DetikNews
Kamis 16 November 2017, 12:06 WIB

Rombak Sistem, Agis Tingkatkan Pendapatan Petani Rp 300 Ribu/Hari

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Rombak Sistem, Agis Tingkatkan Pendapatan Petani Rp 300 Ribu/Hari
Serang - Lulus dari jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM, Nur Agis Aulia (28) tergerak mengembangkan pertanian dan peternakan desa khususnya di Serang, Banten. Ia mengagagas Jawara Banten Farm sebuah bisnis pertanian mengandalkan penghasilan harian, bulanan dan tahunan.

Model bisnis ini ia kembangkan pada 2014 di daerah Waringin Kurung. Model bisnis ini awalnya dianggap aneh, apalagi petani dan peternak di sana jarang mendapatkan penghasilan harian atau mingguan. Bahkan perbulan pun, itu bisa 3 sampai 4 bulan lamanya.

Ia kemudian melakukan pendampingan pada kelompok petani Hijau Daun yang isinya 25 orang. Diperkenalkan bagaimana membangun pertanian dan peternakan dengan komoditi yang bisa mendatangkan penghasilan harian, mingguan dan bulanan.

"Bisnis yang abadi dan bagus di masa depan (adalah) pertanian dan peternakan," kata Agis saat berbincang dengan detikcom, Kamis (16/11/2017).

Pilihan untuk menghasilkan penghasilan harian, petani diminta menanam komoditas seperti misalkan kacang panjang, terong, atau mentimun. Komoditas itu menurut Agis dijual ke pasar spesifik sampai ke agen-agen di perumahan se Kabupaten Serang dan Kota Serang yang ia bangun. Tapi, menurutnya Ini di luar pemasaran melalui jaringan media sosial yang ia miliki.
Rombak Sistem, Agis Tingkatkan Pendapatan Petani Rp 300 Ribu/HariFoto: bahtiar

Selain itu, bisnisnya juga melakukan cara pengepakan hasil pertanian sendiri yang disesuaikan dengan standar permintaan pelanggan.

Untuk peternakan, kelompoknya menurut Agis mengandalkan penjualan susu kambing harian dan permintaan aqiqah. Selain itu penjualan ke jagal dan hajatan pernikahan juga selalu datang setiap bulannya. Penghasilan terbesar di peternakan, ada saat di Idul Adha karena permintaan untuk kurban.

Selama ini menurut Agis, kelemahan petani dan peternak adalah ketergantungan mereka kepada tengkulak. Petani dan peternak jarang mendapatkan keuntungan harian. Melalui model bisnis yang ia gagas, petani dan peternak menurutnya bisa keluar dari kebiasaan tersebut.

Di tahun pertama tawaran gagasan bisnis model ini menurutnya memang sempat dicibir. Namun, karena petani kemudian dibantu cara penjualan yang efektif, mereka yakin bisnis seperti ini menjanjikan. Selain dapat penghasilan harian, di Serang sendiri menurutnya mulai lahir petani dan peternak yang mendapatkan penghasilan harian mulai dari Rp 100 sampai Rp 300 ribu.

"Banyak yang tertarik sadar dan membantu peningkatan, sekarang hampir setiap desa ada peternaknya," kata Agis yang juga memiliki peternakan kambing.

Di satu sisi, menurutnya tengkulak di Serang awalnya terganggu dengan sistem yang dibangun Jawara Banten Farm. Namun, berkat kesabaran dan pendekatan, para tengkulak kemudian sadar dan akhirnya tidak melakukan monopoli pada petani di daerah binaannya di Waringin Kurung. Bahkan, petani didikannya sekarang paham harga pasar yang berkembang setiap waktunya.

Lewat model pertanian dan peternakan yang ia gagas, Agis juga mengatakan sudah lebih dari 500 petani belajar di Jawara Banten Farm. Ini menurutnya berlum termasuk petani-petani yang setiap bulannya datang dari berbagai daerah mulai dari Aceh, Yogyakarta, Jawa Barat bahkan petani dari NTT. Mereka kebanyakan ingin mencontoh model pertanian yang dibangun oleh Jawara Banten Farm.
Rombak Sistem, Agis Tingkatkan Pendapatan Petani Rp 300 Ribu/HariFoto: bahtiar

"Akhirnya menarik banyak orang jadi petani dan peternak, pengghasilannya lebih baik dibandingkan kerja biasa," katanya.

Saat ini, pemuda energik ini coba menularkan model bisnis pembangunan pertanian ini ke berbagai daerah di Serang seperti Mancak, Cinangka dan Gunungsari. Daerah-daerah tersebut menurutnya memiliki potensi pertanian dan peternakan dengan puluhan kelompok tani.

Selain itu, Agis juga mengaku tergerak untuk mengembangkan pertanian di Serang yang menjadi salah satu penghasil komoditas tani di Provinsi Banten. Namun sayangnya, menurut Agis komoditas pertanian diambil ke daerah lain karena ulah dari bandar dan tengkulak.
(bri/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed