Tentang Sejarah Panjang Masjid di Serambi Mekah yang Bergaya Madinah

Agus Setyadi - detikNews
Rabu, 31 Mei 2017 17:05 WIB
Masjid Baiturrahman Banda Aceh (Agus Setyadi/detikcom)
Masjid Baiturrahman Banda Aceh (Agus Setyadi/detikcom)
Banda Aceh - Masjid Raya Baiturrahman, Aceh, kini tampil semakin cantik dengan wajah baru. Di balik keindahan itu, rumah ibadah kebanggaan masyarakat Tanah Rencong ini menyimpan segudang cerita. Di sana pulalah Jenderal Koehler, pemimpin pasukan Belanda, tewas tertembak pejuang Aceh.

Bangunan bercat putih itu berdiri megah di jantung Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Di sisi utara dan selatan, dibangun payung bergaya Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Lantainya terbuat dari marmer yang dipesan khusus dari Italia. Pembangunan lanskap dan infrastruktur ini memakan waktu sekitar dua tahun.

Setelah diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada pertengahan Mei lalu, Masjid Baiturrahman semakin dilirik wisatawan. Masjid ini, selain sebagai tempat ibadah, menjadi destinasi wisata heritage Aceh. Berbagai pembenahan dan perbaikan terus dilakukan untuk memperkuat fungsi dan eksistensinya sebagai ikon kebanggaan masyarakat Tanah Rencong.

Dibangun pada 1022 H/1612 M oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, Masjid Baiturrahman sudah beberapa kali direnovasi. Perluasan dan penambahan kubah dilakukan. Sebelum menjadi indah seperti sekarang, masjid ini punya sejarah panjang.

Ketika Belanda menyatakan perang terhadap kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873, para pejuang Tanah Rencong menjadikan masjid sebagai markas dan benteng pertahanan. Masjid itu dijadikan tempat untuk mengatur strategi dan taktik perang. Para pahlawan, seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien, mengambil andil dalam mempertahankan keberadaan Masjid Raya Baiturrahman.

Pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Johan Harmen Rudolf Koehler mendarat di pantai Aceh pada 5 April 1873. Ia membawa 3.198 tentara dan 168 perwira. Peperangan pertama meletus. Pasukan penjajah awalnya berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Pejuang Aceh tidak tinggal diam. Mereka membuat serangan balasan sehingga menyebabkan Jenderal Koehler tewas setelah tertembus peluru di dada.

"Waktu Koehler tertembak, keadaan di sekitar masjid sangat ramai. Koehler berada di tengah-tengah keramaian itu. Tiba-tiba ia tertembak di dada. Menurut sejarah, yang menembak adalah salah satu mujahidin dari Lueng Bata. Kita dengar juga penembak itu ada di atas pohon geulampang yang ada di depan masjid," kata kolektor manuskrip kuno Tarmizi Abdul Hamid saat ditemui detikcom, Rabu (31/5/2017).

Saat agresi tentara Belanda kedua pada 10 April bulan Safar 1290H/April 1873 M, yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten, Masjid Baiturrahman habis dibakar. Masyarakat Serambi Mekah marah besar ketika itu. Cut Nyak Dhien, yang memimpin pasukan, membakar semangat jihad para pejuang. Perang kembali meletus.

Berselang empat tahun kemudian, Belanda kembali membangun masjid. Pembangunan tahap kedua ini dilakukan oleh pemerintah Belanda. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Kadhi Malikul Adil pada 9 Oktober 1879. Saat itu, gubernur sipil dan militer dijabat oleh Jenderal K. van der Heijden.

"Pembangunan kembali masjid sebagai bukti tanda perdamaian antara Aceh dan Belanda," ucap pria yang akrab disapa Cek Midi ini.

Pembangunan masjid selesai dua tahun kemudian, yaitu pada 27 Desember 1881, dengan biaya F 203.000 (dua ratus tiga ribu gulden). Pemborong saat pembangunan itu adalah Lie Asie. Waktu itu, masjid hanya dibangun dengan satu kubah dan ukurannya tidak terlalu luas. Masyarakat Aceh kembali menggunakan masjid ini sebagai tempat ibadah.

Berselang beberapa tahun kemudian, renovasi dilakukan. Pada 1936, masjid diperluas dengan penambahan dua kubah. Pembangunan ini atas usaha Gubernur A Ph van Aken. Selanjutnya pada 1957, Masjid Baiturrahman kembali bersolek. Kubah ditambah menjadi 5 unit.

"Nama masjid juga diubah pada tahun 1957. Dari sebelumnya Masjid Raya Banda Aceh menjadi Masjid Raya Baiturrahman," ungkap Cek Midi.
Masjid Baiturrahman, Saksi Bisu Tewasnya Jenderal Belanda dan TsunamiFoto: Agus Setyadi/detikcom

Tak berhenti di situ, perluasan Masjid Raya Baiturrahman terus dilakukan. Pada 1991-1993, misalnya, Gubernur Aceh Ibrahim Hasan melakukan perluasan, meliputi halaman depan dan belakang serta masjid itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas meliputi bagian lantai masjid tempat salat, perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula, dan tempat wudu.

Sedangkan perluasan halaman meliputi taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret. Dengan demikian, luas ruangan dalam masjid menjadi 4.760 m2 berlantai marmer buatan Italia, dengan ukuran 60 × 120 cm, dan dapat menampung 9.000 jemaah.

Dengan perluasan tersebut, Masjid Raya Baiturrahman sekarang memiliki 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk. Sesuai dengan perkembangan, luas area Masjid Raya Baiturrahman lebih-kurang 4 hektare. Di dalamnya terdapat sebuah kolam dan menara induk.

Keberadaan Masjid Baiturrahman tak hanya menjadi saksi bisu perang Aceh melawan Belanda. Saat konflik Aceh dengan Republik Indonesia berkecamuk, masjid ini juga menjadi saksi bisu. Di sana juga pernah diadakan referendum yang digelar pada 1999. Jutaan orang berkumpul untuk menyatakan sikap ketika itu.

Kala tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004, Masjid Baiturrahman tidak mengalami kerusakan. Banyak warga memilih menyelamatkan diri di dalam masjid. Lokasi ini juga dipilih sebagai tempat evakuasi jenazah korban tsunami yang bergelimpangan.

"Masjid Baiturrahman ini bisa dibilang saksi bisu perjalanan sejarah Aceh," kata pria yang mengoleksi hampir 500 manuskrip kuno tersebut.

Pada 28 Juli 2015, Gubernur Aceh Zaini Abdullah membangun lanskap dan infrastruktur masjid yang ditandai dengan groundbreaking pemancang tiang pancang pertama. Proyek tahap pertama senilai Rp 458 miliar ini untuk membangun 12 unit payung elektrik dan basement sebagai lokasi parkir mobil dan sepeda motor. Dalam perencanaannya, area parkir bawah tanah ini bisa menampung 254 mobil dan 343 sepeda motor.

Basement itu juga dilengkapi tempat wudu serta toilet pria dan wanita. Semua bahannya terbuat dari batu marmer Italia atau Spanyol. Pemerintah Aceh memang mempermak lanskap ini sehingga mirip dengan Masjid Nabawi.

Sedangkan untuk bagian atas, pada pinggiran halaman ditanam 33 pohon kurma dan satu pohon geulumpang. Sedangkan di tengah halaman, dibangun kawasan hijau dengan cara menanam rumput hijau dan berbagai jenis bunga warna-warni.

Pembangunan infrastruktur ini juga ramah disabilitas. Dari basement menuju plaza atau pekarangan, terdapat beberapa lift. Wisatawan yang berkunjung ke sana dapat menikmati keindahan Masjid Baiturrahman dari berbagai sudut.

Menurut Zaini, Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid bersejarah yang menjadi ikon bagi Aceh sekaligus sebagai simbol peradaban Islam di Tanah Rencong dalam menjalankan misi perjuangan dan penyebaran Islam di Tanah Air. Saat tsunami melanda Aceh pada 2004, masjid ini juga menjadi saksi sejarah tempat rakyat menyelamatkan diri.

"Dengan latar belakang sejarah itu, wajar kalau keberadaan masjid ini mengundang banyak perhatian masyarakat Indonesia dan internasional, yang ingin mengetahui sejarah peradaban Islam di Aceh maupun perkembangan Islam di Nusantara," kata Zaini dalam sambutannya saat peresmian Masjid Baiturrahman, Sabtu (13/5/2015).

"Predikat itu tentunya menjadi landasan bagi kita untuk memperkuat keberadaan masjid ini bagi pengembangan peradaban Islam di masa depan," tutur Zaini.

Saat ini, Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya sebagai tempat melaksanakan ibadah dan salat, tapi juga menjadi salah satu destinasi wisata heritage Aceh. Berbagai pembenahan dan perbaikan terus dilakukan untuk memperkuat fungsi dan eksistensinya sebagai ikon kebanggaan masyarakat Tanah Rencong.

Adanya payung tersebut dapat menambah daya tampung jemaah yang semula 9.000 orang di dalam masjid menjadi 24.400 jemaah di dalam dan di luar masjid. "Payung ini secara desain mengikuti payung-payung yang ada di Masjid Nabawi Madinah, dengan maksud untuk menambah keindahan masjid, juga sebagai sarana untuk kenyamanan beribadah para jemaah," ungkap mantan Menteri Kesehatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersebut.
Masjid Baiturrahman, Saksi Bisu Tewasnya Jenderal Belanda dan TsunamiFoto: Agus Setyadi/detikcom

Saat meresmikan masjid, Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat memuji keindahan masjid kebanggaan warga Aceh tersebut. "Masjid Raya Baiturrahman di Serambi Mekah dengan gaya Madinah (Masjid Nabawi). Jadi lengkap," kata Wapres JK dalam sambutannya.

Wapres JK mengimbau masyarakat tidak hanya terpana oleh keindahan Masjid Baiturrahman, tapi juga harus memakmurkannya, dalam arti, semakin ramai masyarakat yang beribadah di masjid ala Nabawi tersebut.

"Tentu barulah lengkap apabila kemakmuran masjid ini sejalan dengan keindahannya," ucap JK.

Menurut Wapres, selain sebagai tempat salat dan ibadah, masjid bisa dipergunakan untuk memperdalam ilmu agama. Pada zaman Rasulullah, kata JK, masjid juga digunakan untuk semua aspek kemasyarakatan, termasuk tempat permusyawaratan, perundingan, dan mengambil strategi.

"Begitu juga dengan Masjid Baiturrahman," ujar JK.

Peresmian lanskap dan infrastruktur yang dilakukan JK baru pada tahap pertama. Pemerintah Aceh berencana kembali melakukan pembangunan untuk tahap kedua dan ketiga. Setelah selesai nanti, keberadaan masjid ini bisa dijadikan tempat belajar tentang Islam.

"Bagi wisatawan yang ingin belajar tentang Islam atau ingin menikmati keindahan masjid dan Kota Banda Aceh, bisa menginap di guest house itu dan semua unit itu dikelola dengan sistem manajemen Islam," ungkap Zaini.

Keindahan Masjid Raya Baiturahman memang sudah mendunia. Pada akhir 2016, masjid ini meraih predikat World's Best Halal Cultural Destination dalam acara World Halal Tourism Award (WHAT) yang digelar di Abu Dhabi. Predikat itu membuat pemerintah Aceh semakin meningkatkan sarana dan prasarana masjid.

"Prestasi ini tentu menuntut kita untuk bekerja lebih keras lagi, meningkatkan kualitas sarana dan prasarana di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman," kata Zaini.

Bagi Cek Midi, masjid raya ini merupakan situs sejarah yang harus dilindungi, dirawat, dan dijaga. Keberadaan masjid yang dirancang dengan arsitektur timur tengah ini menjadi suatu yang sakral dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Aceh.
Masjid Baiturrahman, Saksi Bisu Tewasnya Jenderal Belanda dan TsunamiFoto: Agus Setyadi/detikcom

Selain itu, keberadaan masjid ini menjadi ikon Bumi Serambi Mekah. Karena itu, ada seloroh yang menyebutkan belum sah menginjak kaki di Aceh jika belum berkunjung ke Masjid Baiturrahman. Para wisatawan yang berkunjung ke masjid itu kini tidak lupa mengabadikannya dengan berswafoto (selfie).

"Setelah direnovasi sekarang, orang Aceh sendiri harus bertanggung jawab. Tidak hanya megah saja masjid ini, tapi harus memakmurkan. Harus beribadah di sana. Masjid Baiturrahman menjadi masjid yang paling masyhur di Aceh," ungkap Cek Midi. (trw/trw)