DetikNews
Kamis 07 September 2017, 18:36 WIB

Emas Papua

Ini Sosok Allen Dulles, Tokoh di Balik Jatuhnya Sukarno - Kennedy

Erwin Dariyanto - detikNews
Ini Sosok Allen Dulles, Tokoh di Balik Jatuhnya Sukarno - Kennedy Direktur CIA Allen Dulles (Foto: Repro Dokumentasi CIA [dot] gov)
Jakarta - Indonesianis asal Australia, Greg Poulgrain menyebut mantan Direktur of Central Intelligence Agency (CIA) Allen Dulles berada di balik jatuhnya Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dan Presiden Sukarno. Allen Dulles menghabiskan hampir separuh hidupnya di dunia intelijen.

Baca juga: Demi Emas di Papua, CIA Gulingkan Sukarno dan Kennedy

Dikutip dari www[dot]cia[dot]gov, Dulles pada 1951 sudah dipercaya sebagai Wakil Direktur CIA. Lelaki kelahiran Watertown, New York, 7 April 1893 itu figur sipil pertama di kursi Direktur CIA. Dia menjadi Direktur CIA untuk dua Presiden AS, Dwight D. Eisenhower dan Kennedy. Eisenhower melantik Allen Dulles sebagai Direktur CIA pada 26 Februari 1953 dan 10 November 1960 oleh F. Kennedy.

Ini Sosok Allen Dulles, Tokoh di Balik Jatuhnya Sukarno - Kennedy Mantan Direktur CIA Allen Dulles dengan Presiden AS John F Kennedy (Foto: Foto Repro buku "The Incubus of Intervention")


Di masa Kennedy, Dulles hanya setahun menjabat. Insiden Teluk Babi atau The Bay of Pigs invasion di Kuba membuat Presiden Kennedy murka terhadap CIA. Invasi Teluk Babi yang terjadi pada 17 April 1961 disebut dilakukan oleh kelompok paramiliter Brigade 2506. Kelompok ini dilatih dan didanai oleh CIA pimpinan Dulles. Invasi dilakukan untuk menggulingkan Presiden Kuba Fidel Castro.

Namun militer Kuba ternyata berhasil mematahkan serangan tersebut hanya dalam waktu 3 hari. Kennedy pun mencopot Allen Dulles pada 29 November 1961.

"Saya mungkin membuat kesalahan dengan melanjutkan jabatan Allen Dulles. Ini bukan karena Dulles tidak memiliki kecakapan tinggi. Ia berkemampuan tinggi. Tapi saya tidak punya pengalaman bekerja dengannya, jadi saya tidak mampu memahami maksudnya saat dia berbicara dengan saya. Dulles adalah seorang yang luar biasa dan sulit untuk bekerja dengan orang yang luar biasa," kata Kennedy dalam buku A Thousand Days yang ditulis Arthur M. Schlesinger Jr.

Menurut Poulgrain, penulis buku "The Incubus of Intervention Conflicting Indonesia Stretagies of John F Kennedy and Allen Dulles" Kennedy sering berseberangan sikap dengan Dulles. Salah satunya soal sikap Amerika terhadap Papua Barat.

Sebenarnya keduanya sama-sama sepakat bahwa Belanda harus menyerahkan Papua Barat ke Indonesia. Namun Kennedy ingin Sukarno tetap menjadi Presiden Indonesia, sebaliknya Dulles ingin ada pergantian. "Dulles menerapkan pengaruh yang berlawanan dengan kebijakan luar negeri Amerika," tulis Poulgrain.

Meski tak lagi menjadi Direktur CIA ternyata Allen Dulles masih memainkan peran penting di dunia intelijen Amerika. Bahkan pada 1964 Presiden Johnson meminta Dulles bergabung dengan Hakim Earl Warren dalam Komisi Penyelidikan kasus pembunuhan Kennedy, 1963.

Menurut Poulgrain, Allen Dulles juga berperan dalam masuknya wilayah Papua Barat ke Indonesia. Dulles mulai mengenal Indonesia sebelum Perang Dunia II. Saat itu dia adalah advokat paling hebat di Eropa untuk Sullivan & Cromwell, firma hukum dari Wall Street yang bertugas mengadvokasi perusahaan minyak yang didirikan oleh pengusaha Amerika Serikat Rockfeller.

Salah satu perusahaan keluarga Rockfeller berkongsi dengan perusahaan Belanda untuk menggarap tambang minyak dan gas di Indonesia yang ketika itu dijajah Belanda. "Allen Dulles mampu mengatasi rintangan-ringatan yang dibuat oleh Belanda untuk masuk ke wilayah Hindia Belanda," tulis Poulgrain.

Allen Dulles pun ingin perusahaan minyak milik keluarga Rockfeller menggarap tambang emas di Papua Barat. Namun niat tersebut terganjal sikap Kennedy yang bersahabat baik dengan Sukarno yang pada 1961 merevisi semua kontrak pengelolaan tambang Inddesia. Sukarno menetapkan bagi hasil 60 persen dari keuntungan perusahaan tambang diserahkan ke Indonesia. Menurut Poulgrain, kebijakan Sukarno itu jelas menghalangi rencana Dulles yang ingin keluarga Rockfeller menggarap tambang emas di Papua.

Tahun 1964, Sukarno mengundang Kennedy untuk ke Papua. Namun rencana itu tak terwujud karena Kennedy tewas tertembak saat berkunjung ke Dallas dengan iringan mobil terbuka pada Jumat, 22 November 1963. Dua tahun kemudian kekuasan Presiden Sukarno goyang menyusul terjadinya peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S). Poulgrain menduga Allen Dulles berada di balik tergulingnya Sukarno dan Kennedy.

Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam meragukan temuan Poulgrain tersebut. Menurut Asvi, Allen Dulles sudah tak jadi direktur CIA saat Kennedy tewas dan kekuasaan Presiden Sukarno tumbang. "Apakah dia (Dulles) masih memiliki kekuasaan dan pengaruh yang kuat saat itu," kata Asvi.

Asvi turut menjadi pembedah buku Poulgrain yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul, "Bayang-bayang intervensi, Perang Siasat John F Kennedy dan Allen Dulles atas Sukarno" di kantor LIPI pada Selasa, 5 September 2017.

"Namun narasi dalam buku tersebut menarik, hanya saja tidak didukung oleh data yang lengkap. Harusnya (buku) disertai dengan data yang kuat," kata Asvi.
(erd/jat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed