DetikNews
Jumat 16 Juni 2017, 14:50 WIB

Ramadan di Liverpool: Kebersamaan di Malam Singkat & Liga Champions

Jati Aulia Suriadikusumah - detikNews
Ramadan di Liverpool: Kebersamaan di Malam Singkat & Liga Champions Foto: Jam 9 malam di Inggris yang masih terang benderang saat Bulan Ramadan (Jati A Suriadikusumah)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Liverpool - Bulan Ramadan di Inggris dilalui dengan waktu malam yang cukup singkat. Pertandingan final Liga Champions lalu menjadi suatu berkah yang mempersatukan kami menghadapi kondisi ini. Malam yang pendek juga menjadi berkah bagi suatu rencana kejutan ulang tahun kepada salah seorang dari kami.

Selama ini, setiap tahunnya, saya selalu menjalankan puasa bulan Ramadan di Indonesia. Saya terbiasa dengan menjalani sahur hingga batas Imsak sekitar jam 04.00 dan buka puasa sekitar pukul 18.00 (secara umum di Indonesia bagian barat). Total waktu puasa di Indonesia adalah sekitar 14 jam setiap harinya. Namun puasa tahun ini merupakan pengalaman baru bagi saya.

Saat ini saya sedang menjalani kuliah S2 di Liverpool, Inggris. Setiap tahunnya, bulan Ramadan di wilayah Inggris jatuh pada musim panas. Di saat musim panas, durasi siang hari lebih panjang daripada malam hari.

Pukul 03.30, fajar sudah mulai terlihat dan matahari baru mulai terbenam lewat dari pukul 21.00 malam. Ketika cuaca cerah, pukul 21.00 malam pun masih terang benderang di luar sana.

Hal ini juga mempengaruhi waktu salat dan waktu puasa setempat. Sekitar pukul 02.30, kami sudah harus berhenti makan dan minum karena sudah Imsak dan kami akan berbuka puasa sekitar pukul 22.00.

Total waktu puasa adalah sekitar 19 jam. Bahkan semakin mendekati akhir Ramadan, siang hari menjadi makin panjang. Dengan kata lain, waktu Imsaknya semakin pagi dan waktu berbuka puasanya semakin malam. Puasa yang lebih panjang ini merupakan suatu tantangan baru yang harus kami jalankan.

Namun di balik lebih lamanya waktu puasa, ada tantangan lain yang tidak kalah seru yaitu malam yang pendek. Bisa dibayangkan, waktu Magrib adalah sekitar pukul 21.30, Isya sekitar pukul 22.30 dan tarawih akan selesai sekitar pukul 01.00. Selanjutnya, pukul 02.00 kami sudah harus sahur. Waktu malam yang pendek ini menyebabkan kami menjadi seperti kelelawar yang hampir tidak pernah tidur di malam hari sampai dengan waktu Subuh tiba.

Di Indonesia, kita tidak terlalu sulit mengadakan acara buka puasa bersama. Buka puasa bisa diadakan sepulang kerja hingga bubar di waktu yang tidak terlalu larut malam. Sedangkan di Inggris, waktu berbuka puasa hampir pukul 22.00 malam sehingga agak sulit untuk mengadakan acara berkumpul bersama. Selain waktu berbuka yang dirasa terlalu malam, orang-orang akan pulang terlalu larut malam ketika acaranya selesai.

Final Liga Champions merupakan salah satu sarana untuk mengumpulkan rekan-rekan sesama mahasiswa Indonesia di Liverpool sekaligus mengadakan acara buka puasa bersama. Dengan bermodalkan laptop, wifi kosan, dan TV milik PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia), kegiatan ini bisa mendatangkan orang-orang. Pertandingan antara Real Madrid vs Juventus tersebut dimulai pukul 19.45 waktu setempat dan akan berakhir tepat pada waktu berbuka puasa. Kebetulan pertandingan final ini disiarkan langsung secara bebas di channel Youtube oleh provider TV setempat.

Ramadan di Liverpool: Kebersamaan di Malam yang SingkatFoto: Nonton bareng final Liga Champions (Jati A Suriadikusumah)


Hidangan untuk berbuka puasa menggunakan konsep potluck yaitu masing-masing orang membawa jenis hidangan masing-masing untuk disantap bersama. Karena versi mahasiswa, hidangan yang disajikan pun adalah hidangan yang cukup praktis dan harga terjangkau.

Lapar dan dahaga pun tidak terasa dengan serunya sorak sorai saat menonton pertandingan. Seperti yang selalu terjadi di mana-mana: sepakbola mempersatukan kita.

Ramadan di Liverpool: Kebersamaan di Malam yang SingkatFoto: Hidangan berbuka puasa ala mahasiswa (Jati A Suriadikusumah)


Kegiatan ini pun berlanjut sampai pagi. Ketika sudah larut malam, sebagian peserta pulang ke tempat tinggal masing-masing. Namun ada juga yang masih bertahan untuk tarawih bersama bahkan hingga waktu sahur.

Malam yang singkat juga menjadi keuntungan tersendiri ketika merencanakan untuk memberi surprise ulang tahun kepada seorang teman pada pergantian hari. Biasanya, agak sulit untuk membuat rencana di pukul 00.00 karena sebagian orang mungkin sudah tidur sebelumnya dan perlu waktu beberapa lama untuk bisa mengumpulkan semuanya.

Namun dengan waktu malam yang singkat, kini kami hampir selalu terjaga dari sejak waktu buka puasa hingga waktu sahur. Janjian dengan orang-orang sambil membawa kue dan lilin ulang tahun bisa segera dilakukan. Tidak ada juga cerita orang yang 'belum connect' karena baru bangun tidur. Alhamdulillah, dengan sedikit drama sandiwara, kami berhasil memberikan kejutan bagi teman kami yang sedang berulang tahun

Ramadan di Liverpool: Kebersamaan di Malam yang SingkatFoto: Surprise ulang tahun kawan kami di salah satu malam bulan Ramadan (Jati A Suriadikusumah)


Ramadan tahun ini memberikan suatu pengalaman tersendiri bagi kami para mahasiswa yang sedang merantau di luar negeri, khususnya di Inggris. Malam yang singkat dan waktu puasa yang panjang tanpa sadar perlahan-lahan mengubah siklus tidur kami. Di malam hari kami bisa begadang hingga Subuh dan terbangun di waktu yang agak siang.

Di sisi lain, menjalani bulan Ramadan di perantauan juga mengingatkan akan betapa beruntungnya tinggal di Indonesia. Suasana Ramadan sangat terasa istimewa ketika di Indonesia. Durasi waktu yang cukup untuk berpuasa, cuaca yang tidak terlalu ekstrem, serta kesempatan untuk berkumpul bersama orang-orang terdekat merupakan hal-hal yang patut disyukuri ketika tinggal di Indonesia.

Selain itu, bazar takjil sebelum berbuka puasa merupakan salah satu hal yang paling dinanti ketika bulan Ramadan. Kondisi ini sangat berbeda dengan di sini di mana suasana Ramadan bisa dikatakan sama saja dengan hari-hari biasa. Merantau membuat kita semakin menghargai apa yang selama ini telah kita miliki.

*) Jati Aulia Suriadikusumah, Ketua PPI Greater Liverpool, United Kingdom; mahasiswa University of Liverpool.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).
(nwk/nwk)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed