Sepanjang 2017, Polisi Pulangkan 1.083 TKI Korban Human Trafficking

Denita Br Matondang - detikNews
Kamis, 21 Des 2017 15:20 WIB
Komjen Ari Dono (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Sepanjang tahun 2017, Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri berhasil memulangkan sebanyak 1.083 korban trafficking pekerja imigran. Dari 1.083 korban, 1.078 merupakan perempuan dewasa dan 5 anak-anak.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bareskrim Polri, Komjen Ari Dono dalam jumpa pers di Gedung KKP, Bareskrim Polri, Jalam Merdeka Timur, Kamis (21/12/2017).

"Seluruh korban berhasil diselamatkan atas informasi dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dan bekerja sama dengan kepolisan masing-masing negara setempat," ujar Ari.



Ari mengatakan Bareskrim juga telah berhasil menangkap sebanyak 30 orang tersangka. Dari hasil pengungkapan terdapat 6 jaringan pelaku perdagangan orang.

"Setelah korban kita periksa dan wawancara ada 6 kelompok jaringan yang melakukan tindak pidana perdagangan orang, ada jaringan Mesir, jaringan Arab Saudi, Jaringan Abu Dhabi dan Jaringan Suriah, Jaringan Malaysia, dan Jaringan China," ujar Ari.

Sementara itu, Bareskrim mencatat ada 3 modus para pelaku melakukan tindak pidana perdagangan orang. Adapun modus itu adalah modus penyalahgunaan visa umrah, modus kunjungan visa wisata dan kunjungan, visa ziarah.

Ari mencontohkan kasus jaringan Malaysia. Dalam Jaringan ini, kata Ari, sebanyak 39 korban dijanjikan akan diberangkatkan ke dengan janji gaji sebesar 250-300 USD setara dengan Rp 3-4 juta rupiah perbulan.

"Para korban kemudian berangkat dengan modus pemalsuan surat visa ke Kedutaan Arab Saudi di Jakarta. Mereka ditampung di Pasuruan lalu ada satu pengantar mereka melalui bandara di Pontianak dari sana sampai ke Pelabuhan di Kuala lumpur. Kenapa bisa pindah-pindah? Mereka (pelaku) anggap bahwa bandara besar di Jakarta sudah ketat mereka cari jalan pintas dengan dalih mau berangkat ke Kalimantan Barat," ujar Ari.




Ari mengatakan target pelaku biasanya berasal dari daerah-daerah di seluruh wilayah Indonesia. Tetapi, Ari enggan menyebut daerah tersebut dengan pencegahan lebih lanjut. Para korban, kata Ari, juga adalah korban yang tidak mempunyai kemampuan khusus atau ahli.

"Mereka (pelaku) mencari ke daerah-daerah karena minim informasi sampai dia memberangkatkan dengan berbagai cara," ujar Ari

Selain itu, para korban juga bersedia bekerja ke luar negeri karena tidak mendapat pekerjaan di daerah asalnya. Demikian juga saat merantau ke Ibu kota.

"Banyak faktor terjadi TPPO yang nyata adalah orang cari kerjaan untuk hidup maka dia akan usaha mencari kemana untuk bertahan hidup baik di kampung atau dimana saja bagi dia bisa menghidupi keluarganya karena nggak ada lapangan kerja di kampungnya," kata Ari. (rvk/rvk)