detikNews
2017/07/14 16:28:51 WIB

4 Langkah Galak Duterte yang Bikin Gembong Narkoba Lari ke RI

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Halaman 2 dari 2
4 Langkah Galak Duterte yang Bikin Gembong Narkoba Lari ke RI Duterte menjajal 'senapan sniper' pemberian China. Foto: Romeo Ranoco/ REUTERS
Rodrigo Duterte. Rodrigo Duterte. Foto: Reuters

Duterte tak hanya mengerahkan aparat kepolisian saja dalam memerangi narkoba. Dia bahkan membolehkan warganya untuk menembak penjahat narkoba.

"Jika mereka (pelaku kriminal) ada di lingkungan Anda, silakan menghubungi kami, polisi, atau lakukan sendiri jika Anda memiliki senjata. Anda mendapat dukungan saya," ucap Duterte kepada pendukungnya pada Minggu (5/6) malam, seperti dilansir AFP, Senin (6/6/2016).

Hal itu dia katakan setelah terpilih menjadi Presiden Filipina dan belum dilantik. Dia bahkan menawari uang bagi warga yang menembak mati bandar narkoba.

"Saya akan membayar, untuk setiap gembong narkoba: 5 juta peso (Rp 1,4 miliar) jika dia tewas. Jika dia (ditangkap) hidup, hanya 4,999 juta peso," cetusnya sambil tertawa.

3. Melibatkan Militer Memerangi Bandar Narkoba

Korupsi yang terungkap di tubuh kepolisian Filipina membuat Duterte menghentikan operasi perlawanan terhadap narkoba yang dilakukan instansi tersebut pada 30 Januari 2017. Duterte lalu menunjuk badan anti-narkotika Filipina untuk memimpin perang terhadap narkoba dan meminta bantuan militer.

"Saya masih harus menyusun, apakah sebuah pemberitahuan atau sebuah perintah eksekutif, tapi memerlukan AFP (angkatan bersenjata Filipina, -red) dan mengangkat isu narkoba sebagai ancaman keamanan nasional, jadi saya bisa memanggil militer untuk membantu," kata Duterte seperti dikutip dari Reuters, Kamis (2/2/2017).

Duterte mengaku hanya ingin melibatkan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) dalam kebijakan memerangi narkoba, karena dirinya tidak lagi mempercayai kepolisian Filipina. Dia menegaskan, tak butuh kewenangan tambahan untuk kebijakan ini.

"Saya masih harus menyusun, apakah sebuah pemberitahuan atau sebuah perintah eksekutif, tapi memerlukan AFP dan mengangkat isu narkoba sebagai ancaman keamanan nasional, jadi saya bisa memanggil militer untuk membantu," tegasnya.

Selain itu ada seratusan polisi yang ketahuan memakai narkoba. Kepala kepolisian setempat menangis setelah mendengar kabar ini.

4. Ingin Eksekusi Mati 5-6 Penjahat Narkoba per Hari

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menegaskan niatnya untuk memberlakukan kembali hukuman mati di Filipina. Duterte bahkan mencetuskan keinginannya agar setiap harinya ada 5-6 penjahat kriminal dan narkoba yang dieksekusi mati.

Seperti dilansir AFP, Senin (19/12/2016), presiden berusia 71 tahun ini menjadikan pemberlakuan kembali hukuman mati di Filipina sebagai prioritas legislatif utamanya. Hal itu menjadi bagian dari kebijakan perang brutal melawan kriminal dan narkoba yang sejauh ini telah menewaskan 5 ribu orang.

"Pernah ada hukuman mati sebelumnya, tapi tidak ada hal apapun yang terjadi. Kembalikan itu pada saya dan saya akan melakukannya setiap hari: lima atau enam orang (penjahat). Itu sungguh-sungguh," tegas Duterte dalam pernyataannya pada Sabtu (17/12).

Duterte menegaskan, eksekusi mati penting dilakukan untuk memerangi momok narkoba yang disebutnya telah menghancurkan Filipina.


(bag/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com