Jelajah Calon Ibu Kota

Bagaimana Nasib Orangutan Jika Ibu Kota Ada di Kalteng?

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Rabu, 19 Jul 2017 14:31 WIB
Foto: Debora Kusumadewi/dTraveler
Palangka Raya - Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran, akan menjaga dan mempersiapkan keberlangsungan orangutan Kalimantan jika Kalteng ditunjuk jadi ibu kota. Sugianto menyoroti pihak yang menyebut orangutan akan terancam jika Kalteng jadi ibu kota negara. Baginya manusia lebih penting dari pada orangutan.

"Saya nanya, antara situ (manusia) dengan orangutan siapa yang lebih sempurna? Nah kalau manusia, manusia nggak bisa lapar, nggak bisa kalau nggak makan. Kita mau urus sesuatu kita wajib saling menjaga, wajib saling bersinergi," kata Sugianto kepada detikcom, Selasa (11/7/2017) lalu.
Bagaimana Nasib Orangutan Jika Ibu Kota Ada di Kalteng?Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran. Foto: Noval/detikcom

Sugianto mengatakan masyarakat Kalteng harus saling menjaga dan bersinergi dengan alam sekitar termasuk orangutan. "Alam itu jangan dijadikan sumber kehidupan, kalau dijadikan sumber kehidupan berarti manusia akan menguras alam itu," ujarnya.

Sugianto mengkritik pihak luar yang terlalu membesar-besarkan keberlangsungan orangutan yang terancam di pulau Kalimantan. Baginya masyarakat pedalaman Kalimantan Tengah juga terancam dengan kondisi ekonomi dan kesehatan yang buruk.

"Tidak boleh kadang-kadang kayak orang luar negeri itu (terlalu membesar-besarkan nasib orangutan), menghina itu mas (orang luar negeri). Coba bayangkan saja, orangutan baru meninggal ribut itu orang luar negeri, tapi kalau manusia (di pedalaman) sini mati karena kelaparan, pernah nggak orang luar negeri ribut? termasuk media juga," tegasnya.

"Iya kecuali kalau (bagi) orang-orang itu, orangutan lebih sempurna dari pada mereka. Kita ini mahluk yang sempurna, saling menjaga dengan yang lain, tetap saling menjaga. Tapi tidak boleh juga dibesar-besarkan," tambahnya.



Dia juga menyoroti biaya penangkaran orangutan yang lebih besar dari pendapatan masyarakat Kalteng di pedalaman. "Rakyat saya di sekitar hutan itu penghasilannya belum tentu Rp 10.000, Rp 5.000 perhari, bayangkan. Sementara orangutannya baru di pelihara untuk dilepas liar di habitat, Rp. 3 juta per ekor, sementara rakyat saya belum tentu Rp 3 juta per bulan. Manusia kadang-kadang lucu berfikirnya terbalik," sebutnya.

Keberlangsungan orangutan di Kalimantan akan tetap terjaga dan dilestarikan meski Kalteng jadi Ibu Kota. Namun dia berharap jangan membesar-besarkan nasib orangutan yang akan terancam.

"Iya kita jaga, makanya saya tanya, apakah negara maju mereka punya hutan? Nah sekarang giliran (hutan) kita dijaga (mereka). Sementara kita mau menjaga kota baru, mau membangun ekonomi, kita jaga, regenerasinya sekarang. Kita ini generasi milenial yang sudah masuk semuanya ini, apapun semuanya tinggal klik, tinggal klik, kita jangan juga terpancing isu masalah sedikit, oh paru-paru dunia. Kita menyadari itu paru-paru dunia, kalau kita (dianggap) paru-paru dunia, mana itu uang-uangnya (orang luar negeri)? Tetap saja orang kita tidak bisa bekerja, sanggup nggak orang itu andai kata dikasih kompensasi Rp 10 juta Rp 15 juta setiap bulan, andai kata ada, kita jaga itu hutan," tutupnya. (nvl/tor)