DetikNews
Senin 02 Oktober 2017, 15:53 WIB

Razia Pil PCC, Polisi Malah Dapat 197.270 Obat Kedaluwarsa

Raja Adil Siregar - detikNews
Razia Pil PCC, Polisi Malah Dapat 197.270 Obat Kedaluwarsa Tangkapan obat kedaluwarsa di Palembang (Raja Adil Siregar/detikcom)
Palembang - Polisi melakukan razia pil PCC di Sumatera Selatan. Tapi mereka malah menemukan 197.270 butir obat kedaluwarsa.

Dalam razia pil PCC ini, Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Selatan malah menemukan 197.270 butir obat kadaluwarsa dari berbagai jenis. Selain obat kedaluwarsa, polisi turut mengamankan Hidayat (36), selaku pemilik toko.

"Awalnya Direktorat Narkoba mau merazia pil PCC apakah ada beredar di Sumsel. Tapi tidak ditemukan beredar di sini dan yang ditemukan adalah obat kedaluwarsa 197.270 butir dari berbagai jenis yang sudah lama beredar," terang Kapolda Sumsel Irjen Zulkarnain Adinegara saat rilis di Mapolda Sumsel, Senin (2/10/2017).

Dikatakan Zulkarnain, ribuan obat kedaluwarsa itu ditemukan di toko obat Rakyat Bersama dan salah satu pergudangan yang ada di kawasan Pasar 16 Ilir. Modusnya, pelaku memalsukan label waktu kedaluwarsa yang sudah tidak layak digunakan sejak 2010.

Untuk obat-obatan jenis tablet, pelaku menggosok label yang ada di bungkusan dan dipasang tulisan baru menggunakan stempel. Sedangkan untuk obat botol, pelaku mengganti kertas yang baru dengan waktu kedaluwarsa lebih lama.

Razia Pil PCC, Polisi Malah Dapat 197.270 Obat KedaluwarsaKapolda Sumsel Irjen Zulkarnain menunjukkan obat kedaluwarsa. (Raja Adil/detikcom)
"Modusnya itu obat-obatan yang sudah kedaluwarsa sejak tahun 2016 ke bawah itu digosok dan diganti data baru. Bahkan ada yang sudah dari tahun 2010 kedaluwarsanya yang seharusnya dimusnahkan dan tidak boleh diedarkan," sambung mantan Kapolda Riau ini.

Setelah label diganti, pelaku mengedarkan obat di wilayah Sumsel dengan sistem pesan dari daerah-daerah yang tidak terlalu peduli terhadap label waktu kedaluwarsa. Dari hasil pemeriksaan, pelaku telah menjalankan usaha ilegalnya ini sejak 2010 dengan keuntungan Rp 200-500 ribu per hari.

"Untuk pengembangan, penyidik telah menetapkan Hidayat sebagai tersangka dan memburu pelaku lain berinisial M yang kabur saat mengetahui dia (Hidayat) ditangkap. Saya imbau lebih baik menyerahkan diri sajalah," tuturnya.

Terakhir, pelaku yang diketahui sebagai lulusan sekolah menengah pertama (SMP) ini juga mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan sama sekali. Atas perbuatannya, pelaku akan dikenai Pasal 106 UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan ancaman 15 tahun penjara.
(fay/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed