DetikNews
Jumat 06 Oktober 2017, 16:40 WIB

Polri: Peluru Tajam SAGL Hanya untuk Kejut

Audrey Santoso - detikNews
Polri: Peluru Tajam SAGL Hanya untuk Kejut Foto: Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto memperlihatkan senjata Stand-alone Grenade Launcher (SAGL) yang diimpor. (Audrey/detikcom)
Jakarta - Polri mengatakan polemik distribusi senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) Korps Brimob telah dinyatakan selesai dalam rapat koordinasi di Kemenko Polhukam. Namun, Polri tetap menganggap tak ada amunisi tajam dalam paket SAGL.

"Sudah, sudah clear (polemik senjata SAGL)," ucap Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Rupatama, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (6/10/2017).

Terkait amunisi SAGL jenis peluru tabur yang disebut amunisi tajam, Setyo menerangkan pemahaman yang berbeda. Menurut dia, amunisi tajam adalah amunisi yang mematikan. Sementara amunisi peluru tabur hanya bersifat melumpuhkan.

"Peluru tajam itu berbeda dengan peluru tabur. Seperti ini granat asap dengan ini granat gas air mata, juga berbeda walau bentuknya sama. Jadi amunisi yang digunakan SAGL ada tiga, yaitu asap, gas air mata dan yang disebut tajam tadi, tajam itu hanya untuk mengejutkan dengan butiran kecil-kecil," terang Setyo.

"Tidak untuk mematikan tapi untuk melumpuhkan. Sekali lagi, untuk melumpuhkan. Itu yang perlu dipahami," Setyo menambahkan.

Setyo kemudian menjelaskan ulang fungsi peluru tabur jika ditembakkan dari senjata SAGL. Peluru itu untuk memberikan efek kejut.

"Kalau orang ada di belakang tembok atau di belakang rumput, atau bambu, ditembak dengan granat itu, dia akan keluar. Artinya dia terkejut dan setelah itu baru dilakukan penangkapan. Itu yang dimaksud dengan senjata kejut," jelas Setyo.

Menko Polhukam Wiranto sebelumnya mengatakan senjata SAGL segera dikeluarkan dari area kargo Unex Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng atas rekomendasi Panglima TNI. Senjata itu bisa dikeluarkan dengan catatan amunisi tajam yang dipesan bersamaan dititipkan ke Mabes TNI.

"(Amunisi) tajam ini titip ke Mabes TNI setiap saat dibutuhkan ada proses untuk itu," sebut Wiranto kepada wartawan usai rapat koordinasi di kantornya, Jumat (6/10).
(aud/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed