DetikNews
Rabu 03 Mei 2017, 19:23 WIB

Siti Fadilah Debat dengan Saksi, dari Perkenalan hingga Investasi

Aditya Mardiastuti - detikNews
Siti Fadilah Debat dengan Saksi, dari Perkenalan hingga Investasi Siti Fadilah Supari (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Eks Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari berdebat dengan saksi Jefri Nedi dalam sidang dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) dalam penanganan wabah flu burung di Kemenkes.

Perdebatan dimulai dari perkenalan Siti hingga soal investasi dengan komisaris PT Sammara Mutiara Indonesia itu.

"Saya heran keterangan Anda berubah, padahal nama saya di situ catut. Perkenalan Anda dengan saya masak lupa, yang tadi Anda bilang Askeskin 2008 itu salah. (Askeskin) cuma sampai 2007. Jadi pertama kali saya lihat Anda, melihat wajah Anda, dengan Pak Sekjen masuk ke ruangan saya," kata Siti dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2017).

Mendengar pernyataan Siti, Jefri mencoba meluruskan. Jefri menyebut saat itu dirinya tidak menawarkan Askeskin, melainkan Jamkesmas.

"Mohon maaf Ibu, saya bukan Askeskin, tapi Jamkesmas," ujar Jefri.

Siti berkeras bahwa Jefri lebih dulu mengenal Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Sjafii Ahmad. Siti juga masih bertahan dengan keterangannya soal Jefri menawarinya program Askeskin.

"Askeskin dan Anda meminta pertimbangan Ibu. Bagaimana kalau kita pindah ke Bank BNI. Anda bawa nama Direktur Bank BNI waktu itu," ujar Siti.

"Mungkin Ibu salah, yang kenal Pak Sekjen itu, saya kenal duluan sama Ibu, baru Pak Sekjen. Mungkin saya waktu itu BRI, " ucap Jefri.

Siti tetap bertahan dengan keterangannya soal Jefri menawarkan Askeskin melalui Bank BNI pada 2006. Jefri juga terus menjelaskan bahwa yang dia tawarkan melalui sistem BRI dan mungkin Siti salah orang.

"Bukan BNI, tapi BRI Bu, karena BRI ini saya kan sistem IT yang saya tawarkan bagaimana di sistem itu bisa mendistribusikan dana-dana masyarakat dan BRI benar-benar punya sistem dan kekuatan IT untuk itu. Mungkin Ibu sama yang lain. Sama saya tidak," kata Jefri.

"Saya ingat banget, kemudian Jamkesmas memang menawarkan seperti kartu kredit 2007-2008. Saya ingat dan itu pun tidak terealisasi tidak setuju. Anda menginspirasi saya bahaya banget kalau dana bisa dititipkan ke bank," ujar Siti.

"Tidak Bu. Mohon maaf bukan saya. Saya IT, sebagian yang saya tawarkan Jamkesmas itu," kata Jefri.

Siti kemudian menyinggung soal kedatangan Jefri ke rumahnya untuk menawarkan investasi. Dari keterangan Siti, Jefri menawarkan investasi karena mengatakan Sjafii sudah mempercayakan uangnya untuk diinvestasikan dengan perusahaannya.

Sedangkan dari sisi Jefri, dia lebih dulu mengenal Siti dibanding Sjafii. Bahkan Jefri mengaku sudah datang ke rumah dinas untuk membahas investasi Siti.

"Saya mengenal Pak Sekjen sekitar tahun 2008. Kenal Ibu (Siti) akhir 2007. Waktu itu ke rumah," ucap Jefri.

"Eits salah! Waktu itu Anda menerangkan soal saham. Makanya saya telepon. Saya berani sumpah demi Allah. Waktu beliau ke rumah sudah lebih dulu kenal dengan Pak Sekjen. Saya kenal beliau dari Pak Sekjen. Nggak mungkin dia ujug-ujug dateng ke rumah," tutur Siti.

Saksi lain yang juga ipar Siti, Priyadi, mengatakan saat itu dia ditelepon Siti karena diajak membahas masalah investasi. Saat Priyadi datang, dia melihat Jefri sudah di rumah dinas Siti.

"Seingat saya waktu itu di rumah, telepon Ibu ada saham. Waktu itu sudah di rumah," katanya.

Sedangkan Jefri masih yakin bahwa dia mengenal Siti karena dikenalkan Priyadi untuk menerangkan soal investasi. Ketua majelis hakim Ibnu Basuki menengahi dan bertanya kepada Priyadi.

"Menurut Pak Pri nggak ngajak?" tanya Ibnu.

"Saya datang ke rumah dinas Ibu, dengan Pak Sekjen, Pak Jefri," jawab Priyadi, yang mengaku mengenal Jefri dari Siti.

Perdebatan Siti itu terus berlanjut hingga membahas investasi sawit. Siti mengaku tidak pernah menyetorkan uangnya dan mendapatkan keuntungan dari investasi tersebut.

"Saya kaget lihat angkanya, lho kok saya kaya. Sampai detik ini kalau itu uang saya kok nggak pernah kembali ke saya," ujar Siti meninggi.

"Dokumennya ada, bukti transfernya ada di BAP, barang bukti ada di jaksa," jawab Jefri enteng.

Jefri mengaku punya bukti dokumen dan catatan kapan uang tersebut diambil. Jefri menyebut uang itu dicairkan dengan perintah adik terdakwa dan istri Priyadi, Rosdiyah Endang Pujiastuti.

"Dikembalikan ke beberapa kali dan nomor rekeningnya saya lupa, atas perintah Bu Rosdiyah dan Pak Priyadi. Ada buktinya di kita, masing-masing ada tanggalnya, ada waktunya. Semua tercatat dan ada buktinya," ujar Jefri.

Belakangan, Priyadi mengaku mendapat mandat dari istrinya untuk mengambil uang. Priyadi menyebut istrinya mengambil uang atas perintah Siti.

"Yang suruh ngambil perintah istri saya. Tapi konfirmasi ke istri, saya kurang tahu," kata Priyadi.

Jaksa KPK kemudian bereaksi atas jawaban Priyadi. Jaksa menegaskan kembali atas perintah siapa Priyadi mencairkan uang yang disebut investasi itu.

"Kesaksiannya berubah. Tadi Anda bilang berapi-api bilang perintah istri saya. BAP Anda ini, 'Adapun semua yang saya dan istri saya lakukan semata-mata atas perintah Bu Siti', betul?" tanya jaksa.

"Iya," ujar Priyadi.

Atas pernyataan itu, Siti mengajukan keberatan. Dia mengatakan tidak tahu-menahu soal uang investasi dan menyebut uang yang dititipkan ke Rosdiyah diminta untuk kebutuhan sehari-hari.

"Keberatan, saya tidak tahu seolah-olah saya titipkan uang dianggap itu perintah saya tidak terima. Saya membutuhkan uang cash untuk bulan-bulan ke depan. Tolong bilang ke Jefri," ujar Siti.

"Jadi yang Saudara titipkan ke Rosdiyah itu TC atau cash? " tanya majelis hakim.

"Untuk kebutuhan sehari-hari, itu uang cash," jawab Siti.
(ams/fdn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed