DetikNews
Senin 22 Januari 2018, 20:41 WIB

Pemilik Mobil Mewah Pakai Data Fiktif untuk Hindari Pajak?

Mei Amelia R - detikNews
Pemilik Mobil Mewah Pakai Data Fiktif untuk Hindari Pajak? Foto: Ilustrasi
Jakarta - Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) kembali menggalakkan sistem door to door untuk menagih pajak kendaraan mewah. Pemprov DKI Jakarta merilis sebanyak 744 kendaraan mewah yang menunggak pajak dengan total tunggakan Rp 26,1 miliar.

Dari sekian kendaraan mewah, salah satu yang menjadi sorotan adalah supercar Ferrari B 1 RED. Mobil tersebut ramai diperbincangkan setelah Ketua DPR Bambang Soesatyo berpose dengan mobil tersebut.

Bamsoet, sapaan akrabnya, mengatakan mobil tersebut sudah dijual sejak dua tahun lalu kepada seseorang. Lebih menghebohkan lagi, mobil tersebut ternyata belum mendaftar ulang alias belum membayar pajak.

Berdasarkan data Samsat Jakarta Barat, mobil tersebut terdaftar atas nama Andi Firmansyah. Mobil itu menunggak pajak sejak 2015, dengan nilai pajak mencapai ratusan juta rupiah.

Petugas Samsat Jakbar sendiri telah menelusuri alamat pemilik kendaraan di Palmerah, Jakarta Barat. Rumah sang pemilik kendaraan itu ternyata berada di sebuah gang sempit.

Hal ini jelas mengagetkan publik. Bagaimana bisa seorang pemilik mobil mewah tinggal di gang sempit? Mungkinkah seseorang yang tinggal di gang sempit bisa memiliki Ferrari yang nilai jual kendaraannya mencapai miliaran rupiah.

"Kalau bicara mungkin apa yang nggak mungkin di dunia ini. Yang jelas, database kami (Ferrari) atas nama Andi Firmansyah," ujar Kepala Unit PKB-BBNKB Samsat Jakbar Elling Hartanto kepada detikcom, Senin (22/1/2018).

Pada saat pengecekan, Sabtu (21/1) lalu, Elling sempat mencari tahu jati diri Andi kepada Ketua RT M Nur. "Saya sempat tanya ke ketua RT, apakah dia punya garasi mobil, 'boro-boro motor aja gak punya'. Ya sudah diterjemahkan seperti itu," sambungnya.

Melihat fakta demikian, mungkinkah nama Andi hanya dipinjam untuk jual-beli kendaraan mewah guna menghindari pajak?

"Kami tidak bisa mengatakan itu kalau belum ketemu Pak Andi-nya. Kalau sudah ketemu Andi, kita bisa ketahui nama pemiliknya apakah yang bersangkutan atau orang lain," tutur Elling.


Elling enggan berspekulasi soal siap sebenarnya pemilik mobil Ferrari tersebut. "Ya itu bisa saja, tetapi saya tidak bisa memastikan sebelum saya bertemu langsung dengan yang bersangkutan. Sekaligus kami juga ingin mengingatkan, kalau misalnya kendaraan tersebut telah dijual agar dibalik nama biar tidak kena pajak progresif," tandas Elling.
(mei/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed