Abi Tewas Gara-gara Vape Rp 1,6 Juta, Ibunda: Ada Perdarahan di Otak

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Jumat, 08 Sep 2017 17:23 WIB
Rosani Nina Sari, ibunda Abi Qowi Suparto, yang tewas gara-gara vape. (Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom)
Jakarta - Rosani Nina Sari, ibunda Abi Qowi Suparto (20), menceritakan soal putranya yang dituduh mencuri vape seharga Rp 1,6 juta hingga tewas dikeroyok. Saat itu, suaminyalah yang pertama kali mendapat informasi tentang Abi.

"Pada malam tanggal 28 (Agustus), ayahnya ditelepon sama seseorang yang bernama Firman mengatakan anakku dalam kondisi kritis. Terus pada saat itu juga suamiku datang pukul 20.00 WIB ke Jalan Penjernihan Raya 29, kondisi anakku sudah kritis," kata Nina di Mapolda Metro, Jl Sudirman, Jakarta, Jumat (8/9/2017).



Nina tak ikut melihat langsung saat anaknya berada dalam kondisi kritis. Adik Abi-lah yang datang ke lokasi dan membawanya ke rumah sakit.

"Dari situ diberi tolong, dibawa ke RS Tanah Abang, dalam kondisi kritis. Sampai Tanah Abang karena tidak ada perawatan, dirujuk ke RS Tarakan. Satu hari di ruang UGD, dipindah ke ICU selama enam hari, sampai anakku meninggal tanggal 3 (September) hari Minggu pukul 17.00 WIB," tuturnya.

Nina mengisahkan saat itu Abi dalam kondisi tak sadar. Fisik Abi juga lebam dan terjadi perdarahan di otak.

"Nggak (sadar), koma selama enam hari. Hari minggu dia meninggal pukul 17.00 WIB. Kondisi fisiknya lebam di sini, kata dokter ada pendarahan di otak sudah melebar," terangnya.

Menurut keterangan dokter, lanjut Nida, luka lebam di tubuh Abi disebabkan benda tumpul. Nina mengaku tidak kuat melihat kondisi anaknya itu.

"Kata dokter ya ini karena benda tumpul," tuturnya.

Keluarga sebenarnya telah mengikhlaskan meninggalnya Abi. Namun dua hari setelahnya, beredar video pengeroyokan terhadap Abi. Keluarga pun melaporkan hal tersebut ke polisi.

"Aku nggak bisa ini ya karena itu tadinya keluarga sudah mengikhlaskan, tiba-tiba dua hari setelah tahlilan ada temannya yang bilang, 'Ini Bu ada videonya'. Tapi aku nggak lihat karena nggak sanggup," ujarnya. (knv/idh)