DetikNews
Senin 17 Juli 2017, 19:48 WIB

Lika-liku Nasib Novanto: Ketua DPR, Ketum Golkar, Kini Tersangka

Indah Mutiara Kami - detikNews
Lika-liku Nasib Novanto: Ketua DPR, Ketum Golkar, Kini Tersangka Setya Novanto (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Perjalanan politik Setya Novanto bisa jadi bikin publik mengingat judul lagu Meggi Z: 'Jatuh Bangun'. Menanjak saat jadi Ketua DPR, menukik ketika kasus 'papa minta saham', bangkit lagi jadi Ketum Golkar dan Ketua DPR lagi, kini jatuh di lubang kasus e-KTP.

Novanto adalah politikus berlatar belakang pengusaha. Dia mulai bersentuhan dengan dunia politik pada 1990, dengan bergabung ke Kosgoro, salah satu ormas pendiri Golkar. Tiga tahun kemudian, pada 1993, pria kelahiran Bandung, 12 November 1955, itu mulai masuk ke DPP Golkar dengan menjadi bagian dari Tim Pokja.



Kariernya di Golkar bisa dibilang terus menanjak. Pada 1998, Novanto masuk jajaran elite Golkar sebagai Wakil Bendahara Golkar. Di beberapa pergantian Ketum, Novanto terus mengisi posisi bendahara hingga pada 2010 Novanto diangkat Aburizal Bakrie menjadi Bendahara Umum Golkar.

Posisinya di DPR juga menanjak. Tahun 1998 dia sudah masuk jajaran elite parpol dengan melesat menjadi Wakil Bendahara Golkar. Beberapa kali pergantian kepengurusan Golkar, Novanto tetap akrab dengan posisi bendahara.

Hingga akhirnya, pada tahun 2010, oleh Aburizal Bakrie (Ical), yang baru saja terpilih menjadi ketum saat itu, Novanto diangkat jadi Bendahara Umum. Tak hanya itu, Novanto juga ditunjuk memimpin Fraksi Golkar DPR.

Perjalanan karier Novanto tetap mulus hingga akhirnya DPP Golkar dilanda perpecahan. Posisi Novanto, yang setia bersama Ical, naik lagi. Dia diangkat menjadi Wakil Ketua Umum DPP Golkar hasil Munas Bali.

Karier politik Novanto berada di puncak ketika dia berhasil menduduki kursi Ketua DPR di pengujung 2014. Setelah berada di puncak, kereta politik Novanto menukik.

Novanto 'jatuh' dari kursi Ketua DPR karena skandal akhir tahun 2015 saat dia diduga minta saham PT Freeport Indonesia. Novanto disidang Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR. Seluruh anggota MKD memvonisnya bersalah. Wakil rakyat dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II itu pun memilih mundur dari posisinya dan kemudian duduk sebagai Ketua Fraksi Golkar.

Dia bangkit lagi saat memenangi persaingan di Munaslub Golkar dan menjadi Ketum Golkar mengalahkan Ade Komarudin. Dalam kurun setahun setelah mundur dari kursi Ketua DPR, posisi Novanto terus menanjak.

Berbekal putusan MK, MKD memulihkan nama baik Novanto. Hal itu jadi dasar Golkar untuk mengembalikan Novanto ke posisi Ketua DPR menggantikan Ade Komarudin.

Kurang dari setahun setelah jadi Ketua DPR lagi, Novanto kembali 'jatuh'. Setelah nama Novanto beberapa kali disebut dalam kasus e-KTP, termasuk di persidangan, hari ini KPK mengumumkan Novanto sebagai tersangka baru di kasus e-KTP.
(imk/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed