DetikNews
Senin 02 Oktober 2017, 16:54 WIB

Curhat Pengungsi Pelajar Gunung Agung yang Kesulitan di Sekolah Baru

Ibnu Hariyanto - detikNews
Curhat Pengungsi Pelajar Gunung Agung yang Kesulitan di Sekolah Baru Foto: Pengungsi Pelajar Gunung Agung. Fotografer: Ibnu Hariyanto/detikcom
Karangasem - Masalah perbedaan kurikulum menjadi kendala para pengungsi yang masih berstatus pelajar di beberapa sekolah baru. Sejumlah pelajar tersebut kesulitan memahami pelajaran di sekolah.

Hal tersebut diungkapkan Gede Sapriatna dan Pasek Adi dua pelajar SMP dari desa yang terdampak erupsi Gunung Agung. Keduanya berasal dari SMPN 2 Selat yang memakai kurikulum K-13 terpaksa harus pindah sementara ke SMPN 1 Manggis yang memakai kurikulum KTSP.

"Gimana ya, karena beda saya agak kesulitan, lumayan susah nangkap pelajaran dari guru," kata Gede Sapritna kepada detikcom di warung dekat SMPN 1 Manggis, Jalan Raya Ulakan, Karangasem, Bali, Senin (2/10/2017).

Meskipun begitu murid kelas 9 itu tetap mengikuti semua pelajaran yang diberikan oleh guru-guru di sekolah baru. Menurutnya, selama bersekolah di tempat tersebut dirinya harus belajar lebih ekstra untuk memahami pelajaran.

"Ya pas di sini (sekolah sementara) belajar lebih aja terus ngikut aja walau sulit," ucap dia.

Sementara itu, Pasek Adi merasakan hal yang sama, kesulitan memahami pelajaran. Dia mengatakan perbedaan tersebut lebih kepada buku-buku yang mereka pelajari.

"Bukunya beda-beda, di (SMP) Selat sudah K-13 di sini (SMPN 1 Manggis) masih KTSP, ngikut aja dan masih belajar biasa belum ada ulangan," kata Pasek Adi.

Walaupun begitu dia tetap bersyukur masih bisa sekolah selama mengungsi. Meskipun susah harus tetap diikuti.

"Ya bersyukur aja sudah ditampung di sini. Kalau memang beda ya ikuti aja, yang bisa aja dikerjakan," ungkap dia.

Meski menjadi pengungsi karena status awas Gunung Agung, para pelajar tetap bersemangat bersekolah di wilayah lain. Namun perbedaan kurikulum sekolah menjadi kendala pelajar.

"Sementara memang seperti itu (beda kurikulum), ternyata ada anak yang terpaksa harus ikut pembelajaran di sekolah sini, tapi kenyataannya mereka beda kurikulum, dari kurikulum sekolah asal dengan sekolah kita," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 3 Semarapura, Wayan Setiawan di kantornya, Jalan Warapsari, Klungkung, Bali, Jumat (29/9).
(ibh/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed