Dituduh Jualan Ganja, Tukang Parkir Huni Bui 5 Bulan Tanpa Dosa

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 02 Jun 2017 14:51 WIB
Ilustrasi (ari/detikcom)
Jakarta - Kasus ketidakprofesionalan aparat penegak hukum kembali terungkap. Kali ini dialami oleh seorang tukang parkir di Bengkulu, Agung Setiawan (29). Bagaimana ceritanya?

Berdasarkan versi jaksa, kasus bermula saat polisi mendapatkan informasi akan adanya transaksi ganja di Jalan Danau, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu pada 2 Agustus 2014. Setelah mendapatkan hal itu, Satnarkoba Polres Bengkulu menuju lokasi. Tim yang bergerak adalah:

1. Bripka Muhdar Himawan.
2. Brikpa Asrial.
3. Brigpol Benny Mardiansyah.
4. Briptu Dodi Saputra.
5. Bripka Devi Costarika.

Sekitar pukul 19.00 WIB, datang Medi Muryadi menemui Agung. Keduanya lalu mengendarai sepeda motor menuju semak-semak yang tidak jauh dari lokasi pertama. Saat Agung berjongkok ke arah semak, polisi langsung menampakkan diri.

Polisi!!!

Teriakan ini mengejutkan Agung-Medi. Polisi lalu menggeledah Agung dan tidak ditemukan narkotika di tubuhnya. Adapun di sepeda motor yang dikendarai Medi ditemukan satu paket ganja.

Medi lalu berkicau bila ganja itu dibeli dari Agung dengan harga Rp 50 ribu. Paket ganja lainnya ditaruh di sebuah toples yang diletakan di bawah pohon dan ditutupi akar-akar ilalang.

Atas temuan itu, Agung dan Medi lalu digiring ke Mapolres Bengkulu. Sejak malam itu, Agung dan Medi harus mendekam di balik jeruji besi.

Kasus pun bergulir ke pengadilan, di mana Agung dan Medi diadili dengan berkas terpisah. Tidak tanggung-tanggung, jaksa menuntut Agung untuk dipenjara 6 tahun lamanya.

Tapi Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu meragukan rangkaian cerita dalam dakwaan tersebut. Majelis hakim menilai banyak kejanggalan sehingga PN Bengkulu membebaskan Agung pada 7 Januari 2015. Jaksa pun kaget dan langsung mengajukan kasasi hari itu juga. Tapi apa kata MA?

"Menolak permohonan kasasi jaksa," putus majelis sebagiamana dilansir website MA, Jumat (2/6/2017).


Duduk sebagai ketua majelis Artidjo Alkostar dengan anggota Andi Samsan Nganro dan Suhadi. Ketiganya meyakini Agung tidak bersalah karena Agung menyangkal perbuatannya. Ditambah, Medi mencabut keterangannya --bila Agung terlibat-- di persidangan.

"Keterangan saksi polisi dan saksi pemeriksa tidak dapat dijadikan dasar pembuktian untuk menyatakan ganja berasal dari terdakwa karena mereka tidak mengalami langsung peristiwanya. Di muka persidangan, Medi menerangkan bahwa ia membeli ganja dari Wawan seharga Rp 40 juta," ujar majelis pada 19 April 2016.

Bisa jadi Agung telah divonis bebas. Tapi apa daya, hak asasinya telah dirampas selama 5 bulan lebih atau tepatnya 155 hari lamanya. (asp/idh)