DetikNews
Jumat 24 November 2017, 14:16 WIB

Digaji Rp 500 Ribu/Bulan, Guru Nurlina Nyambi Jualan Kue

M Bakrie - detikNews
Digaji Rp 500 Ribu/Bulan, Guru Nurlina Nyambi Jualan Kue
Maros - Tingginya anggaran yang telah digelontorkan oleh pemerintah untuk dunia pendidikan, tidak membuat nasib jutaan guru honorer di negeri ini menjadi lebih baik. Salah satu guru honorer di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres 185 Maros, Nurlina harus mencari akal menyiasati himpitan ekonomi.

Nurlina mengajar di Desa Salomatti, Kecamatan Tompobulu, Maros, Sulawesi Selatan.

"Saya mulai mengajar sekitar 2006. Dulu saya digaji Rp 50 ribu. Sekarang sih sudah agak lumayan karena gaji yang saya terima tiap tiga bulan itu rata-rata Rp 500 ribu per bulannya," kata Nurlina, saat ditemui wartawan, Jumat (24/11/2017).

Setiap subuh, wanita kelahiran 14 April 1982 ini, bangun untuk mengantar kue-kue buatannya ke sejumlah warung. Dari hasil kerja sambilannya itu, ia bisa meraup keuntungan sekitar Rp 15 sampai Rp 50 ribu/hari, tergantung banyak tidaknya kue yang laku.
Digaji Rp 500 Ribu/Bulan, Guru Nurlina Nyambi Jualan Kue

Sebelum berangkat mengajar, Nurlina juga harus mempersiapkan kebutuhan suami dan dua orang anaknya. Ia bekerja cepat, karena jarak sekolah tempat ia mengajar dengan rumahnya menghampiri 15 km.

"Jam 04.00 subuh kadang saya sudah bangun untuk mengantar kue yang sudah saya buat malam hari. Sebelum berangkat, saya siapkan dulu kebutuhan suami dan dua anak saya yang mau kerja dan ke sekolah," tuturnya.

Sebelum jam pelajaran dimulai, Nurlina yang ditugaskan sebagai guru kelas I, sudah berada di sekolah. Sebagai wali kelas, ia juga dituntut untuk mampu mengajarkan semua jenis mata pelajaran bagi muridnya yang kini jumlahnya sudah mencapai 50 orang dengan dua kelas.

Bagi pihak sekolah, Nurlina dikenal sangat rajin dan disiplin. Meski jarak antara sekolah dengan rumahnya terbilang cukup jauh, Nurlina nyaris tidak pernah telat untuk datang mengajar.

"Dia (Nurlina) sangat rajin dan disipilin. Jarak sepertinya tidak menjadi masalah bagi dia untuk mengabdikan diri sebagai guru," ungkap Pelaksana Harian Kepala Sekolah, Siti Hasmiah.

Suami Nurlina sendiri, bekerja sebagai buruh pengantar galon di sebuah depot pengisian ulang dekat rumahnya di Kelurahan Taroada, Kecamatan Turikale Maros. Ia hanya mampu mampu memberikan keluarganya Rp 100 sampai Rp 200 ribu per minggu.

Sahabuddin selama ini bukannya malas untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Namun, pria kelahiran 1981 silam ini, tidak memiliki ijazah sama sekali, sehingga sangat sulit mendapatkan pekerjaan.

"Mana ada perusahaan yang mau terima karyawan yang tidak lulus SD. Saya sudah berusaha mencari kerja lain tapi memang sulit sekali bagi saya. Yah makanya kerja saya begini-begini saja," kata Sahabuddin.

Sejak pernikahan mereka 2003 silam, Sahabuddin sudah beberapa kali mencoba berbagai jenis pekerjaan agar biaya kebutuhan istri dan kedua anaknya bisa tertutupi. Ia berharap, dengan kerja kerasnya itu, kedua anaknya tidak seperti dirinya.

"Saya tidak mau dua anak saya ini mengikuti nasib bapaknya. Makanya, kami berdua berjuang mati-matian, agar kedua anak kami ini bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya nanti," akunya.

Di momen hari guru ini, Nurlina berharap, agar pemerintah bisa lebih memperhatikan kesejahteraan para guru honorer yang sudah bertahun-tahun mengabdi demi mencerdaskan anak bangsa.

"Yah terutama soal pengangkatan status pegawai negeri. Kita berharap guru honorer yang sudah lama mengabdi bisa segera diangkat, agar hidup kami bisa lebih sejahtera," ujarnya.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed