DetikNews
Kamis 03 Agustus 2017, 12:43 WIB

Napi Kontrol 1,2 Juta Ekstasi, Yasonna: Kalapas Nggak Jadi Promosi

Ray Jordan - detikNews
Napi Kontrol 1,2 Juta Ekstasi, Yasonna: Kalapas Nggak Jadi Promosi Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan Menteri Sri Mulyani merilis pengungkapan 1,2 juta butir ekstasi. (Ari/detikcom)
FOKUS BERITA: Penyelundupan 1 Ton Sabu
Jakarta - Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mencopot Abdul Haris dari jabatan Kepala Lapas Batu, Nusakambangan. Yasonna menegaskan pencopotan tersebut konsekuensi dari kinerjanya yang dinilai buruk.

"Ya memang konsekuensinya begitu. Siapa pun itu, apa pun itu, harus bertanggung jawab dari bawah," kata Yasonna saat ditemui wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (3/8/2017).

Pencopotan Abdul Haris tersebut berkenaan dengan kasus impor narkoba jenis ekstasi sebanyak 1,2 juta butir dari Belanda yang dikendalikan oleh narapidana 15 tahun bernama Aseng. Yasonna mengatakan, jika ditelusuri ke bawah, pasti banyak yang terlibat.

"Kalau di bawahnya lagi diteliti siapa, kan banyak," kata Yasonna.

Padahal Abdul Haris itu akan dipromosikan ke Lampung atau Bengkulu. Akibat kasus ini, promosi itu pun batal.

"Tapi KPLP (Kesatuan Pengaman Lembaga Pemasyarakatan), Kalapas sebenarnya dia sudah selesai. Dia mau dipromosi, dipindahkan ke Lampung apa Bengkulu. Ya sudah, nggak jadi, batal," katanya.

[Gambas:Video 20detik]

Terkait dengan kasus pengendalian narkoba dari balik lapas tersebut, Yasonna mengatakan pihaknya terkendala pada sisi deteksi.

"Kan dari dulu saya bilang, kami itu kan nggak punya teknologi yang bisa mendeteksi manusia-manusia ini. Juga kita tidak punya peralatan yang cukup," katanya.

Untuk itu, kata Yasonna, saat ini pihaknya mengoptimalkan lapas ataupun rutan khusus untuk terpidana narkoba. Dia mencontohkan fasilitas yang ada di Gunung Sindur, Bogor.
Napi Kontrol 1,2 Juta Ekstasi, Yasonna: Kalapas Nggak Jadi Promosi

"Sekarang Sindur itu ada dua rutan, ada satu lapas, satu rutan. Itu sekarang kita akan kita committed untuk bandar. Hanya, nama-namanya kami butuh dari BNN. Yang betul-betul, yang mereka menyidik, mereka yang tahu dari Polri siapa yang potensial, siapa yang punya jaringan. Kalau hanya kurir kan dia nggak punya jaringan. Kemudian di Langkat satu, di Langkat, Sumatera Utara, jaringannya besar. Kemudian ada di beberapa tempat, itu memang committed. Kita bilang seperti MoU kita dulu waktu rapat Mahkumjakpol, kita kan sepakat ada BNN yang jagain, ada polisi, ada kita. Supaya jangan ada dusta di antara kita. Kalau nanti nggak, dilempar lagi tanggung jawab ke kita, dilempar tanggung jawab, supaya enaknya itu kita jagain bersama," jelasnya.
(jor/asp)
FOKUS BERITA: Penyelundupan 1 Ton Sabu
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed