DetikNews
Senin 02 Oktober 2017, 15:02 WIB

Perjuangan Istri Jenderal Revolusi, Jual Gaplek hingga Anggrek

Erwin Dariyanto - detikNews
Perjuangan Istri Jenderal Revolusi, Jual Gaplek hingga Anggrek Dari kiri-kanan: Ny DI Pandjaitan, Ny S Parman, Ny A Yani, Ny MT Haryono, Ny Soeprapto, Ny Soetojo. (Foto Repro buku)
Jakarta - Elina Lilik Elastria (Juwik) tak bisa membendung air mata setiap kali mengingat perjuangan sang ibu, Yayu Rulia Sutowiryo, pascatragedi Gerakan 30 September 1965. Sepeninggal suaminya, Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, yang menjadi korban Gerakan 30 September, Yayu mengalami depresi.

Sekitar setahun lamanya dia cuma mengurung diri, nyaris tak punya semangat hidup. Hingga suatu hari pada November 1966, Yayu mengumpulkan kedelapan anaknya. "Bapak pernah bilang sama Ibu (lewat mimpi) bahwa Ibu harus kuat," kata Juwik mengulang pernyataan Yayu saat berbincang dengan detikcom, Jumat (29/9/2017).

Sejak saat itu, Yayu bangkit, melakoni hidup dengan peran ganda: sebagai ibu dan ayah bagi delapan anaknya. Dia menerapkan disiplin keras dan aturan baru. Anak-anak tak boleh jajan dan selepas sekolah harus makan di rumah.

"Ibu sendiri mulai merintis usaha, namun beberapa kali mengalami kegagalan," kata Juwik lirih. Yayu, dia menambahkan, antara lain pernah berjualan gaplek, lalu sembako di Kemang. "Namun dua-duanya gagal."

Perjuangan Istri Jenderal Revolusi, Jual Gaplek hingga AnggrekAhmad Yani dan Istri.


Tapi sang ibu tak putus asa. Dengan sisa-sisa uang hasil penjualan rumah, dia membeli sebidang tanah di Kemang. Di atas tanah tersebut kemudian dibangun rumah. Menurut Juwik, ibunya memiliki kegemaran mendekorasi rumah dan memanfaatkan kemampuan itu. Rumah yang dibangun tersebut didesain dan didekorasi dengan menawan, lalu dijual.

Sukses itu membuat Yayu percaya diri untuk selanjutnya berbisnis rumah. Perekonomian keluarga pun mulai mapan. "Saya selalu menangis jika mengingat perjuangan ibu," kenang Juwik.

Perjuangan keras juga dilakoni Julie Suparti, istri Mayor Jenderal Soeprapto. Guna menopang kehidupan keluarga, dia berjualan batik, berdagang es mambo untuk anak sekolah, hingga membuat kue dan berjualan tanaman anggrek.

Istri Mayjen MT Haryono juga berjualan kue dan bunga anggrek dari kebun yang biasa dirawat Haryono kala masih bugar. Selain itu, dia menyewakan paviliun rumahnya kepada orang asing. Karena lokasinya yang strategis, peminatnya lumayan banyak sehingga dia secara bertahap bisa menambah beberapa paviliun baru.

"Dari usaha penyewaan ini, kebutuhan keluarga akhirnya terpenuhi. Bahkan kami pun mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan ke mancanegara," tutur putra-putri Mayjen Haryono dalam buku 'Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam'.

Lain lagi dengan istri mendiang Brigjen DI Pandjaitan. Sebagai ibu sekaligus bapak rumah tangga, ia menyiasatinya dengan membeli bus kota dan kemudian disewakan. Dari uang yang terkumpul, dia menggunakannya untuk membangun rumah lalu disewakan kepada orang asing.


(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed