Tentang Sejarah Panjang Masjid di Serambi Mekah yang Bergaya Madinah

Agus Setyadi - detikNews
Rabu, 31 Mei 2017 17:05 WIB
Masjid Baiturrahman Banda Aceh (Agus Setyadi/detikcom)
Masjid Baiturrahman Banda Aceh (Agus Setyadi/detikcom)

Saat agresi tentara Belanda kedua pada 10 April bulan Safar 1290H/April 1873 M, yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten, Masjid Baiturrahman habis dibakar. Masyarakat Serambi Mekah marah besar ketika itu. Cut Nyak Dhien, yang memimpin pasukan, membakar semangat jihad para pejuang. Perang kembali meletus.

Berselang empat tahun kemudian, Belanda kembali membangun masjid. Pembangunan tahap kedua ini dilakukan oleh pemerintah Belanda. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Kadhi Malikul Adil pada 9 Oktober 1879. Saat itu, gubernur sipil dan militer dijabat oleh Jenderal K. van der Heijden.

"Pembangunan kembali masjid sebagai bukti tanda perdamaian antara Aceh dan Belanda," ucap pria yang akrab disapa Cek Midi ini.

Pembangunan masjid selesai dua tahun kemudian, yaitu pada 27 Desember 1881, dengan biaya F 203.000 (dua ratus tiga ribu gulden). Pemborong saat pembangunan itu adalah Lie Asie. Waktu itu, masjid hanya dibangun dengan satu kubah dan ukurannya tidak terlalu luas. Masyarakat Aceh kembali menggunakan masjid ini sebagai tempat ibadah.

Berselang beberapa tahun kemudian, renovasi dilakukan. Pada 1936, masjid diperluas dengan penambahan dua kubah. Pembangunan ini atas usaha Gubernur A Ph van Aken. Selanjutnya pada 1957, Masjid Baiturrahman kembali bersolek. Kubah ditambah menjadi 5 unit.

"Nama masjid juga diubah pada tahun 1957. Dari sebelumnya Masjid Raya Banda Aceh menjadi Masjid Raya Baiturrahman," ungkap Cek Midi.
Masjid Baiturrahman, Saksi Bisu Tewasnya Jenderal Belanda dan TsunamiFoto: Agus Setyadi/detikcom

Tak berhenti di situ, perluasan Masjid Raya Baiturrahman terus dilakukan. Pada 1991-1993, misalnya, Gubernur Aceh Ibrahim Hasan melakukan perluasan, meliputi halaman depan dan belakang serta masjid itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas meliputi bagian lantai masjid tempat salat, perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula, dan tempat wudu.

Sedangkan perluasan halaman meliputi taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret. Dengan demikian, luas ruangan dalam masjid menjadi 4.760 m2 berlantai marmer buatan Italia, dengan ukuran 60 × 120 cm, dan dapat menampung 9.000 jemaah.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5