DetikNews
Selasa 23 Mei 2017, 18:28 WIB

Tjahjo: Pemerintah Belum Keluarkan Telegram Larangan Kegiatan HTI

Andhika Prasetia - detikNews
Tjahjo: Pemerintah Belum Keluarkan Telegram Larangan Kegiatan HTI Foto: Andhika/detikcom
Jakarta - Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto menyebut ada telegram yang melarang kegiatan ormasnya. Menurutnya, telegram tersebut menyalahi ketentuan yang ada karena HTI adalah organisasi legal.

Menanggapi hal tersebut, Mendagri Tjahjo Kumolo mengatakan pemerintah belum mengeluarkan telegram larangan kegiatan HTI. Saat ini pemerintah sedang membahas upaya pembubaran di Kemenko Polhukam.

"Belum, belum, belum. Lagi dibahas di Polhukam," ujar Tjahjo di kompleks parlemen, Senayan, Jakpus, Selasa (23/5/2017).

Tjahjo enggan menanggapi lebih jauh apakah pihak yang mengeluarkan telegram adalah Kemenko Polhukam. "Cek dulu, HTI kamu tanya dulu," ucapnya.

"Ya kami belum. Pemerintah itu satu ya, siapa yang mengeluarkan ya cek saja. Kalau ada, ya dari mana?" tambahnya.

Ia juga mengimbau kepada kepolisian supaya lebih berhati-hati memberi izin kepada ormas yang akan menggelar kegiatan. Jangan sampai ada kegiatan ormas yang bersifat terselubung untuk menggoyahkan NKRI.

"Izin kegiatan lewat kepolisian, Gafatar izinnya bakti sosial, tahu-tahu terselubung. Berdasarkan pengalaman Gafatar, hati-hati, izin harus clear dulu. Yang mengeluarkan izin siapa? Kepolisian," tuturnya.

Sebelumnya, HTI menyebut ada telegram yang melarang kegiatan ormasnya. Ismail mengatakan siapa pun tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak didasari hukum karena HTI berstatus ormas legal.

"Kita mendapatkan kiriman, yang di dalam poinnya itu dikatakan melarang segala bentuk kegiatan dan aktivitas HTI di segala Republik Indonesia," kata Ismail dalam konferensi pers di kantor Ihza & Ihza Lawfirm, 88 Kasablanka Office Tower, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (23/5).

"Nah, pelarangan yang tertuang dalam telegram ini menyalahi ketentuan yang ada. HTI masih organisasi berstatus legal," lanjut Ismail sambil mengangkat sebuah kertas. Namun sayangnya, Ismail tak menunjukkan telegram itu kepada media.
(dkp/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed