Pakai Tenaga Dalam Cari Korban Longsor, Praka Pujiono: Tak Ada Ritual

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 07 Feb 2018 15:14 WIB
Praka Pujiono, prajurit Kopassus, yang menemukan korban tanah longsor pakai tenaga dalam. (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Praka Pujiono, anggota Kopassus, membantu pencarian korban tanah longsor di Kampung Maseng, Cijeruk, Bogor, menggunakan tenaga dalam. Pujiono menegaskan tak ada ritual tertentu, murni berkat ketekunan latihan dan bakat.

"Untuk ini, kita tidak melakukan ritual atau bacaan. Dari yang saya alami, tidak ada melakukan seperti itu mungkin dari bakat seseorang, karena tidak semua bisa mempunyai dan bisa mendapatkan hasil seperti itu," kata Praka Pujiono kepada detikcom, Rabu (7/2/2018).



Pujiono mengatakan tenaga dalam yang digunakannya berasal dari cabang ilmu Merpati Putih. Dia mulai berlatih Merpati Putih karena merupakan latihan wajib bagi anggota Kopassus.

"Saya mulai mengenal sejak masuk Kopassus 2012, ini program dari satuan untuk bela diri anggota prajurit. Latihan fisik di Merpati Putih sebenarnya sama, cuma kita ada olah napas, teknik-teknik pengolahan napas yang dipadukan dengan gerak," jelasnya.


Dengan latihan yang tekun, juga bakat, Pujiono bisa mendeteksi energi yang berasal dari korban tanah longsor. Dia pun menampik jika tenaga dalam yang dimilikinya membuatnya kebal terhadap benda tajam.

"Nggak (kebal), kita manusia biasa punya takut dan luka. Cuma, dengan teknik itu, kita bisa menempatkan di mana kita tidak merasakan terlalu sakit," terangnya.

"Gimana sih cara mukul supaya kita tidak mencederai dengan tidak sakit, karena kan asal kita mukul kan kita bisa cedera. Karena ini kan latihan pernapasan jaga kesehatan dan kebugaran," imbuhnya.


[Gambas:Video 20detik]


Meski berhasil mendeteksi keberadaan korban tanah longsor, Pujiono mengaku belum ahli. Dia mengaku baru berada di tingkat kombinasi. "Kalau tingkat master, saya nggak, Mbak. Saya hanya kombinasi. Dari tingkat itu mungkin ada bakatlah dari seseorang," katanya.

Soal latihan, Pujiono mengatakan fokus Merpati Putih ada pada teknik olah pernapasan. Namun tetap ada latihan fisik ala militer yang wajib diikuti.


"Dasarnya sama, cuma kita kan istilahnya tetap pasti kita nggak bisa menghindari dari latihan militer. Pernapasan itu untuk pengolahan pernapasan. Kalau taekwondo kan tendangan, kalau pernapasan lebih membantu ke titik fokus. Dengan teknik yang kita miliki untuk memastikan ketepatan, kecepatan, dan mengikuti sasaran yang tepat agar tidak cedera," katanya.

"Butuh waktu dan proses yang lama. Ada tahap yang harus dilewati. Kalau fisik militer tidak lepas dari lari. Tahap-tahap Merpati Putih sendiri dasar itu dengan gerakan, misalnya dasar 1, dasar 2, dan selanjutnya, setiap tingkat ada tahapan dan ujiannya," papar Pujiono.


Pujiono mengatakan semua orang bisa mengikuti latihan tenaga dalam yang dilakukannya. Hanya, dia berpesan agar selalu tekun, dan utamakan kepentingan pribadi, yakni demi kebugaran.

"Buat rekan-rekan yang mau mendalami Merpati Putih, tetap semangat, berlatih bukan untuk mencari sesuatu, tapi untuk kepentingan pribadi. Yang penting untuk pribadi dulu, kesehatan," pesan Pujiono.

Berkat jasa Pujiono, tiga korban tanah longsor ditemukan, yakni Nani (30) dan dua anaknya, Aurel (2) serta Aldi (9). (ams/tor)