DetikNews
Jumat 08 September 2017, 20:38 WIB

12 TKI yang Gajinya Tak Dibayar Dapat Bantuan Rp 1,4 M

Mega Putra Ratya - detikNews
12 TKI yang Gajinya Tak Dibayar Dapat Bantuan Rp 1,4 M Foto: Dok Kemnaker
Jakarta - Gaji 12 TKI yang bekerja di Amman, Yordania, tidak dibayar oleh majikan. Mereka akhirnya kembali ke Indonesia dan mendapat bantuan senilai US$ 111 ribu atau Rp 1,4 miliar.

"Pemerintah sangat mengapresiasi kontribusi yang diberikan oleh Bapak Dato' Tahir terhadap 12 TKI yang bermasalah di Yordania. Banyak pengusaha yang punya kepedulian sosial. Namun sedikit yang peduli pada nasib TKI," ujar Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dalam keterangan tertulis, Jumat (8/9/2017).

Bantuan itu datang dari Tahir Foundation dan diberikan di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (7/9/2017). Penyerahan dilakukan oleh Dato' Sri Tahir kepada 12 TKI dan disaksikan Hanif, perwakilan KBRI Yordania, serta BNP2TKI.

Hanif mengakui pekerja migran asal Indonesia di sektor domestik memang sangat rentan. Karena itu, pemerintah telah melarang pengiriman TKI sektor domestik ke 19 negara di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah terus mengupayakan perlindungan maksimal kepada TKI dengan melibatkan Atase Ketenagakerjaan dan KBRI di tiap negara pengguna TKI. Selain itu, pemerintah mengupayakan kesepakatan perlindungan yang mengikat dengan negara-negara penerima TKI untuk melindungi TKI dan keluarganya serta peningkatan kompetensi TKI.

Menurut Hanif, kembalinya 12 TKI tersebut menunjukkan kerja sama yang baik dari berbagai pihak, seperti Kementerian Luar Negeri, khususnya KBRI Yordania, BNP2TKI, serta Tahir Foundation.

Kepedulian Tahir atas 12 nasib TKI tersebut bermula ketika dirinya, yang juga sebagai Eminent Advocate dari Komisioner UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi), berkunjung ke Yordania untuk memberikan bantuan kepada pengungsi Suriah. Oleh pihak KBRI di Amman, Tahir dipertemukan dengan 12 TKI tersebut yang tinggal di penampungan KBRI.

Mereka melarikan diri dari majikan karena gajinya tidak dibayar. Ada yang tidak menerima gaji selama satu tahun, bahkan ada yang sampai 10 tahun. Pertemuan tersebut mengetuk hati Tahir untuk memberikan bantuan sebagai pengganti sebagian gaji serta memulangkannya ke Tanah Air.

"Sungguh tidak bisa diterima akal, orang bekerja bertahun-tahun tanpa menerima upah. Ini sungguh tidak adil," kata Tahir.

Dalam kesempatan itu, Tahir menyatakan komitmennya mendukung pemerintah yang terus berupaya mengurangi pengiriman TKI sektor domestik. Tahir juga mendukung pemerintah hanya akan mengirim TKI terampil.

Hanif dan Tahir mengimbau agar bantuan yang telah diterima hendaknya tidak digunakan untuk kepentingan konsumtif, melainkan untuk kepentingan produktif, seperti membuka usaha.

Ke-12 TKI tersebut adalah Tati Hartati binti Hidayat Saman (Tangerang, Banten), Nining Binti Nakib Emin (Karawang, Jawa Barat), Ikah Islamiyah (Bantul, DI Yogyakarta), Idah Rosyidah binti Juarta Ana (Bandung, Jawa Barat), Tira binti Tirya (Majalengka, Jawa Barat), Khusnul Khotimah (Pamekasan, Jawa Timur), Jumiah binti Nurite (Lombok Tengah, NTB) dan Musjalifah (Banjarmasin, Kalimantan Selatan).

Empat lainnya berasal dari Indramayu, Jawa Barat, atas nama Siti Soleha, Yuyun Yuniati, Maslikah, dan Siti Aisyah. Mereka tiba di Indonesia pada 6 September 2017.
(ega/nwy)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed