DetikNews
Kamis 07 Desember 2017, 21:54 WIB

Hadiri HUT PSMTI, Anies: Etnis Tionghoa Bagian Sejarah Nusantara

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Hadiri HUT PSMTI, Anies: Etnis Tionghoa Bagian Sejarah Nusantara Anies Baswedan di HUT PSMTI (Muhammad Fida ul Haq/detikcom)
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri hari ulang tahun (HUT) Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) ke-19. Anies menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan warga etnis Tionghoa.

"Izinkan saya, warga Jakarta, mengucapkan selamat datang pada peserta munas dan perayaan HUT pada malam hari ini," kata Anies dalam sambutannya di Mangga Dua Square, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara, Kamis (7/12/2017).

Hadiri HUT PSMTI, Anies: Etnis Tionghoa Bagian Sejarah Nusantara Foto: Muhammad Fida ul Haq/detikcom
Anies menceritakan interaksi dengan warga Tionghoa terjadi saat menjabat Mendikbud di Petak Sembilan, Jakarta Barat. Menurutnya, berbaurnya warga berbeda etnis merupakan hal yang lumrah terjadi di Indonesia.

"Saat itu saya melihat berbagai macam penampilan bermain sama-sama. Maka amat biasa. Kenapa biasa? Karena kebinekaan amat biasa, bukan luar biasa. Kebinekaan bukan hal aneh dan niscaya," terangnya.


Anies mengatakan warga etnis Tionghoa ikut dalam menorehkan sejarah bagi bangsa Indonesia. Dia mengatakan etnis Tionghoa merupakan pengisi tenun kebangsaan.

"Marga Tionghoa saya tahu, bahwa sudah hadir bersama kita hadir lebih lama dari republik ini," terangnya.

"Sejak kedatangannya di bumi Nusantara, perlahan dan pasti menjadi bagian. Dan catatan sejarahnya panjang, kalau diungkapkan di sini jadi cerita," sambungnya.


Anies juga menceritakan kakeknya, AR Baswedan, yang terlibat dalam perjuangan bersama warga Tionghoa. Dia mengatakan bersama Liem Koen Hian dan Chua Chee Liang bersama-sama berjuang melalui dunia jurnalisme dengan surat kabar Sin Tit Po. "Mereka sama-sama di Semarang bergerak," tuturnya.

Mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut mengatakan persatuan harus dibangun bersama-sama. Persatuan tidak akan terjalin tanpa adanya interaksi antaretnis di Indonesia.

"Bhinneka itu fakta, persatuan itu yang kita bangun dan rayakan sama-sama. Tidak mungkin membangun persatuan tanpa interaksi," jelasnya.
(fdu/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed