DetikNews
Senin 18 Desember 2017, 15:27 WIB

Nestapa Bocah Indramayu: 4 Kali Nikah, yang Pertama di Usia 13 Tahun

Denita - detikNews
Nestapa Bocah Indramayu: 4 Kali Nikah, yang Pertama di Usia 13 Tahun Foto: dok. Thinkstock
Jakarta - Pernikahan dini mengundang banyak nestapa. Mereka pun meminta Mahkamah Konstitusi merevisi UU Perkawinan dan menaikkan batas minimal usia menikah.

Hal itu diceritakan perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, Rasminah. Ia dipaksa menikah empat kali sejak usia 13 tahun karena ayahnya yang lumpuh. Sang ibu tak mampu menopang biaya hidup satu keluarga.

Akibat menikah muda, Rasminah tak hanya mengalami cacat pada kaki kanan dan tidak bisa jalan karena dipatok ular saat mengantar makan siang suaminya, ia juga mengalami trauma saat akan melakukan hubungan intim dengan suami kedua dan ketiganya.

"Saya dikawinkan pada usia 13, 16, dan 20 tahun, dan terakhir umur 27 tahun yang kebetulan bisa menerima saya apa adanya. Saya dinikahkan karena faktor ekonomi. Tadinya mau lanjut sekolah tapi nggak ada biaya, nggak ada uang," kata Rasminah di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (18/12/2017).

Rasminah bercerita, pada usia 13 tahun dijodohkan dengan lelaki berusia 35 tahun. Setahun menikah, tanpa sebab, lelaki yang merantau ke Semarang itu meninggalkannya dengan satu orang anak lelaki. Karena malu, keluarga mendesak ia menikah lagi dengan lelaki berusia 25 tahun.

"Ditinggal lagi, nggak tahu kenapa," ucap Rasminah.

Lagi-lagi Rasminah didesak keluarganya menikah. Rasminah dijodohkan dengan seorang dalang berusia 42 tahun. Berselang tujuh tahun menikah dan satu anak perempuan, sang dalang meninggal karena sakit. Lagi, Rasminah didesak menikah oleh keluarganya.

"Akhirnya saya menikah dengan suami yang sekarang usianya 27 tahun waktu itu," ucapnya, yang pada saat itu Rasminah sudah berusia sekitar 21 tahun.

Dari pernikahan terakhir, Rasminah merasa bahagia karena sang suami tak mengizinkan ia mencari nafkah. Bahkan ia diizinkan ikut berorganisasi. Tetapi bekas lukanya masih tampak nyata. Ia tidak bisa berjalan tanpa tongkat dan bantuan orang lain. Kaki kanannya pincang.

"Waktu itu saya mau mengantarkan makan siang kepada suami saya yang dalang itu. Di jalan, saya dipatok ular berbisa. Jadi begini," ucap Rasminah.

Tak hanya luka fisik, luka batin juga sempat dialami Rasminah.

"Kekerasan verbal atau fisik memang nggak ada, tapi saya sempat trauma (melakukan hubungan intim) dengan suami yang kedua dan ketiga," kata Rasminah.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed