DetikNews
Rabu 09 Agustus 2017, 18:25 WIB

Kisah Hidup Driver GO-JEK yang Juga Pegiat HIV/AIDS

Niken Widya Yunita - detikNews
Kisah Hidup Driver GO-JEK yang Juga Pegiat HIV/AIDS Diyon, driver GO-JEK pegiat HIV/AIDS (Dok. Diyon)
Jakarta - Namanya Ngadiyono alias Diyon. Dia merupakan pegiat HIV/AIDS di Solo, Jateng. Tugasnya sebagai penggiat HIV/AIDS tidaklah mudah. Cibiran sudah akrab diterima oleh pria 34 tahun itu.

Karena masyarakat awam akan HIV/AIDS, dibutuhkan kesabaran untuk menemukan kasus tersebut.

"Pada dasarnya ini pekerjaan sosial. Mungkin mendengar kata HIV/AIDS, membuat orang takut," ujar Diyon, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (9/8/2017).

Diyon memulai kehidupannya sebagai penggiat HIV/AIDS sejak 2015 di Solo. Nama yayasan tempatnya bernaung adalah Mitra Alam. Awal dia terjun di dunia sosial tersebut dimulai setelah banyak rekannya meninggal karena positif HIV/AIDS.

"Di Batam itu banyak teman yang meninggal karena positif HIV/AIDS," kata Diyon.

Diyon pernah bekerja di Batam pada 2011-2015. Dia bekerja sebagai sopir warga negara asing. Di sana, kehidupannya dekat dengan seks bebas.

Namun, menyadari beberapa teman-temannya meninggal karena HIV/AIDS, Diyon pulang ke Solo. Di sana dia menganggur dan bertemu dengan rekannya di Yayasan Mitra Alam. Rekannya itu lalu menyarankan dia menjalani tes HIV/AIDS.

Diyon dan rekan-rekannya di Yayasan Mitra AlamDiyon dan rekan-rekannya di Yayasan Mitra Alam (Dok. Diyon)

Sadar karena banyak yang meninggal karena HIV/AIDS, Diyon lantas mengiyakan saran temannya itu. Dia bahkan sampai menjalani tes HIV/AIDS selama tiga kali.

"Saya tes pertama hasilnya negatif. Setelah 3 bulan, saya tes lagi untuk memastikan lagi. Tiga bulan lagi saya tes lagi dan hasilnya negatif," ucap Diyon.

Diyon lega setelah hasil tes HIV/AIDS negatif. Dia pun akhirnya menjadi pegiat HIV/AIDS dengan terjun langsung ke tempat-tempat yang dekat dengan gaya hidup seks bebas. Dia memberikan edukasi bagi masyarakat di sana.

Kemudian pada Mei 2016, Diyon masuk GO-JEK. Sebagai single parent, dia harus menghidupi dua anaknya yang masih bersekolah. Pendapatannya di GO-JEK dapat menafkahi anak-anaknya. Selain itu, untuk kebutuhan sehari-hari.

"Saya merasakan jam kerja yang fleksibel dan hasil yang didapat di Go-Jek lebih baik saat saya kerja di pabrik," katanya.

Selama menjadi driver GO-JEK, Diyon juga masih aktif di yayasan tersebut. Bahkan dia juga memberikan edukasi bagi customer-nya.

"Customer saya ada yang tanya kegiatan saya apa selain GO-JEK. Saya jelaskan dan mereka cukup mengerti yang dijelaskan," tuturnya.

Diyon dan rekan-rekannya di Go-Jek (Foto: Dok. Diyon)Diyon dan rekan-rekannya di GO-JEK (Dok. Diyon)

Kini dia lebih fokus pada pekerjaannya sebagai driver GO-JEK. Diyon aktif di Yayasan Mitra Alam bila ada kegiatan.

Diyon memiliki pesan untuk mereka yang akrab di dunia seks bebas, yakni segera menjalani tes HIV/AIDS.

"Kalau sehat, mereka dapat beraktivitas sedia kala. Sebagai kepala rumah tangga, mereka berhak menafkahi anak-anaknya," kata Diyon menutup perbincangan.
(nwy/ega)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed