DetikNews
Sabtu 16 Desember 2017, 10:18 WIB

Komnas Perempuan Soroti Kasus Wanita Dibunuh Gara-gara Tolak Cinta

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Komnas Perempuan Soroti Kasus Wanita Dibunuh Gara-gara Tolak Cinta Foto: Bahtiar Rifai/detikcom
Jakarta - Seorang perempuan berinisial S (18) di Serang, Banten, dibunuh dan diperkosa ER (17) gara-gara menolak cinta. Komnas Perempuan menyayangkan peristiwa biadab itu terjadi.


Komnas Perempuan menganggap tindakan ER disebabkan cara pandang merendahkan perempuan. "Jadi ini jangan dilihat sebagai tindak kriminal biasa karena ini tidak terlepas dari cara pandang yang merendahkan. (Laki-laki) melihat perempuan sebagai milik, merasa harus berkuasa sepenuhnya," kata Komisioner Komnas Perempuan, Azriana, kepada detikcom, Jumat (15/12/2017) malam.


Dia mengatakan kasus ini merupakan kasus femicide atau pembunuhan berdimensi gender. Seorang lelaki membunuh perempuan karena sifat maskulin si lelaki merasa terganggu. "Ini yang kami sebut dengan pembunuhan perempuan yang berdimensi gender. Pembunuhan dilakukan sebagai ungkapan dari ketidaksukaan karena kekuasaan dari pada dominasi maskulinitas pelaku yang diganggu," ujarnya.


Alasan lain, menurut Azriana, tersangka menganggap perempuan hanya sebagai objek. Hal itu membuat dia memaksakan diri agar kehendaknya diterima oleh perempuan yang disukainya. "Laki-laki merasa kalau dia suka sama perempuan, maka dia harus mau, harus menerima. Ini juga bagaimana dia memahami perempuan itu kan objek, dia tidak bisa menerima kalau perempuan menolak," tuturnya.


Terkait pencegahan terulangnya peristiwa itu, dia menyebut seorang perempuan tidak boleh diam jika menerima kekerasan dari lawan jenisnya. Sebab, tindakan pembunuhan biasanya disebabkan oleh tindak kekerasan yang juga sudah pernah terjadi sebelumnya.

"Jadi kami tidak diam ketika kami menerima kekerasan, harus kami ungkapkan atau kami laporkan, misalnya pasangan kami sudah mulai memukul, itu kan tidak bisa didiamkan. Kadang-kadang tindakan pembunuhan seperti ini dikarenakan ada tindakan kekerasan sebelumnya yang diabaikan," pungkasnya.
(abw/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed