DetikNews
Rabu 09 Agustus 2017, 04:23 WIB

Tentang FPU Indonesia dan Peranannya di Misi Perdamaian PBB

Mei Amelia R - detikNews
Tentang FPU Indonesia dan Peranannya di Misi Perdamaian PBB Formed Police Unit Indonesia di Sudan (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) setiap tahunnya mengirimkan delegasi ke Sudan untuk menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kontingen Formed Police Unit (FPU) Indonesia yang menjadi delegasi memiliki peranan penting dalam misi tersebut.

"Di sana ditempatkan kontingen Polri, yang disebut kontingan Garuda ke-9. FPU itu berjumlah 140 personel, kemudian IPO (Individual Police Officer) 16 orang. Mereka di bawah kerja di bawah naungan PBB dalam konteks menjaga perdamaian yang disebut peacekeeping," ujar Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen HS Maltha di kantornya, Jl Patimura No 38, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (8/8/2017).

Tentang FPU Indonesia dan Peranannya di Misi Perdamaian PBBIrjen HS Maltha (Foto: Mei R Amelia/detikcom)
FPU Indonesia adalah satuan tugas Polri yang secara administratif pembinaan berada di bawah Biro Misi Internasional (Romisinter) Divisi Hubungan Internasional (Hubinter) Polri. Namun secara operasional, FPU Indonesia berkedudukan di bawah misi gabungan Uni Afrika-PBB di Darfur (AU-UN Hybrid Mission In Darfur/UNAMID).

Satgas FPU Indonesia mempunyai tugas dan wewenang sesuai mandat UNAMID Police dan UNAMID FPU Duties, yang merupakan penjabaran dari UNSCR 1769 Tahun 2007. Tugas itu adalah melindungi personel dan fasilitas PBB (Protect UN personnel and facilities), melindungi warga sipil (protect civilian), serta mendukung kegiatan operasi kepolisian di Sudan.

Tugas FPU-9 Indonesia adalah menjaga para pengungsi internal (IDPs) di Area of Responsibility (AoR) sesuai zona warden atau Zone C yang terdiri dari 11 subzone yang wajib dilakukan patroli dan pengamanan. Zone Warden merupakan kawasan pemukiman warga lokal, namun sebagian kecil ada yg disewakan untuk tempat tinggal staf PBB diluar super camp yang bekerja di UNAMID yang wajib dilindungi jika terjadi tindak kriminal dan serangan dari pihak pemberontak.

Kegiatan Sosial

Di luar tugas-tugas pokoknya sebagai penjaga perdamaian, tim FPU Indonesia juga melakukan kegiatan sosial yang tidak kalah pentingnya. Konflik berkepanjangan di Sudan memang telah membuat masyarakat Sudan hidup dalam serba keterbatasan, sehingga perlu adanya bantuan dari pihak UNAMID.

"Kontingen Indonesia khususnya FPU 9, mereka di samping bisa melakukan tugas pokoknya, mereka juga bisa melakukan tugas-tugas samping seperti melakukan kegiatan sosial, memberikan hiburan, mengajarkan tarian, transform of culture jadi mereka mengajarkan menyanyi, bahasa, mengaji juga tidak kalah pentingnya," papar Maltha.

Tentang FPU Indonesia dan Peranannya di Misi Perdamaian PBBFoto: Mei R Amelia/detikcom
Kondisi para pengungsi di kamp penampungan sangat jauh dari layak. Para pengungsi hidup dengan segala keterbatasan, seperti tidur beralaskan pasir hingga kebutuhan makanan dan minuman yang sangat tergantung kepada bantuan dari PBB.

Tidak jarang, tim FPU melakukan kegiatan charity (amal), yang tentunya atas seizin UNAMID (United Nations-African Mission In Darfur). "Banyak kegiatan sosial yang kami lakukan, seperti yang kami lihat kemarin mereka (tim FPU) mendatangi kamp pengungsi, memberikan buku alat tulis, alat-alat belajar lainnya yang semuanya diserahkan langsung oleh kami mewakili Polri yang ditugaskan oleh Bapak Kapolri," sambungnya.

Dalam pergaulannya sehari-hari dengan kepolisian negara lain, tim FPU saling bertukar informasi hingga pengalaman. "Jadi banyak hal yang didapat oleh anggota yang melakukan tugas, baik yang juga memberikan di Sudan tidak dibatasi ke polisi Sudan, tapi juga ke polisi-polisi yg melaksanakan tugas misi PBB di sana," terangnya.

Kontingan FPU Indonesia sering mendapat predikat terbaik karena banyaknya kegiatan positif yang dilakukan. "Sejauh ini memang beberapa kontingen sampai ke kontingen 9, kita selalu merebut hati mereka dan mendapat predikat menjadi kontingen terbaik selama penugasan di El-Fashier, Darfur, Sudan," katanya.

"Oleh karena itu kami harapkan ke depan agar tetap termotivasi apapun kegiatannya di sana, agar tetap menjaga nama baik bangsa dan negara terutama Polri," sambungnya.

Dalam menjalankan misi perdamaian PBB, kontingen Polri ini tidak hanya dikirim ke Sudan. Sampai saat ini, Polri sudah mengirimkan 4 ribu personel ke beberapa negara yang berkonflik.

"Sebagai informasi masyarakat, bahwa polisi dalam konteks mengirimkan ke misi perdamaian ini sudah berjumlah 4.000 personel tidka hanya di Sudan, tetapi juga ke Haiti, Kamboja, Bosnia, kemudian ada di Naribia dan lain-lain. Insya Allah sampai saat ini mereka sudah punya predikat cukup baik, menjadi peringkat pertama bahkan kontingen terbaik apabila dibanding berbagai kontingen lain," tuturnya.

Melindungi Sipil

Tim FPU Indonesia bertugas melindungi Internal Displace Peoples (IDPs) atau pengungsi internal di AoR sesuai zone warden, salah satunya di El-Fashier, Darfur. Mereka bertugas untuk berpatoki, memastikan para pengungsi dalam keadaan aman.

"Setiap subzone dipimpin oleh komandan regu dan wadanru, sedangkan Komandan Peleton melakukan pengecekan pada setiap subzone dan patroli mobile, kemudian untuk pengaturan jadwal dan pusat pelaporannya berada dibawah Komando Kepala Seksi Operasi" jelas AKBP Ahmad Arif Sopiyan, SIK selaku Kasatgas Garuda Bhayangkara II FPU 9 Indonesia.

Dalam pelaksanaan tugas, Kasatgas selalu menekankan kepada seluruh anggotanya untuk selalu menampilkan performance yang baik dan selalu quick response (sesuai SOP) terhadap setiap kejadian yang terjadi di lapangan, baik kejadian kriminal ataupun kejadian lain yang membutuhkan kehadiran dan pertolongan dari FPU.

Seperti contoh, tim FPU memberikan bantuan kepada warga di subzone, ketika mobilnya mengalami mogok. Di tengah cuaca yang cukup panas, tim yang berjumlah 4 (empat) orang tersebut mwmberikan pengamanan sesuai SOP.

"Yang mana, 2 orang dari tim melakukan pengamanan (perimeter) dan yang 2 orang lagi melakukan pengecekan dan mencoba memperbaiki kendaraan, yang kebetulan salah satu dari mereka yaitu Brigadir Sahril merupakan anggota yang paham masalah mesin kendaraan dan akhirnya mobil tersebut dapat diperbaiki," tutur Sopiyan.
(mei/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed