DetikNews
Kamis 12 Oktober 2017, 17:36 WIB

GP Ansor Nilai Festival Kue Bulan Pekanbaru Konteksnya Kebinekaan

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
GP Ansor Nilai Festival Kue Bulan Pekanbaru Konteksnya Kebinekaan Ketua GP Ansor Riau Purwaji (dok Pribadi)
Pekanbaru - Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau memprotes Festival Kue Bulan di Pekanbaru yang dinilai bukan budaya lokal. GP Ansor Riau justru menilai acara ini sebagai wujud kebinekaan bangsa Indonesia.

Masyarakat Tionghoa Pekanbaru pekan lalu mengadakan acara Zhong Qiu atau Festival Kue Bulan. Acara tradisi budaya ini pun dihadiri Gerakan Pemuda (GP) Ansor Wilayah Riau. Sayangnya, acara itu menuai protes dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau karena dianggap bukan budaya lokal.

"Kami dari GP Ansor memang hadir di acara itu untuk menghadiri undangan resmi dalam pergelaran budaya Tionghoa di Pekanbaru," kata Ketua GP Ansor Wilayah Riau Purwaji dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (12/10/2017).

Menurut Purwaji, acara kue bulan yang digelar warga Tionghoa hanyalah sebuah tradisi yang tidak terkait dengan agama. Jadi hal itu harus dimanfaatkan sesama anak bangsa untuk saling membaur.

BACA JUGA: Tradisi Kue Bulan di Pekanbaru Diprotes Lembaga Adat Melayu, Kenapa?

"Kita mendorong selama ini kebinekaan. Justru di forum-forum seperti itulah kita bisa hadir untuk menjalin hubungan keharmonisan sesama anak bangsa. Tidak perduli apa agamanya, karena itu adalah kegiatan kebudayaan," kata Purwaji.
Masih menurut Purwaji, pihaknya mendapat undangan resmi dari panitia Festival Kue Bulan. Tidak hanya kepada GP Ansor, undangan juga disampaikan kepada tokoh masyarakat dan tokoh adat lainnya yang ada di Riau.

"Kegiatan kebudayaan itu justru kita bisa menanamkan rasa cinta Tanah Air Indonesia. Misalnya saja, Festival Kue Bulan diawali dengan lagu 'Indonesia Raya'. Ini kan menarik, dulunya tidak pernah ada (lagu 'Indonesia Raya'), sekarang dipoles dengan 'Indonesia Raya'," kata Purwaji.

Dalam Festival Kue Bulan itu, kata Purwaji, pihaknya melihat ada kreasi tari daerah bagian Indonesia timur, yakni tarian Sajojo.

"Kita sama anak Indonesia memberikan dukungan positif untuk berkembangnya tradisi masyarakat budaya lokal masing-masing. Ini tentunya dalam konteks kebinekaan. Saya pikir tidak ada yang salah dalam acara tersebut," kata Purwaji.

Terkait surat LAM Riau yang memprotes kegiatan tersebut, menurut Purwaji, perbedaan pandangan adalah hal yang biasa.

"Kita apresiasilah LAM Riau. Mungkin LAM punya pandangan tersendiri ya, walaupun dalam beberapa hal pendapatnya masih perlu kita diskusikan," kata Purwaji.

Menurut Purwaji, soal visi Riau 2020 menjadikan Riau sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan budaya Melayu, semestinya hal itu juga mengakomodasi tradisi dan kebudayaan masyarakat yang berkembang di Provinsi Riau.

"Untuk kegiatan yang mendorong kegiatan kebudayaan Melayu kan sudah sangat banyak. Sehingga kebudayaan lain, baik dari Batak, Tionghoa, Minang yang bertumbuh kembang di Riau juga tidak ada salahnya mendapat perhatian, walau porsinya tentu tetap lebih besar kebudayaan Melayu-nya," kata Purwaji.

"Ini kan ruang budaya yang menciptakan kerharmonisan. Kebudayaan ini kan nilai-nilainya yang luhur, filosofinya tinggi semua," tutur Purwaji.
(fay/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed