanda. Dukungan finansial Sjahrir-pun macet.

Lelaki kelahiran Padang Panjang, 5 Maret 1909 itu kemudian ditampung di rumah salah satu pimpinan Social Democratic Students Club, Salomon Tas. Mereka berbagi ruang bersama istri Tas, Maria Duchateau dan temannya Judith, serta dua anak Tas yang masih kecil.

Rudolf Mrazek menuliskan dalam bukunya, Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia, Sjahrir kemudian dekat dengan Maria karena sering ditinggal Tas. Hubungan dekat mereka tak membuat Tas merasa kecewa, bahkan ia kemudian menikahi Judith. Sjahrir memiliki panggilan kesayangan kepada Maria, yakni Mieske. Sedangkan Maria memanggil Sjahrir dengan nama Sidi.

Pada akhir 1931 Sjahrir pulang ke Indonesia dan langsung ikut serta dalam pergerakan nasional. Maria menyusulnya melalui Colombo beberapa bulan kemudian. Keduanya menikah secara Islam di depan Hakim Pengadilan Muslim di Medan pada 10 April 1932.

Kees Snouk menuliskan dalam jurnal Janus at The Millenium: Perspectives on The Time in The Culture of The Netherlands, pada 5 Mei 1932 pemerintah Hindia Belanda membatalkan pernikahan itu karena perceraian Salomon Tas dengan Maria belum selesai.

Namun gerak-gerik pasangan pribumi dan Belanda ini mengundang gerah masyarakat dan orang Belanda sendiri. Pemerintah mencurigai Maria sebagai anggota kelompok sosialis kiri yang ingin mengorganisir perempuan Hindia Belanda. Hingga pada 14 Mei 1932, Maria dipulangkan ke Belanda.

"Selama beberapa minggu, seorang perempuan Eropa berjalan di jalanan kota Medan menarik perhatian ketika ia memutuskan memakai sarung dan kebaya setelah menikah dengan orang setempat," tulis De Sumatra Post pada 16 April 1932.

Maria berangkat ke Belanda dengan mengandung bayi dari Sjahrir berusia satu bulan. Kelak anak itu diberi nama Ilja, sebuah kata yang menjadi arti bagi perjuangan mereka. Adik Sjahrir, Sjahsam, hidup bersama Maria dan ikut membesarkan anak-anak mereka.

Meskipun jauh, surat-menyurat kedua orang itu sangat intensif. Bahkan saat Sjahrir harus menjalani pembuangan ke Digoel, Banda Neira, dan dipenjara di Cipinang. Tapi harapan mereka untuk bertemu pupus ketika pemerintah partai konservatif Belanda di bawah Perdana Menteri Colijn menguasai pemerintah pada 1937.

Keduanya baru berhasil bertemu setelah Indonesia merdeka saat Sjahrir menghadiri pertemuan pemimpin negara dan militer Asia dan negara barat di New Delhi India pada pril 1947. Namun pertemuan itu tak berkesan. Keduanya lantas berceri pada 12 Agustus 1948.

Maria memutuskan menikah lagi, jodohnya adalah adik Sjahrir, Sjahsam. Sejarawan Anhar Gonggong menyebutkan perceraian Sjahrir ini tak hanya dilandasi oleh cinta saja. Sjahrir, kata Anhar, sudah memiliki pandangan dan pemikiran berbeda dengan Maria. "Kalau tak salah karena istrinya itu komunis," terangnya kepada detik, Rabu 14 Februari 2018.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed